kisah

Revolusi Saudi

Takut terjadi huru hara, pihak keamanan mengubur jenazah Abdurrahim di Tabuk dan hanya boleh dihadiri segelintir orang.

22 April 2020 12:38

Api revolusi itu menyala pekan lalu. Bukan di ibu kota Riyadh, jantung penguasa Arab Saudi, tempat Raja Salman bin Abdul Aziz dan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman memiliki istana.

Perlawanan ini muncul dari Al-Khuraibah, desa berjarak sekitar 1.043 kilometer atau sepuluh jam perjalanan dengan mobil dari Riyadh. Namun desa di Provinsi Tabuk itu masuk dalam proyek Neom, kota impian Bin Salman berlokasi di tepi Laut Merah senilai US$ 500 miliar.

Raja Salman dan anak kesayangannya itu sudah mantap dengan proyek ambisius ini. Keduanya telah membangun istana megah di bakal wilayah Neom, digadang menjadi kota pintar sekaligus tujuan pelesiran kelas wahid dunia. Raja Salman pun sudah berlibur di istananya di Neom musim panas dua tahun lalu.

Sila baca: Raja Salman berlibur di kota raksasa Neom

Sehingga dia tidak perlu jauh-jauh ke Vallauris, selatan Prancis, dan malah dipermalukan pada Juli 2017, lantaran menutup pantai umum ketika sedang asyik rehat di sana.

Sila baca: Raja Salman datang, warga Vallauris berang

Khuraibah bukan sembarang tempat. Desa ini dihuni suku Huwaitat dikenal jago bertempur. Ketika terjadi Revolusi Arab terhadap kekuasaan Kekhalifahan Usmaniyah di masa Perang Dunia Pertama, suku Huwaitat terbelah. Bani Abu Tayi memilih mendukung Pangeran Faisal bin Husain dari kerajaan Transyordania dibantu Kolonel T.E. Lawrence asal Inggris untuk memisahkan diri dari Kekhaifahan Usmaniyah. Sedangkan Bani Ibnu Jazi memilih tetap bersama Kekhalifahan Usmaniyah.

Suku Huwaitat adalah Arab Badui hidup berpindah-pindah. Mereka tersebar mulai dari gurun daerah padang pasir di Arab Saudi hingga Yordania dan Palestina. Orang-orang Huwaitat merupakan sumber utama mengisi pasukan Garda Nasional Arab Saudi dan Angkatan Darat Yordania.

Adalah Abdurrahim Ahmad Mahmud al-Huwaiti, lelaki dari Suku Huwaitat tinggal di Desa Al-Khuraibah, melecut perlawanan terhadap Bin Salman. Sarjana Geofisika lulusan Universitas Raja Saud ini tewas pekan lalu ditembaki pasukan keamanan Saudi karena dia menolak rumahnya digusur untuk proyek Kota Neom (kependekan dari Neo Mustaqbal: Harapan Baru).

Sebelum menemui ajal, Abdurrahim merekam kesaksian mengenai alasan penolakannya terhadap proyek Neom itu. "Tentu saja semua orang menolak dipindahkan tapi cara dipakai oleh negara bisa disebut sebagai terorisme negara," katanya seperti dilansir the Daily Mail dan the Telegraph. "Mereka menangkap siapa saja menolak dipindahkan."

Dia menegaskan menolak dipindahkan ke tempat lain. Dia tidak mau menerima uang kompensasi dan hanya ingin tinggal di rumahnya.

"Saya tidak akan terkejut kalau mereka (pasukan keamanan) datang untuk membunuh saya di dalam rumah saya dan meletakkan senjata di samping saya dengan tuduhan saya teroris," ujar Abdurrahim.

Takut terjadi huru hara, pihak keamanan mengubur jenazah Abdurrahim di Tabuk dan hanya boleh dihadiri segelintir orang. Padahal ibu dan saudara-saudara kandung lelakinya ingin supaya jasadnya dikubur di Al-Khuraibah, dekat pusara ayahnya.

Para aktivis hak asasi manusia Saudi di luar negeri menyebut Abdurrahim sebagai syuhada karena mati membela kebenaran.

Abdurrahim menjadi korban kesekian dari ambisi Bin Salman mempertahankan kuasa dan citranya. Awal Oktober 2018, kolumnis surat kabar the Washington Post, Jamal Khashoggi, dihabisi di dalam kantor Konsulat Saudi di Kota Istanbul, Turki. Mayatnya dimutilasi dan hingga kini tidak diketahui di mana potongan tubuhnya dibuang. Khashoggi dilenyapkan lantaran lantang bersuara lantang menentang kebijakan-kebijakan Bin Salman.

Penolakan Abdurrahim dan pergolakan dari Suku Al-Huwaitat menjadi bukti perlawanan terhadap Bin Salman bukan sekadar isapan jempol. Penangkapan lusinan ulama, wartawan, aktivis, pangeran, dan pengusaha dianggap membangkang tidak mematikan semangat untuk melawan Bin Salman.

Bin Salman seolah lupa atau tidak tahu sejarah. Suku Huwaitat sukses membantu Pangeran faisal bin Husain mengusir militer Usmaniyah dari sebagian besar wilayah Hijaz dan Transyordania. Mereka juga berhasil merebut Damaskus dan sempat mendirikan sebuah kerajaan dipimpin Pangeran Faisal bin Husain walau cuma sebentar.

Revolusi Saudi sejatinya sudah dimulai sedari Raja Salman naik takhta dan Bin Salman masuk ke jalur menuju singgasana. Perlawanan datang mulai dari dalam istana hingga kalangan rakyat jelata, termasuk Abdurrahim dan orang-orang Huwaitat.

Di luar negeri bahkan sudah ada yang mendirikan gerakan buat menggulingkan rezim Bani Saud. Api revolusi sudah tersulut di Saudi.

Sila baca:

We will remove Al Saud regime

The Saudi monarchy must be toppled to improve the situation of human rights there

 

 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Al-Arabiya)

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.

Syekh Salman al-Audah, ulama tersohor Arab Saudi ditahan sejak 10 September 2017 tanpa proses hukum jelas. (Twitter/Prisoners of Conscience)

Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman

Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Dua pilihan Bin Salman dalam suksesi Saudi

Konflik internal dalam keluarga kerajaan serta kian rentanya umur memburuknya kesehatan Raja Salman membikin Bin Salman berpacu dengan waktu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Diplomasi Bintang Daud di negara Kabah

Rabbi Yaakov dari Israel pelesiran di Riyadh tanpa rasa cemas.

22 Oktober 2021
Korupnya rezim Abbas
22 September 2021

TERSOHOR