kisah

Kilau Neom petaka Huwaitat

Paling sedikit akan ada 20 ribu orang dari suku Huwaitat bakal terusir dari kampung halaman mereka tanpa ada informasi di mana mereka bakal diberi lahan pengganti.

08 Mei 2020 07:27

Beginilah sesumbar Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman diterjemahkan melalui situs resmi proyek kota pintar raksasa bernama Neom. "Masa depan itu adalah sebuah tempat tinggal baru. Berada di wilayah belum terjamah dan memiliki banyak kemolekan. Di sana akan hadir manusia lebih baik, masyarakat lebih baik."

Proyek ambisius Bin Salman ini mengambil nama dari dua bahasa: Neo (dalam bahasa Yunani berarti baru) dan Mustaqbal (dalam bahasa Arab berarti masa depan atau harapan). Kota seluas Belgia itu akan membentang di sepanjang kawasan tepi Laut Merah.

Banyak janji manis ingin diwujudkan di Neom. Berdasarkan dokumen-dokumen strategi proyek Neom bocor tahun lalu, kota itu akan dilengkapi sebuah bulan buatan berukuran raksasa, pantai-pantai menawan berkilau ditimpa cahaya rembulan dan lampu, taksi terbang siap mengantar para penghuni pelesiran, robot-robot pembersih rumah, dan taman Jurrasic Park berisi kadal-kadal raksasa animatronik.

Padahal tidak sesuai kenyataan. Lahan bakal menjadi Kota Neom bukan daerah perawan atau tidak berpenghuni dan tak pernah dijamah. Sebagian dari lokasi proyek Neom di Provinsi Tabuk ini adalah tanah leluhur suku Huwaitat, telah hidup ratusan tahun tersebar mulai Arab Saudi, Yordania, hingga Semenanjung Sinai di Mesir, jauh sebelum Arab Saudi dibentuk pada 1932.

Paling sedikit akan ada 20 ribu orang dari suku Huwaitat bakal terusir dari kampung halaman mereka tanpa ada informasi di mana mereka bakal diberi lahan pengganti.

"Bagi suku Huwaitat, Neom dibangun di atas darah dan tulang kami," kata Alia Hayal Abutiyah al-Huwaiti, aktivis sekaligus orang Huwaitat tinggal di Ibu Kota London, Inggris. "Kota itu tentu saja bukan untuk orang-orang asli sudah tinggal di sana. Neom buat pelancong, kaum berduit."

Darah suku Huwaitat memang sudah tumpah di lokasi proyek Kota Neom. Pada 13 April lalu, pasukan keamanan Arab Saudi Abdurrahim Ahmad Mahmud al-Huwaiti karena menolak mengosongkan rumahnya bakal digusur untuk pembangunan Kota Neom. Dia merekam semua ketegangan ketika pasukan keamanan mendatangi tempat tinggalnya di Desa Al-Khuraibah.

Sila baca: Arab Saudi bunuh warganya karena tolak proyek kota impian Bin Salman

Dalam salah satu rekaman videonya, Abdurrahim al-Huwaiti bilang, "Saya tidak akan kaget kalau mereka datang untuk membunuh saya di dalam rumah saya sekarang, kemudian mereka meletakkan sebuah senjata di sebelah mayat saya."

Melalui keterangan tertulis, pihak berwenang Saudi mengklaim Abdurrahim al-Huwaiti tewas dalam baku tembak. Dia sempat melukai dua anggota pasukan keamanan. Selain membunuh Abdurrahim al-Huwaiti, di hari sama pasukan keamanan Saudi juga menangkap delapan anggota suku Huwaitat.

Para pendukungnya dan beragam kelompok hak asasi manusia menyebut penembakan terhadap Abdurrahim al-Huwaiti sebagai pembunuhan di luar hukum. Korban akhirnya mendapat julukan syuhada Neom.

"Mereka membunuh dia sebagai sebuah contoh, siapa saja berani buka mulut menolak akan mendapat perlakuan sama," ujar Alia al-Huwaiti.

Bagi Alia al-Huwaiti, pembunuhan terhadap Abdurrahim al-Huwaiti dan penggusuran tempat tinggal suku Huwaitat menunjukkan Bin Salman tidak peduli terhadap masyarakat kesukuan.

Tim hubungan masyarakat untuk Neom dan perusahaan konsultan Teneo, disewa pemerintah Saudi sebesar US$ 2 juta sedari tahun lalu, tidak memberikan komentar. Kedutaan Besar Saudi di Ibu Kota Washington DC juga enggan menjawab pertanyaan seputar kematian Abdurrahim al-Huwaiti.

Namun Ali Syihabi, anggota Dewan penasihat Neom, menjelaskan orang-orang Huwaitat digusur akan mendapat uang kompensasi. "Praktek di Saudi orang harus menerima uang ganti rugi dan biasa mereka menerima itu karena kompensasi diberikan sangat besar," tuturnya.

Tapi Syihabi mengaku tidak mengetahui berapa jumlah orang Huwaitat bakal mendapat kompensasi dan kapan ganti rugi itu bakal diberikan.

Proyek Kota Neom senilai US$ 500 miliar (kini setara Rp 7.491 triliun barangkali bakal memiat kaum dengan keleibuhan fulus, namun telah menjadi petaka bagi suku Huwaitat.

Abdurrahim al-Huwaiti, warga dari Suku Huwaitat, dibunuh pasukan keamanan Arab Saudi pada April 2020 karena menolak rumahnya digusur untuk menjadi bagian dari proyek pembangunan kota raksasa Neom. (EG24 News)

20 orang dari Suku Huwaitat ditahan karena tolak pembangunan kota impian Bin Salman

Pihak keamanan negara Kabah itu sempat menangkap dua anak dari Suku Huwaitat, yakni Asim Hammud Abu Radhi (9 tahun) dan Misfir Hammud Abu Radhi (12 tahun).

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Saudi usir paksa warga Suku Huwaitat demi pembangunan kota impian Bin Salman

Sekolah-sekolah ditutup dan pasokan listrik bagi desa-desa Suku Huwaitat dihentikan. Kebakaran sengaja dibikin.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Bin Salman sudah dua kali bertemu Netanyahu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

23 November 2020

TERSOHOR