kisah

Tipuan Bin Salman di malam Ramadan

Proses pemilihan Bin Salman menjadi putera mahkota Arab Saudi tidak sah.

22 Mei 2020 19:43

Tiga tahun lalu, suatu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan. Di Makkah, jamaah umrah tengah tumpek blek mengharapkan dapat Lailatul Qadr. Tapi di istana Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz berada di samoing Masjid Al-Haram, anaknya sekaligus Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman sedang menyiapkan tipuan.

Dua tahun setelah masuk jalur menuju singgasana dengan menjadi wakil putera mahkota setelah adik Raja Salman Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz tersingkir, Bin Salman kebelet mau menjadi calon penguasa negara Kabah itu. Satu-satunya penghalang tinggal abang sepupunya, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif, mantan kepala badan intelijen disenangi Barat karena sukses diajak bekerjasama memerangi jaringan Al-Qaidah.

Sedangkan Bin Salman tadinya bukan siapa-siapa. Dia cuma sarjana hukum lulusan dari Universitas Raja saud di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. Dia baru dua tahun dua bulan menjadi wakil putera mahkota sekaligus menteri pertahanan. Sebelumnya, lelaki 32 tahun ini tidak memiliki jabatan publik.

Bin Salman memaksa Hayat al-Bayaa (Dewan Kesetiaan) memilih putera mahkota baru, padahal Bin Nayif masih menduduki posisi itu. Biasanya, putera mahkota dipilih kalau yang menjabat meninggal. Tapi Raja Salman mengubah tradisi itu. Tiga bulan setelah naik takhta, pada April 2015, ayah dari Bin Salman ini memecat Pangeran Muqrin dan menunjuk Bin Salman menjadi wakil putera mahkota setelah Bin Nayif naik posisi menggantikan Pangeran Muqrin.

Hingga 20 Juni 2017, Hayat al-Bayaa tidak memiliki ketua setelah Pangeran Misyaal bin Abdul Aziz meninggal sebulan sebelumnya dan tidak ada gantinya. Sesuai aturan, pemilihan putera mahkota mesti dilakukan minimum duapertiga dari 34 anggota Hayat al-Bayaa, jika lembaga ini mempunyai ketua, dan pemilihan sah kalau didukung oleh lebih dari setengah anggota hayat al-Bayaa.

Tapi pemiihan terjadi menjelang akhir Ramadan itu menyalahi aturan. Tidak ada satu pun anggota hadir, tanpa ketua, dan tidak memenuhi kuorum. Sebanyak 31 dari 34 anggota Hayat al-Bayaa memilih Bin Salman menjadi putera mahkota tapi pemungutan suara dilakoni lewat telepon. Pemilihan itu pun tanpa diketahui pemegang jabatan, Bin Nayif. Alhasil, terpilihnya Bin Salman tidak sah.

Setelah Bin Salman dinyatakan sebagai putera mahkota tanpa upacara pelantikan, mendekati subuh pada 21 Juni 2017, Bin Nayif ditelepon untuk datang ke istana di Makkah dengan alasan dipanggil Raja Salman. Baru memasuki halaman istana, dirinya ditangkap, telepon selulernya dirampas, dan dia dikenai status tahanan rumah. Tunjangann hidupnya - biasa diterima semua anggota keluarga kerajaan - dihapus. Bin Nayif dan keluarganya juga dilarang bepergian keluar negeri.

Sedari awal cdibentuk pada 2006 oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz Hayat al-Bayaa memang tidak berfungsi. Lembaga ini tadinya untuk mengubah sistem pemikihan calon raja dari keputusan mutlak raja sedang berkuasa menjadi melalui sebuah konsensus.

Hayat al-Bayaa beranggotakan 34 orang, termasuk ketua. Mereka adalah anak dan cucu dari pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud. Jatah dua kursi diisi berdasarkan penunjukan raja dan putera mahkota, sampai sekarang selalu kosong. Dengan cara inilah semua cabang keturunan Raja Abdul Aziz terwakili dalam pemilihan calon penguasa negeri Dua Kota Suci itu.

Namun Raja Abdullah tidak terlibat dalam proses di Hayat al-Bayaa karena keburu meninggal sebelum lembaga negara ini benar-benar berfungsi. Tiga putra mahkota sebelumnya, Pangeran Suktan bin Abdul Aziz, Pangeran Nayif bin Abdul Aziz, dan pangeran Salman bin Abdul Aziz ditunjuk tanpa lewat pemilihan di Hayat al-Bayaa.

Raja Abdullah sejatinya ingin mempersiapkan putranya, Pangeran Mutaib, sebagai calon pengganti dirinya. Karena tidak ingin rencana sebenarnya terlalu kelihatan, dia membuat psisi baru, yakni wakil putera mahkota.

Raja Abdullah berencana melengserkan Putera Mahota Pangeran Salman bin Abdul Aziz dan menempatkan Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz menjadi pengganti. Kemudian dia akan menunjuk Pangeran Mutaib sebagai wakil putera mahkota. Namun sebelum skenario itu dilaksanakan, Raja Abdullah mengembuskan napas terakhir.

Proses Bin Salman menjadi calon raja Saudi memang membikin banyak pangeran senior sakit hati. Pangeran Muqrin dan Bin Nayif menjadi korban percepatan karier Bin Salman menuju takhta. Padahal masih ada Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, dijagokan banyak anggota keluarga kerajaan, sebagai calon pas menjadi raja Saudi.

Pangeran Ahmad, juga anggota Hayat al-Bayaa termasuk tidak memilih Bin Salman. Dia juga tidak datang ke istana di Makkah untuk berbaiat kepada keponakannya itu.

Bin Salman pun sadar dia sudah menciptakan banyak musuh dalam keluarganya. Karena itu dia tidak segan menangkapi para pangeran pembangkang, dimulai pada November 2017 atas alasan korupsi dan gelombang terakhir Maret tahun ini. Sebanyak 20 pangeran dibekuk, termasuk Bin Nayif dan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz.

Tiga anggta Hayat al-Bayaa lainnya termasuk dalam rombongan 20 pangeran ditangkap Maret lalu. Satu anggota lainnya berhasil kabur mendapatkan kewarganegaraan Siprus.

Bin Salman memang tidak pantas menjadi calon raja Saudi. Sangkaan banyak orang, termasuk dari dalam keluarga Bani Saud sendiri, terbukti hanya dalam tiga tahun. Pamor Saudi tercoreng oleh perang dan agresifitas Bin Salman di kawasan Timur Tengah. Citra Saudi sebagai negara "Islam" luruh dengan liberalisasi ekonomi, sosial, dan budaya..

Sekarang banyak orang tersadar akibat tipuan Bin Salman di sepuluh malam terakhir Ramadan.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Dua pilihan Bin Salman dalam suksesi Saudi

Konflik internal dalam keluarga kerajaan serta kian rentanya umur memburuknya kesehatan Raja Salman membikin Bin Salman berpacu dengan waktu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Buru Jabri incar dokumen

"Dia memiliki semua dokumen mengenai segala hal dan menyangkut semua orang penting di Saudi," tutur seorang eks pejabat keamanan regional.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Beli Newcastle topeng darah Bin Salman

"Sampai Bin Salman diadili secara jujur atas perannya dalam pembunuhan brutal Khashoggi, semua organisasi atau perusahaan harus tidak berhubungan bisnis dengan dia," ujar Hatice Cengiz.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Tawa Israel air mata Palestina

Usai penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan UEA dan Bahrain, Trump bilang ada 7-9 negara lagi siap berdamai. Arab Saudi, Oman, dan Sudan masuk dalam antrean.

16 September 2020
Kuasa Erdogan jaya ISIS
05 Agustus 2020

TERSOHOR