kisah

Gereja perdana di negara Kabah

"Tidak ada satu gereja pun di sini," kata seorang penganut Nasrani telah menetap di Saudi selama usia dewasa.

10 Februari 2021 14:54

Pagi berawan pada 2019, 25 penganut Kristen Evangelis asal Amerika serikat berkumpul di kaki Jabal al-Lauz, di barat daya Arab Saudi, dekat perbatasan Yordania. Pemimpin mereka adalah penulis sekaligus pendeta Joel Richardson.

Dia kemudian mengeluarkan Injil dia bawa dari rumahnya di Kansas dan mulai membaca Alkitab itu dengan suara keras. Tidak lama kemudian, orang-orang Nasrani ini mulai menyanyikan lagu-lagu pujian. Sedangkan sejumlah orang Saudi menjadi pemandu mereka bergegas mengeluarkan telepon pintar dan merekam kejadian langka itu.

Richardson memimpin wisata religi pertama para pemuja Yesus ke Saudi, negara tempat Islam dilahirkan, di mana semua agama dilarang memiliki rumah ibadah dan pemeluknya haram memakai simbol agama kecuali bagi masjid dan kaum muslim.

Malamnya, telepon seluler Richardson berdering. Pesan dari seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika berbunyi: "Hati-hati."

Dia pun masih bingung sampai sekarang. "Saya kira beberapa rekaman video (di Jabal al-Lauz) itu menjadi viral di media sosial Saudi," katanya dalam wawancara khusus dengan Insider baru-baru ini.

Bagi sebagian penganut Nasrani, Jabal al-Lauz diyakini sebagai Bukit Sinai, tempat nabi Musa berbincang dengan Tuhan. Dibolehkannya peziarah Kristen ke Jabal al-Lauz menunjukkan perubahan sosial sedang terjadi di negara Kabah itu tapi sekitar 1,4 juta pemeluk Kristen di sana masih menghadapi bahaya.

Satu dasawarsa lalu, orang Kristen di Arab Saudi ketahuan beribadah ditangkap, dipenjara, kemudian di deportasi. Membawa Injil atau menyanyikan kidung pujian Kristen di tempat umum bakal membikin marah warga muslim.

Departemen Luar Negeri Amerika menyebutkan pada Februari 2014, polisi syariah Saudi mendeportasi 12 orang Kristen dari Ethiopia tinggal di Kota Dammam. setelah ketangkap basah beribadat. Tujuh bulan kemudian, polisi syariah menyerbu sebuah rumah sehabis mendapat laporan kediaman itu dijadikan sebagai gereja.

Menurut Human Rights Watch, pada 2011, 35 orang Nasrani, termasuk 29 perempuan, di Jeddah ditahan lantaran ketahuan beribadat di rumah.

Pangeran Muhammad bin Salman, 36 tahun, mulai mengubah Saudi sejak menjadi putera mahkota pada pertengahan 2017. Meski begitu, kebebasan beragama di negara ini masih berjalan lambat.

"Tidak ada satu gereja pun di sini," kata seorang penganut Nasrani telah menetap di Saudi selama usia dewasa kepada Insider. "Kami memilih untuk beribadah diam-diam karena menghormati budaya dan agama mereka."

Walau kian banyak ekspatriat non-muslim bekerja di Saudi, pemerintah tetap menutup mata soal kebebasan beragama bagi mereka. Pada 2016, Bin Salman mengeluarkan kebijakan polisi syariah tidak boleh menangkap orang di tempat umum. Siapa saja berani membangkang segala kebijakannya, dia tidak segan membungkam atau memenjarakan mereka.

Pesan Departemen Luar Negeri Amerika kepada Richardson jelas: Sebagai orang Kristen kalau sedang di Saudi mesti bertindak hati-hati.

Pemerintah Amerika sejatinya sudah bertahun-tahun meminta Saudi mencabut larangan pendirian gereja tapi hasilnya nihil. Mantan Anggota Komisi Kebebasan Beragama Internasional (lembaga di bawah Departemen Luar Negeri Amerika) Nina Shea termasuk orang berkali-kali meminta hal itu. Jawaban penguasa Saudi selama sama: Arab Saudi berbeda, Ia adalah tanah dua kota haram (Makkah dan Madinah). "Seluruh wilayah Saudi dianggap suci sehingga mereka tidak membolehkan satu gereja pun berdiri," ujar Nina.

"Soal izin pembangunan gereja adalah isu pernah kami bicarakan dengan pejabat Saudi dalam banyak kesempatan," tutur David Rundell, eks kepala perwakilan di Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota Riyadh.

Pada Oktober 2018, Joel Rosenberg, salah satu penulis Kristen Evangelis kenamaan di Amerika, menerima undangan untuk berjumpa Bin Salman di Riyadh. Dia datang ke sana bareng tiga pemuka Nasrani lainnya, termasuk Pendeta Johnnie Moore, penasihat agama untuk Presiden Amerika Donald Trump.

Dalam pertemuan selama dua jam itu, Bin Salman dan kedua tamunya ini membahas semua isu kontroversial.

Rosenberg menanyakan kepada Bin Salman kapan dia akan mengizinkan gereja dibangun di Saudi. "Belum sekarang, karena itu akan menjadi hadiah bagi Al-Qaidah," jawab Bin Salman merujuk pada anggota Al-Qaidah kerap menyerang orang Kristen dan gereja.

Penguasa Saudi, termasuk Bin Salman, berpegang teguh pada hadis Nabi Muhammad: Tidak boleh ada dua agama di Semenenajung Arab.

Sebagian ulama berpendapat hadis itu hanya berlaku untuk dua kota suci Makkah dan Madinah. Dalam pertemuan 2018 itu, Bin Salman bilang akan menanyakan kepada para ahli kepercayaannya tentang definisi Semenanjung Arab.

Setahun kemudian Rosenberg dan rombongan tokoh Kristen datang lagi bertemu Bin Salman. Kali ini Bin Salman menyampai bukti-bukti arkeologis pernah ada gereja di negeri Dua Kota Suci itu. "Bin Salman mengakui Rasulullah pernah hidup berdampingan secara damai dengan rabbi Yahudi dan pendeta Nasrani," kata Pastor Skop Heitzig, iktu dalam rombongan Risenberg pada 2019.

Delegasi Rosenberg tadinya dijadwalkan bertemu Bin Salman lagi tahun lalu tapi batal lantaran pandemi virus corona Covid-19. Agenda perjumpaan tahun ini mungkin juga tidak jadi karena alasan sama.

Mereka tidak menyerah. Pada 28 September 2020, Rosenberg bersama tujuh pemuka Kristen Evangelis bertandang ke aaMcLean, Virginia, untuk makan malam di rumah Duta Besar Saudi untuk Amerika Puteri Rima binti Bandar as-Saud. Lagi-lagi isu pendirian gereja di Saudi menjadi bahasan.

Situasinya sudah berubah. Bin Salman tidak alergi lagi terhadap rumah ibadah non-muslim.

"Tentu saja akan datang masanya gereja bisa berdiri di Saudi," ujar Pangeran Abdullah bin Khalid as-Saud, akademisi Saudi, kepada Insider. "Terutama di kawasan diplomatik di Riyadh atau Neom."

Dia membantah adanya gereja akan membuat Saudi menjadi sasaran serangan teroris lantaran pasukan keamanan Saudi sangat kuat.

Neom adalah proyek kota impian Bin Salman dibangun di tepi laut Merah dengan anggaran diperkirakan US$ 500 miliar.

Anggota Dewan Penasihat Neom Ali Syihabi membenarkan. "Isu gereja akan dibangun di Neom sudah disebut," ucapnya. Dia menambahkan Riyadh juga menjadi salah satu kota alternatif bagi gereja perdana di Saudi.

Namun, menurut pengamat Ali al-Ahmad, kalau gereja dibangun di Neom sekadar simbol dan pencitraan saja. "Saudi perlu membangun satu gereja di dua kota besar dihuni banyak orang Nasrani, yakni Jeddah, Riyadh," tuturnya.

Dari sejumlah ulama di Saudi menolak keberadaan gereja adalah Syekh Asim al-Hakim. "Apakah kalian melihat ada masjid di Vatikan? Tidak. Jadi kami juga tidak akan membolehkan gereja berdiri di sini. Saudi adalah tanah suci," katanya melalui rekaman di saluran YouTube.

Kuasa Bin Salman menjadikan dia bisa berbuat apa saja, termasuk mewujudkan gereja perdana di negara Kabah.

 

Seorang perempuan pada 19 Januari 2019 mengunjungi reruntuhan gereja dibangun pada abad keempat di Jubail, Arab Saudi. (Angelus)

Bin Salman dan rencana pembangunan gereja di Arab Saudi

Di Jubail, terdapat sisa-sisa Gereja Assyria dibangun pada abad keempat. Reruntuhan tempat ibadah Kristen ini ditemukan pada 1986. Juga ditemukan reruntuhan gereja di Riyadh dan Jeddah.

Syekh Salman al-Audah, ulama tersohor Arab Saudi ditahan sejak 10 September 2017 tanpa proses hukum jelas. (Twitter/Prisoners of Conscience)

Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman

Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Bin Salman sudah dua kali bertemu Netanyahu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Duka Syekha Latifah noda emir

Ketika Syekh Muhammad bin Rasyid mengirim astronot dan pesawat ruang angkasa ke Mars, di sisi lain dia malah mengirim putrinya sendiri ke penjara.

17 Februari 2021

TERSOHOR