kisah
Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman
Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.
27 Januari 2021 20:20Syekh Salman al-Audah, ulama tersohor Arab Saudi ditahan sejak 10 September 2017 tanpa proses hukum jelas. (Twitter/Prisoners of Conscience)
Faisal Assegaf
Syekh Salman al-Audah merupakan salah satu ulama tersohor di Arab Saudi dan dunia muslim. Dia berkampanye mengenai perlunya partisipasi politik, terutama di Arab Saudi, negara kerajaan absolut.
Karena beragam kritiknya kepada pemerintah Saudi, dia menjadi buruan. Dia mendekam dalam penjara selama 1994-1999 tanpa proses peradilan. Polisi rahasia negara Kabah itu kembali membekuk Syekh Salman pada September 2017. Setahun kemudian, jaksa dalam sidang di pengadilan rahasia di Ibu Kota Riyadh menuntut hukuman mati terhadap dirinya dan dua ulama Saudi kondang lainnya - Syekh Awad al-Qarni dan Syekh Ali al-Umari.
Peradilan terhadap Syekh Salman kembali diulang dan masih berjalan tanpa jadwal jelas. Semua 19 anggota keluarganya - istri, anak, cucu, dan menantu - dilarang bepergian ke luar negeri.
Selama, ditahan di Penjara Dhahban di Kota Jeddah dan sekarang di Al-Hayir di pinggiran Riyadh, Syekh Salman mendapat perlakuan tidak manusiawi. Dia disiksa, tidak dikasih tidur, tidak diberikan obat, dan menghuni sel isolasi. Gegara perlakuan buruk ini, menurut Abdullah al-Audah, dokter penjara mengungkapkan kedua mata ayahnya menjadi rabun dan pendengarannya agak tuli.
"Dia masih mendekam di sel isolasi dan sekarang sudah 3,5 tahun di sana," kata Abdullah kepada Albalad.co Ahad lalu. "Kami kira mereka ingin membunuh dia pelan-pelan dalam penjara."
Nama lengkpanya adalah Salman bin Fahad bin Abdullah al-Audah, warga Saudi kelahiran 1 Februari 1957. Dia telah menikah dan memiliki 18 anak. Dia keturunan dari Suku Al-Jubur, bagian dari Bani Khalid mendiami wilayah utara Semenanjung Arab, seperti dilansir dari dawnmena.org
Syekh Salman dilahirkan dan dibesarkan di Al-Basr, pinggiran Kota Buraidah, Arab Saudi, sebelum pindah ke Buraidah buat bersekolah.
Dia meraih gelar sarjananya dari dua fakultas: yakni bahasa Arab dan syariah pada 1979 di Universitas Imam Muhammad bin Saud, Al-Qassim. Dia mengajar di almamaternya itu 1983 hingga Oktober 1993. Dia dipecat karena mengkritik pemerintah Saudi.
Pada September 1994, dia ditangkap dan ditahan selama lima tahun. Setelah bebas, dia mendapat gelar doktor bidang syariah dari Universitas Al-Jinan, Libanon, pada 2004.
Pada Juni 2017, beberapa hari sebelum Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota, seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Saudi melarang Syekh Salman bepergian ke luar negeri. Dia bilang larangan itu atas perintah dari istana.
Setelah konflik Saudi-Qatar meletup, Syekh Salman pada 9 September 2017 menusli di akun Twitternya: "Semoga Allah mendamaikan hati mereka untuk kepentingan rakyat mereka."
Sehari kemudian, aparat dari badan keamanan negara menyerbu runmah Syekh Salman di Ibu Kota Riyadh. Mereka menolak menunjukkan lencana dan surat perintah penangkapan. Mereka menyisir semua ruangan lalu membekuk Syekh salman.
Berkaitan dengan penangkapan Syekh Salman, pada 12 September 2017, badan keamanan negara mengumumkan telah menemukan satu sel intelijen berkomplot dengan sebuah pemerintah asing. Sejak saat itu, gelombang penangkapan terhadap orang-orang dianggap pembangkang mulai dilancarkan.
Syekh Salman ditahan di Penjara Dhahban, Kota Jeddah, sampai Oktober 2019. Di akhir tahun itu, dia dipindahkan ke Penjara Al-Hayir di pinggiran Riyadh hingga sekarang.
Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya. Pada 17 Januari 2018, seorang sumber memiliki akses langsung ke Penjara Dhahban memberitahu anaknya, Abdullah al-Audah, ayahnya dalam keadaan sakit parah karena diperlakukan tidak manusiawi.
Keluarga Syekh Salman baru diizinkan datang menjenguk untuk pertama kali pada 13 Februari 2018.
Syekh Salman bercerita tiga hingga lima bukan pertama dalam penjara, kedua kakinya dirantai. Kedua matanya juga ditutup kalau akan menuju dan kembali ke selnya setelah diinterogasi di ruangan lain.
Dalam beberapa kesempatan petugas memeriksa dia lebih dari 24 jam dan Syekh salman tidak boleh tidur. Suatu hari, sipir melemparkan seplastik makanan ke dalam sel Syekh Salman, dalam keadaan kedua tangan diborgol. "Dia mesti membuka kantong palstik itu mnggunakan mulut dan melahap makanan langsung dengan mulut, sehingga sebagian giginya rusak," ujar Abdullah al-Audah.
Setahun sehabis ditahan, pengadilan terhadap Syekh Salman baru digelar pada 4 September 2018. Itupun dilangsungkan secara rahasia di Riyadh. Pihak keluarga baru diberitahu sesaat sebelum sidang dimulai.
Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mujib menuntut hukuman mati, terhadap Syekh Salman atas 37 dakwaan. Prosesnya tidak jelas dan kembali diulang dengan hakim baru bulan ini.
Kasihan sekali nasibnya. Gegara melawan kuasa Bin Salman, nestapa menimpa Syekh Salman.