kisah

Program culik pengkritik Erdogan

Freedom House menempatkan Turki di peringkat pertama dalam daftar negara penculik warganya di luar negeri sejak 2014.

18 Juni 2021 19:35

Tugas mereka seterang benderang nama lembaga tempat mereka bernaung: Kantor Penculikan dan Eksekusi Manusia, unit khusus dalam badan intelijen Turki MIT. Misi utama dari para agen intelijen terlatih ini adalah melacak, memburu, kemudian menculik atau mengeksekusi para pengkritik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di luar negeri atau orang-orang terlibat dalam gerakan sosial keagamaan dipimpin oleh Fethullah Gulen, ulama Turki berumur 80 tahun telah mengasingkan diri ke Amerika Serikat sejak 1999.

Erdogan menuding Gerakan Gulen (Hizmet berarti pelayanan dalam bahasa Turki) mendalangi upaya kudeta terhadap dirinya pada Juli 2016. Dua bulan sebelumnya, Erdogan menetapkan FETO (Fethullah Terrorist Organisation) sebagai organisasi teroris. FETO adalah nama diberikan oleh pemerintah Turki terhadap Gerakan Gulen pada 2015.

Recep Tayyip Erdogan berkuasa pada 2003. Di awal, dia bersekutu dengan Gulen. Tapi persahabatan mereka pecah setelah polisi dan jaksa pro-Gulen menyelidiki skandal korupsi melibatakan lingkaran dekat Erdogan pada 2013.

Dendam kesumat Erdogan terhadaop Gulen kian berkobar setelah kudeta gagal lima tahun lalu. Ratusan ribu pengikut dan simpatisan Gulen di Turki dari berbagai latar belakang dipecat dan ditangkapi. Mulai wartawan, aktivis, polisi, pengacara, polisi, hingga tentara.

Program Culik Pengkritik Erdogan ini bersifat global dan sudah dimulai sejak 2014, dipimpin oleh Direktur MIT Hakan Fidan. Menurut sejumlah pernyataan resmi dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri baru-baru ini, Turki telah mengirim 800 permintaan ekstradisi ke 105 negara sejak upaya kudeta terjadi lima tahun lalu.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu bilang Turki telah berhasil memulangkan 104 warganya dari 21 negara dengan beragam cara dan rezim Erdogan berusaha memulangkan lebih banyak lagi para pengkritik atau pembangkang terhadap dirinya.

Sila baca: Ambisi gila erdogan

Sebuah laporan terbaru dilansir Freedom House menyebutkan dari aspek intensitas, jangkauan geografis, Turki menempati peringkat pertama dalam daftar negara penculik warganya di luar negeri sejak 2014.

Korban terbaru dari Program Culik Pengkritik Erdogan ini adalah Orhan Inandi, pendiri sekaligus presiden jaringan sekolah bergengsi Sapat di Kirgistan. Melalui rekaman video diunggah lewat Twitter, Reyhan Inandi bercerita suaminya itu diculik pada 31 Mei ketika sedang bertemu seseorang di kedai kopi dekat rumahnya di Ibu Kota Bishkek sekitar jam delapan malam.

Orhan Inandi terakhir ditelepon seorang temannya pukul sembilan malam. Sehabis, kontak telepon dilakukan berkali-kali oleh keluarganya gagal. Toyota Lexus dikendarai korban kemudian ditemukan pada 1 Juni lalu sekitar jam tiga dini hari terparkir di sebuah wilayah, berjarak sekitar delapan kilometer dari kediamannya.

Mobil Inandi temukan dalam keadaan pintu terbuka dan keempat bannya kempes. Pihak keluarga segera menghubungi polisi dan meminta kasus itu langsung diusut.

"Saya mendapat informasi suami saya ditahan di dalam Kedutaan Besar Turki. Mereka memaksa Orhan Inandi menandatangani sebuah dokumen menyatakan dia sudah melepas kewarganegaraan Kirgistan," kata Reyhan. "Mereka kemudian akan memulangkan dia dari Kirgistan."

Sapat, jaringan sekolah Turki, sudah beroperasi di Kirgistan sedari 1992 dan diambil alih oleh pemerintah negara Asia Tengah ini sejak 2017. Orhan Inandi telah bekerja di Kirgistan dari 1995 dan menjadi presiden Sapat pada 2001.

Inandi kemudian menjadi warga negara Kirgistan sejak 2010. Pemerintah Kirgistan sebelumnya menolak permintaan ekstradisi dari Turki atas tuduhan terlibat terorisme (gerakan Gulen).

Sejumlah sumber mengungkapkan kepada Turkish Minute, sehabis ditangkap di kafe, Inandi kemudian dibawa ke Kedutaan Turki. Sebuah jet pribadi sudah disiagakan di dalam hanggar tidak terpakai di Bandar Udara Bishkek untuk menerbangkan Inandi keluar dari Kirgistan.

Pebasket asal Turki bermain di klub New York Knicks, Enes Kanter - dicap teroris oleh pemerintah Turki lantaran getol mengkritik rezim Erdogan, nyaris diculik agen-agen intelijen Turki saat sedang berada di Jakarta pada Mei 2017.

Kanter memperoleh informasi akan ditangkap para agen intelijen Turki di Indonesia. Karena itu pada jam 02:30 dini hari, dia bergegas ke Bandar Udara Soekarno Hatta dan terbang dengan jadwal paling pagi menuju Singapura. Dari sana, dia melanjutkan perjalanan ke Rumania tapi pemerintah Turki telah mencabut paspornya.

Atas bantuan Departemen Luar Negeri Amerika, NBA (Asosiasi Basket Nasional) dan lembaga lainnya, Kanter berhasil pulang ke New York.

Kanter boleh saja lolos namun keluarganya di Turki menjadi sasaran. Ayahnya, profesor di sebuah kampus, dipecat gegara mendukung gerakan Gulen dan diadili. Dokter gigi langganan Kanter dan istrinya juga dipenjara.

Klub New York Knicks pernah berlaga menghadapi Washington Wizard pada Januari 2019. Karena lokasi pertandingan di Ibu Kota London, Inggris, Kanter memilih tidak ikut bersama tim. "Terlalu berbahaya. Banyak mata-mata Turki di sana," ujar Kanter kepada wartawan. "Saya bisa dibunuh dengan mudah di sana."

Dalam sebuah surat terbuka, empat pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan Turki bakal melakoni operasi penculikan jika upaya ekstradisi secara sah atas pembangkang di luar negeri gagal dilakukan. Sasaran akan dipantau secara ketat, disusul dengan penyerbuan ke rumah target oleh para agen intelijen Turki berpakaian sipil.

Setelah ditangkap, korban dibawa secara paksa menggunakan mobil tanpa pelat nomor atau berbodi polos ke lokasi rahasia dan disekap selama beberapa pekan sebelum dideportasi ke Turki. "Selama dalam sekapan itulah mereka kerap dipaksa, disiksa, dan diperlakukan tidak manusiawi sampai mau mengakut sukarela ingin kembali ke Turki dan mengakui kejahatan tidak pernah dilakukan sehingga bisa diadili setibanya di Turki," tulis keempat pelapor khusus PBB itu dalam surat terbuka mereka.

Program Culik Pengkritik Erdogan juga menjangkau Amerika namun sampai sekarang para intelijen Turki gagal menculik satu pun pembangkang atau pendukung gerekan Gulen. "Mereka sudah berusaha dan akan terus berupaya," ujar Alon Ben-Meir, pakar Turki di Universitas New York.

Sasaran utama mereka tentu saja Fethullah Gulen. Dia menetap di Poconos, Negara Bagian Pennsylvania.

Di era pemerintahan Presiden Donald Trump, pernah dirancang sebuah kesepakatan deportasi Gulen dengan imbalan Turki menghentikan penyelidikan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, terjadi pada 2 Oktober 2018 di dalam Konsulat jenderal Saudi di Kota Istanbul, Turki.

Michael Flynn, penasihat keamanan nasional Amerika saat Trump menjabat, adalah orang mengupayakan agar Gulen bisa dipulangkan ke Turki. Dua bulan sebelum pemilihan presiden, pada 19 September 2016, Flynn dan beberapa tokoh bertemu dengan sejulah pejabat Turki, termasuk Berat Albayrak, mantunya Erdogan.

Pertemuan itu khusus membahas bagaimana menjelekkan pamor Gulen dan mengkstradisi dia dari Amerika. Juga ada opsi penculikan terhadap Gulen.

Hingga malam pergantian tahun pada 2018, Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul masih yakin Washington DC akan memenuhi permintaan Ankara untuk mendeportasi Gulen. "Insya Allah, Amerika bakal mengabulkan tuntutan kami di 2019," tuturnya. Tapi sampai sekarang Gulen masih aman di tempat tinggalnya di negara adikuasa itu.

 

Emine Erdogan, istri dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menenteng tas mahal buatan Prancis bermerek Hermes. (Twitter)

Gila belanja istri Erdogan

Emine Erdogan memiliki bros seharga Rp 221 juta.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sepak terjang milisi bayaran bikinan Erdogan

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Kuasa Erdogan jaya ISIS

Ada kesepakatan antara ISIS dan intelijen Turki untuk membuka perbatasan bagi jihadis-jihadis ISIS cedera untuk dirawat di Turki.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Makan malam pengubah status Hagia Sophia

Erdogan pada 10 Juli lalu seperti mengobati luka itu. Menjadikan Hagia Sophia masjid lagi bak sebuah kemenangan untuk kaum muslim.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR