kisah

Salah urus Bin Salman dan kebangkrutan ekonomi Saudi

Propek Saudi menjadi negara pengutang murni bukan khayalan. Pertanyaannya, seberapa cepat hal itu akan terjadi.

29 April 2020 08:14

Hampir tiga tahun berjalan sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota sekalgus pemimpin de facto Arab Saudi. Salah urus negara, kebijakan blunder, dan perang selalu dikaitkan dengan anak kesayangan Raja Salman bin Abdul Aziz itu.

Paling terbaru, ketika dia marah-marah ketika menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu menjelang pertemuan OPEC (Organisasi negara-negara pengekspor Minyak) dan produsen minyak non-OPEC. Akibatnya, perang harga minyak terjadi antara Saudi dan Rusia.

Negara Kabah itu memberi diskon gede-gedean bagi semua konsumennya di seluruh dunia. Bahkan bulan ini Saudi membanjiri pasar minyak dengan produksi 12,3 juta barel sehari.

Bin Salman akhirnya melihat kekeliruan dia buat. Harga minyak dunia terjun bebas. Minyak Brent dipatok di bawah US$ 20 per barel. Permintaan akan emas hitam ini melorot gegaran pandemi virus corona Covid-19 juga menyerbu Saudi. Hingga kemarin, terdapat 20.077 penderita virus itu di Saudi, termasuk 152 orang menemui ajal.

Kesepakatan antara OPEC dipimpin Saudi dan produsen non-OPEC dikomandoi Rusia bulan ini tidak mampu mengerek harga minyak mentah global. Padahal minyak dan gas menyumbang hampir 50 persen produk domestik bruto dan 70 persen dari total ekspor Saudi.

Sekali lagi, kemungkinan besar Bin Salman mendapat arahan dari mentornya, Jared Kushner, mantu dari Presiden Donald Trump sekaligus penasihat Amerika urusan Timur Tengah.

Karena itulah, reaksi Trump menyambut baik anjloknya harga minyak. Dia berpikir penurunan tiap satu sen harga minyak dapat mendorong US$ 1 miliar konsumsi masyarakat Amerika. Kesadarannya berubah setelah dia melihat harga minyak Amerika jatuh di bawha nol dan mengancam industri minyak negara adikuasa itu.

Dengan harga minyak mentah Brent di bawah US$ 20 tiap barel, Bin Salman menyadari apa yang akan terjadi ketika dunia tidak lagi membutuhkan minyak Saudi. Dulu respon global baal menyerah tapi tidak sekarang ini. Prospek Saudi menjadi negara pengutang bukan khayalan.

Cadangan devisa negeri Dua Kota Suci itu terus turun. Ketika Raja Salman naik takhta pada 23 Januari 2015, menggantikan mendiang Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Saudi mempunyai cadangan devisa sebanyak US$ 732 miliar. Menurut bank sentral Arab saudi, the Saudi Arabian Monetary Authority (SAMA), hingga Desember tahun lalu, cadangan devisa Saudi sebesar US$ 499 miliar, hilang US$ 233 miliar dalam empat tahun.

Bank Dunia menyebutkan pendapatan per kapita warga Saudi juga berkurang, dari US$ 25.243 pada 2012 menjadi US$ 23.338 di 2018. IMF (Dana Moneter Internasional) menghitung utang bersih Saudi tahun ini mencapai 19 persen dari produk dmestik bruto, 27 persen tahun depan, dan dengan pandemi Covid-19 bisa menyentuh 50 persen pada 2022.

Perang di Yaman, kudeta di Mesir, dan campur tangan di beragam konflik di dunia Arab, pembelian senjata besar-besaran dari Amerika, proyek ambisius seperti Kota Neom, turut berperan dalam menguyras devisa Saudi.

Pertumbuhan ekonomi Saudi sudah terseok sebelum diserbu Covid-19, yakni 0,3 persen. Pembatalan umrah dan kemungkinan besar haji mampu menggaet sampai sepuluh juta jamaah saban tahun membikin Saudi kehilangan pendapatan US$ 8 miliar.

Ini bukan sekadar soal bagaimana Bin Salman menggunakan uang negara tapi juga di mana dia menginvestasikan dana itu. Salah satu indikasi buruknya investasi dilakoni Saudi adalah penurunan nilai aset lembaga dana investasi negara Saudi, Public Investment Fund (PIF).

PIF beradad di posisi kesebelas di tingkat global, di bawah Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Kuwait Investment Authority (KIA), dan Qatar Investment Authority (QIA). PIF mempunyai nilai aset US$ 320 miliar. Sedangkan ADIA 1.213 triliun, KIA 522 miliar, dan QIA 328 miliar.

Meski Saudi berupaya meningkat aset PIF menjadi US$ 1 triliun, namun menurut IMF, hal itu tidak mampu menggantikan pensapatan Saudi sebelum era pasca minyak. Dengan produksi minyak 10 juta barel sehari dan harga US$ 65 per barel hanya mampu memberikan pendapatan US$ 11 ribu untuk tiap warga Saudi saat ini.

Bin Salman juga salah hitung dalam berinvestasi. Masayoshi Son, CEO Softbank, bercerita bagaimana bagaimana dia bisa mendapat suntikan dana US$ 45 miliar hanya bertemu 45 menit dengan Bin Salman untuk membentuk Vision Fund senilai US$ 100 miliar.

"US$ 1 miliar per menit," kata Son. Dua pekan lalu Sonftbank mengumumkan Vision Fund mungkin bakal rugi US$ 16,5 miliar.

PIF membayar hampir US$ 49 buat tiap lembar saham di Uber Technologies Inc. pada 2017. Saham Uber tenggelam sejak saat itu. PIF menjual hampir semua sahamnya senilai US$ 2 miliar di Tesla di akhir tahun lalu, tidak lama sebelum saham Tesla meroket sampai 80 persen tahun ini. PIF kembali berjudi dengan rencana memborong 80 persen saham klub Liga Primer Inggris, New Castle United.

Harga minyak dunia rontok kurang dari dua pekan setelah PIF menggelontorkan US$ 1 miliar buat membelia saham di empat perusahaan minyak Eropa dan jaringan kapal pesiar Carnival. "Saya tidak memahami kenapa PIF berinvestasi seperti mereka laukan sekarang padahal negaranya akan membutuhkan dana," ujar seorang bankir Timur Tengah kepada the Financial Times.

Dia mencontohkan perilaku PIF mirip QIA di tahun-tahun awal pembentukan. "Mereka ingin visibilitas tinggi sekaligus menghasilkan fulus," tuturnya. "Mereka ingin diversifikasi ekonomi namun juga bersikap oportunis."

Kesulitan duit dialami Saudi terlihat dari bagaimana Saudi menangani Cvid-19. Negara ini cuma menggelontorkan satu persen dari produk domestik brutonya. Sedangkan Qatar menggunakan 5,5 persen, Bahrain 3,9 persen, dan Uni Emirat Arab 1,8 persen.

Ada banyak contoh kalau Saudi mulai kehabisan duit. Pengambialihan hotel oleh Kementerian kesehatan untuk dijadikan rumah sakit dan tempat karantina bagi penderita Covid-19 tidak disertai pemberian kompensasi kepada pemilik. Mereka bahkan dipaksa membayar ongkos disinfeksi tiap ruangan dalam hotel mereka.

Dokter-dokter Mesir bekerja di rumah sakit swasta tidak dibayar gajinya. mereka dipaksa memilih cuti atau bekerja tanpa bayaran.

Prospek Saudi menjadi negara pengutang itu nyata. Pertanyaannya seberapa cepat hal itu bakal terjadi.

IMF memprediksi dengan harga minyak US$ 50-55 per barel, cadangan devisa Saudi akan tergerus sampai lima bulan di 2024.

Banyak orang akan kegirangan dengan kebangkrutan ekonomi Saudi namun selama berpuluh-puluh tahun ekonomi Saudi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di dunia Arab. Kejatuhannya bakal segera terasa di Mesir, Sudan, Yordania, Libanon, Suriah, dan Tunisia. Semua negara ini mengirim jutaan buruh migran dan profesional ke Saudi. Pertumbuhan ekonomi mereka sangat bergantung pada remiten para buruh migran itu.

Kalau kebangkrutan ekonomi Saudi menjadi kenyataan, Bin Salman bisa kehilangan kuasa. Itulah kenapa sekarang ini kita melihat ada paradoks di Saudi: liberalisasi ekonomi di satu sisi dan pembungkaman kritik di bagian lain.

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Bin Salman sudah dua kali bertemu Netanyahu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Dua pilihan Bin Salman dalam suksesi Saudi

Konflik internal dalam keluarga kerajaan serta kian rentanya umur memburuknya kesehatan Raja Salman membikin Bin Salman berpacu dengan waktu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

23 November 2020

TERSOHOR