kisah

Teknologi militer Israel, darah demonstran Myanmar

Jenderal Senior Ming Aung Hlain, panglima angkatan bersenjata Myanmar memimpin kudeta awal bulan lalu, pernah mengunjungi kantor Elbit saat melawat ke Israel pada 2015.

15 Maret 2021 23:16

Dua adegan itu menggidikkan: seorang tentara Myanmar sedang menembaki para demonstran menggunakan senapan mesin ringan. Di bagian lain, satu serdadu sedang mengisi magazin di Uzi, senapan serbu buatan Israel. Kedua foto ini beredar di media sosial di tengah tindakan represif tentara Myanmar terhadap demonstran antikudeta. 

Para jenderal, mengkudeta pemerintahan sipil dipimpin Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu, kembali berkuasa dengan peralatan mutakhir: pesawat pengintai nirawak bikinan Israel, peralatan untuk meretas telepon seluler iPhone buatan Eropa, dan perangkat lunak asal Amerika Serikat buat membobol komputer dan menyedot konten dan dokumen di dalamnya.

Teknologi-teknologi maju dipakai menjadi alat penegakan hukum sekaligus penindasan, dipakai oleh Tatmadaw (militer Myanmar) untuk menyasar para pengunjuk rasa menolak kudeta militer.

Menurut organisasi non-pemerintah the Assistance Association for Political Prisoners, hingga Sabtu pekan lalu lebih dari 80 orang tewas dan 2.100 orang lebih ditangkap, termasuk Suu Kyi. Dia sedang diadili dengan sejumlah dakwaan, termasuk menghasut orang untuk melawan negara dan memiliki walkie talky secara ilegal.

"Militer Israel sekarang memakai peralatan-peralatan itu untuk secara brutal menindas pengunjuk rasa untuk melawan junta militer dan memulihkan demokrasi," kata Ma Yadanar Maung, juru bicara Justice For Myanmar, kelompok memantau pelanggaran dilakukan Tatmadaw.

Ratusan halaman dokumen anggaran pemerintah Myanmar dalam dua tahun terakhir dibaca oleh the New York Times, memperlihatkan bagaimana para jenderal itu begitu kepincut ingin membeli teknologi pengintaian level militer.

Dokumen disediakan oleh Justice For Myanmar itu berupa katalog berisi teknologi bernilai puluhan juta dolar Amerika: mulai dari alat untuk menyedot konten di telepon seluler dan komputer, serta alat pelacak posisi target hingga perekam pembicaraan sasaran.

Aalat-alat intai dan sadap mutakhir ini sejatinya sudah dilarang oleh pemerintah asal produsen di Israel, Eropa, dan Amerika untuk dijual kepada Myanmar setelah pengusiran brital dilakoni militer negara Asia Tenggara itu terhadap etnis minoritas muslim Rohingya pada 2017.

Tatmadaw kerap membeli alat penindas mutakhir terhadap para pembangkang itu secara tidak langsung melalui makelar. Polisi Myanmar juga membeli perangkat keras buat melacak para penentang kudeta militer melalui dunia maya dan nyata.

Dalam anggaran belanja tahun lalu, Tatmadaw membeli perangkat lunak MacQuisition dirancang untuk menyedot data dari komputer bikinan Apple. Perangkat ini dibuat oleh BlackBag Technologies, perusahaan asal Amerika tahun lalu dibeli oleh Cellebrite dari Israel. Kedua perusahaan ini sama-sama memproduksi peralatan sadap dapat membobol telepon seluler terenkripsi kemudian menyedot semua data, termasuk lokasi pengguna.

Juru bicara Cellbrite bilang perusahaannya sudah menyetop penjualan alat sadap canggih ke Myanmar sedari 2018. BlackBag juga menghentikan ekspor perangkat sadapnya ke Myanmar sejak tahun lalu.

Dia menambahkan Cellbrite tidak menjual produknya ke negara-negara dikenai sanksi oleh Amerika, Uni Eropa, Inggris, dan Israel. "dalam kasus benar-benar jarang, ketika teknologi kami digunakan untuk kebijakan melanggar hukum internasional atau tidak sesuai nilai-nilai dianut Cellbrite, kami langsung memutuskan tidak bakal memperpanjang lisensi dan tidak memasok pembaruan perangkat lunak," ujarnya.

Menurut U Khin Maung Zaw, salah satu anggota tim kuasa hukum Suu Kyi, perangkat keras dan lunak buatan Cellbrite dipakai polisi untuk mengamankan bukti dalam banyak perkara di pengadilan. Dia mencontohkan dua reporter Reuters diaidli pada 2018 lantaran membuat artikel mengenai pembantaian warga Rohingya.

Dalam dokumen pengadilan disebutkan polisi memperoleh data dari telepon seluler kedua wartawan itu menggunakan teknologi forensik Cellbrite.

Sehabis kasus itu, Cellbrite langsung tiak memperbarui izin polisi Myanmar menggunakan perangkat bikinan mereka. "Perusahaan sekarang mampu menyetop lisensi dari jauh, menghapus aplikasi dari mesin, dan menjadikan peralatan sadap tidak lagi berguna," tutur juru bicara Cellbrite.

Pemerintah Myanmar tidak membeli langsung peralatan atau aplikasi sadap itu dari perusahaan berangkutan, tapi lewat pihak ketiga. Salah satu makelar teknologi sadap tersohor di Myanmar adalah Dr. Kyaw Kyaw Htun, warga Myanmar pernah kuliah di sebuah universitas di Rusia dan belajar di Defense Services Technological Academy. Koneksinya sangat luas.

Pernah dalam sebuah pameran, Kyaw Htun memperlihatkan produk-produk sadap bikinan Barat kepada para petinggi militer Myanmar. Di media sosial, dia mengklaim menjamu tamunya, seorang pemiliik perusahaan pertahanan asal Amerika. Perusahaannya, MySpace International, terdaftar dalam situs milik sebuah perusahaan Ceko bergerak di sektor pertahanan dan penghasil peralatan laboratorium.

Istri dari Kyaw Htun adalah putrinya seorang perwira tinggi Tatmadaw pernah menjadi duta besar Myanmar untuk Rusia. Dia merupakan agen di Myanmar untuk produsen stun gun asal Rusia.

Menurut dua sumber, perusahaan Kyaw Htun memasok sebagian besar teknologi sadap buatan Barat bagi kepolisian Myanmar. MySpace International baru-baru ini memenangkah tender dari Kementerian Dalam Negeri Myanmar.

Dalam situsnya, MySpace menyebutkan MSAB, BlackBag, dan Cellbrite termasuk mitra utamanya.

Kyaw Htun menolak saat dimintai wawancara oleh the New York Times.

"Kami bukan perusahaan besar," ujar Ko tet Toe Lynn, asisten manajer di MySpace International. Dia menolak menjawab pertanyaan seputar produk-produk apa saja dijual oleh MySpace di Myanmar.

Cellbrite menegaskan perusahaannya dan BlackBag tidak berafiliasi dengan empat perusahaan kepunyaan Kyaw Htun, termasuk MySpace Internatinal. Cellbrite menolak menyebutkan siapa distributor mereka di Myanmar.

Hingga 2018, Israel melarang ekspor perlatan militer ke Myanmar setelah muncul bukti persenjataan bikinan negara Zionis itu dijual kepada angkatan darat Myanmar dituding melakukan genosida atas etnis Rohingya. Embargo kemudian diperluas sampai ke suku cadang.

Dua tahun kemudian, Myanmar Future Science, perusahaan mengklaim memasok alat bantu pendidikan dan pengajaran, menandatangani kontrak untuk melayani pembelian pesawat pengintai nirawak buatan Elbit Systems, produsen senjata dari Israel. Jenderal Senior Ming Aung Hlain, panglima angkatan bersenjata Myanmar memimpin kudeta awal bulan lalu, pernah mengunjungi kantor Elbit saat melawat ke Israel pada 2015.

Pesawat-pesawat pengintai nirawak Elbit juga terlibat dalam beagam konflik terus berlangsung di Myanmar. Tahun lalu, milisi etnis di bagian barat Negara Bagian Rakhine mengatakan menemukan sebuah pengintai nirawak Elibit terbang di medan tempur.

CEO Myanmar Future Science U Kyi Thar membenarkan perusahaannya memulai pengerjaan perbaikan pesawat intai nirawak di akhir 2019 hingga tahun lalu. :Kami memesan suku cadang dari perusahaan israel bernama Elbit karena kuaitasnya terkenal sangat bagus dan Elbit adalah perusahaan tersohor," kata Kyi Thar.

Seorang juru bicara Elbit menegaskan pihaknya tidak pernah menjalin kesepakatan lagi dengan Myanmar sejak 2015 atau 2016.

"Militer Myanmar sangat tertutup dan Israel sangat rahasia," ujar Siemon Wezeman, peneliti senior program belanja senjata dan militer di the Stockholm International Peace Research. "Jadi siapa bisa menebak apa yang terjadi di antara mereka."

Meski ada larangan ekspor, namun teknologi pertahanan Israel tetap bisa sampai di negara-negara tidak disangka, termasuk Myanmar.

Di hari pertama kudeta, para ahli militer kaget menyaksikan kendaraan-kendaraan tempur bikinan Gaia Automotive Industries dari Israel, melintas di jalan-jalan di Ibu Kota Naypyidaw.

Kendaraan semacam itu tidak pernah diproduksi massal sampai setelah Israel melarang ekspor teknologi militernya.

Shlomi Shraga, kepala Gaia Automotive Industries, mengaku tidak pernah melihat foto kendaraan tempur mereka di Naypyidaw saat terjadi kudeta pada 1 Februari lalu. Dia menegaskan semua ekspornya harus mendapat izin dari Kementerian Pertahanan Israel.

"Mari berharap rakyat Myanmar hidup damai dan berada di bawah rezim demokratis," tutur Sharaga.

Demonstrasi antirezim di Provinsi Khuzestan, Iran. (Video screencapture)

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

Dua Mercedes Benz milik warga Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Masih ada surga dunia di Gaza

Keluarga berkocek tebal di Gaza bisa menyewa vila dilengkapi kolam renang di daerah sejuk di utara Gaza. Terdapat satu-satunya klub Mercedes di Gaza.

Perempuan Arab Saudi tengah menggunakan telepon seluler. (Arab News)

Berburu seks halal dan murah meriah di negara Kabah

"Teman saya orang Saudi sudah sebelas kali menikah misyar," ujarnya. Dia ceraikan dan menikah lagi, cerai kemudian menikah kembali."

Antrean mobil mengular di sebuah pompa bensin di Ibu Kota Beirut, Libanon. (Twitter)

Ekonomi ambyar negeri Cedar

Ambruknya militer Libanon karena krisis ekonomi bisa meletupkan perang saudara lagi di negara itu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR