kisah

Lukisan palsu Da Vinci kepunyaan Bin Salman

Bin Salman menuntut Salvator Mundi miliknya dipajang di sebelah lukisan berjudul Mona Lisa. Calon raja kedelapan Saudi ini menjanjikan fulus dalam jumlah sangat banyak kalau Prancis setuju.

09 April 2021 23:17

Lukisan wajah Yesus berjudul Salvator Mundi (Juru Selamat) menjadi misterius keberadaannya setelah dibeli oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman empat tahun lalu dengan harga selangit, yakni US$ 450 juta (kini setara Rp 6,6 triliun). Salvator Mundi diklaim karya maestro pelukis dunia Leonardo da Vinci ini menjadi karya seni termahal sejagat.

Padahal seorang pedagan karya seni di New York membeli Salvator Mundi itu seharga US$ 1.175 pada 2005. Setelah dinyatakan asli oleh para pakar seni Inggris, Salvator Mundi kemudian dipajang di Galeri Nasional London pada 2011, kemudian akhirnya dibeli oleh konglomerat Rusia seharga US$ 127,5 juta pada 2013.

Salvator Mundi tadinya direncanakan dipajang di Museum Louvre di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 2018, dan dipamerkan di Museum Louvre di Ibu Kota Paris, Prancis, setahun kemudian untuk memperingati 500 tahun wafatnya da Vinci. Namun kedua jadwal pameran untuk Salvator Mundi itu tidak pernah terwujud. Tidak pernah ada yang tahu di mana keberadaan lukisan kontroversial itu.

Sampai akhirnya film dokumenter berjudul Savior for Sale - bakal ditayangkan di stasiun televisi France 5 pada 13 April - mengungkapkan lukisan wajah Yesus dibeli Bin Salman itu rupanya bukan karya murni Da Vinci. Inilah menjadi alasan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pihak Museum Louvre Paris menolak desakan Bin Salman agar Salvator Mundi miliknya dipamerkan di galeri seni paling bergengsi itu dan dinyatakan sebagai seratus persen buatan pelukis Da Vinci.

Sila baca: Pangeran Kabah kesengsem wajah Yesus

Dalam film itu, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Macron diberinama samaran Jacques mengungkapkan kepada sutradara Antoine Vitkine, lewat uji ilmiah sangat rumit dan melibatkan para pakar serta dilakukan secara rahasia, akhirnya disimpulkan Leonardo da Vinci hanya berkontribusi pada lukisan itu sehingga keasliannya diragukan.

Padahal ketika dibeli Bin Salman pada November 2017, melalui lelang di Balai lelang Christie's di Kota New York, Amerika Serikat, Salvator Mundi itu diklaim sebagai karya Da Vinci telah lama hilang.

Menurut seorang pejabat senior di Kementerian Kebudayaan Prancis bernama samaran Pierre, terjadi kesepakatan tingkat tinggi antara kedua negara tentang lukisan wajah Yesus itu. Museum Louvre Paris mesti memamerkan koleksi Bin Salman ini dengan imbalan Prancis mendapat proyek bernilai puluhan miliar euro untuk membangun pusat budaya di Provinsi Al-Ula, Arab Saudi.

Kemudian disetujui Museum Louvre Paris akan memajang Salvator Mundi kepunyaan Bin Salman dalam pameran pada Oktober 2019. "Pihak istana menjelaskan penting bagi MBS (Pangeran Muhammad bin Salman) untuk menempatkan dirinya sebagai orang membuka Arab saudi dalam kontkes budaya dan menjadikan dirinya sebagai simbol modernitas," kata Pierre.

Jacques masih ingat lukisan supermahal ini tiba di Paris pada Juni 2019. Dia menduga lukisan itu didatangkan langsung dari New York. Salvator Mundi ini disimpan di Louvre Paris selama tiga bulan.

Jacques bilang Salvator Mundi kemudian diperiksa secara teliti menggunakan sejulah mesin dan dengan sinar X. Kepala Kurator Departemen Lukisan di Museum Louvre Paris Vincent Delieuvin juga menggandeng para ahli seni internasional hingga didapat kesimpulan. "Bukti ilmiah menunjukkan Da Vinci hanya berkontribusi dalam lukisan itu. Ini tidak diragukan lagi, jadi kami memberitahu pihak Saudi," ujar Jacques.

Pertemuan dengan delegasi Saudi berlangsung di kantor Presiden Direktur Museum Louvre Jean Luc Martinez. Presiden Asosiasi Museum Nasional Prancis Chris Dercon, kini juga menjabat anggota Direksi di Komisi Seni Visual dan Museum Kementerian Kebudayaan Arab Saudi, juga hadir.

Martinez menyampaikan kepada delegasi Saudi, lukisan Salvator Mundi kepunyaan Bin Salman bukanlah karya Da Vinci. "Banyak pihak lain mengatakan berbeda, tapi kami menyimpulkan berdasarkan bukti ilmiah atas lukisan itu," tuturnya.

Pihak Saudi murka. Bin Salman menuntut Salvator Mundi miliknya dipajang di sebelah lukisan berjudul Mona Lisa. Calon raja kedelapan Saudi ini menjanjikan fulus dalam jumlah sangat banyak kalau Prancis setuju.

Atas nama Saudi, Menteri Luar Negeri Prancis Jean Yves Le Drian dan Menteri Kebudayaan Prancis Frank Riester melobi pemerintahnya agar menuruti kemauan Bin Salman. Kemudian di akhir September 2019, Macron menolak permintaan Bin Salman. Meski begitu, kompromi antara para pejabat Prancis dengan manajemen Louvre Paris terus berlanjut.

Jacques menjelaskan keputusan Macron itu untuk memelihara kredibilitas Louvre Paris sekaligus Prancis. "Dalam jangka panjang, tidak akan ada kolektor mau meminjam karyanya untuk dipamerkan jika kita menuruti keinginan Bin Salman," katanya.

Pameran dibuka pada 21 Oktober 2019 itu akhirnya tidak menampilkan lukisan wajah Yesus koleksi Bin Salman.

 

 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Proyek fantasi Bin Salman di tepi Laut Merah

"Dia mengira dirinya seperti Tuhan ingin membuat peradaban baru," tutur Alia al-Huwaiti. "Atau seperti Firaun, siapa saja menolak pikirannya akan mati atau lenyap."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Al-Arabiya)

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.

Rombongan tokoh Kristen Evangelis asal Amerika Serikat dipimpin oleh Joel Rosenberg bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, Oktober 2018. (Twitter/@JoelCRosenberg)

Gereja perdana di negara Kabah

"Tidak ada satu gereja pun di sini," kata seorang penganut Nasrani telah menetap di Saudi selama usia dewasa.

Syekh Salman al-Audah, ulama tersohor Arab Saudi ditahan sejak 10 September 2017 tanpa proses hukum jelas. (Twitter/Prisoners of Conscience)

Kuasa Bin Salman nestapa Syekh Salman

Selama lima bulan pertama dalam penjara, Syekh Salman tidak diizinkan menghubungi keluarganya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR