kisah

Ben & Jerry's dan Anti-Zionis

Ben dan Jerry menegaskan mereka menyokong Israel tapi menentang penjajahan di Tepi Barat.

30 Juli 2021 10:53

Menjadi pembela Palestina itu tidak nyaman. Di negara-negara dengan pengaruh lobi Israel kuat, mereka bakal dikritik, dikecam, dan ditempel stigma anti-Zionis atau anti-Yahudi.

Cap buruk itulah sedang menimpa perusahaan es krim Ben & Jerry's karena Senin pekan lalu mengumumkan menghentikan penjualan produknya di wilayah-wilayah permukiman Yahudi di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Produsen es krim asal Amerika Serikat ini beralasan kedua daerah itu milik Palestina dan sedang dijajah oleh Israel.

Sila baca: Es krim Ben & Jerry's hentikan penjualan di Tepi Barat dan akan setop izin produsen di Israel

Dalam opininya dimuat di surat kabar the New York Times Rabu lalu, dua pendiri Ben & Jerry's - Ben Cohen dan Jerry Greenfield - bilang keputusan buat menyetop penjualan di semua permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur serta tidak akan memperpanjang izin produksi distributornya di israel kalau sudah habis akhir tahun depan, merupakan salah satu keputusan terpenting dalam 43 tahun usia Ben & Jerry's.

Ben dan Jerry menegaskan mereka menyokong Israel tapi menentang penjajahan di Tepi Barat.

Israel mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem Timur setelah menang dalam perang Enam hari pada Juni 1967. Negara Bintang Daud ini kemudian mendirikan permukiman Yahudi dicap ilegal menurut hukum internasional. Jumlahnya saat ini sekitar 250 permukiman dihuni oleh 600 ribu imigran Yahudi.

"Keputusan itu adalah penolakan terhadap kebijakan Israel melakukan penjajahan, merupakan penghalang bagi perdamaian dan melanggar hak-hak dasar rakyat Palestina hidup dalam penjajahan," tulis keduanya.

Ben dan Jerry menjelaskan kebijakan produsen es krim itu mestinya tidak dilihat sebagai anti-Israel, namun bagian dari sejarah panjang kampanye Ben & Jerry's mendukung perdamaian.

Di hari sama dengan kemunculan opini kedua pendiri Ben & Jerry's itu, 90 anggota Knesset (parlemen Israel) menyurati CEO Unilever, perusahaan induk Ben & Jerry's. Mereka meminta Unilever untuk membatalkan keputusan boikot itu.

Surat ini sebagai balasan terhadap pernyataan mendukung kebijakan Ben & Jerry's oleh lebih dari 90 tokoh Israel terhadap hak asasi manusia bangsa Palestina. Surat sokongan itu ditandatangani pula oleh mantan Perdana Menteri Ehud Olmert. 

Israel murka. Presiden Isaac Herzog baru saja mengakhiri masa jabatannya menyebut boikot dilakukan Ben &Jerry's sebagai bentuk terorisme. Perdana Menteri Naftali Bennett mengancam keputusan itu bakal merugikan Ben & Jerry's secara ekonomi.

Mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah mengkampanyekan kepada rakyat Israel untuk tidak lagi membeli es krim Ben & Jerry's. "Sekarang rakyat israel jadi tahu mana es krim tidak boleh dibeli," ujarnya lewat Twitter.

Situs berita Walla Selasa lalu melaporkan Kementerian Luar negeri israel telah mengirim kabel rahasia ke semua kantor perwakilan diplomatiknya di Amerika Utara dan Eropa. Para diplomat israel diminta untuk bekerjasama dengan organisasi yahudi, pro-Israel, dan kelompok Kristen Evangelis untuk menggelar demonstrasi di kantor-kantor Ben & Jerry's dan Unilever, perusahaan induknya.

Para diplomat negara Zionis itu disuruh menunjukkan protes secara terbuka terhadap keputusan Ben & Jerry's melalui pernyataan, opini di media, dan bertemu langsung dengan para petinggi perusahaan bergengsi. "Kita perlu memanfaatkan 18 bulan waktu tersisa sebelum keputusan itu berlaku, sehingga mereka membatalkannya," tulis kabel rahasia ini.

Diplomat-diplomat negara Bintang Daud itu diminta atif melobi para pejabat di lebih 30 negara bagian untuk di Amerika Serikat telah mengesahkan undang-undang antiboikot, divestasi, dan sanksi (BDS) untuk melepas saham mereka dari perusahaan-perusahaan memboikot Israel.

Bisa dibayangkan, perusahaan sebesar dan setenar Ben & Jerry's saja dihantam beragam tekanan. Banyak pula kejadian serupa menimpa para pembela Palestina, seperti dua profesor diberhentikan gegara menulis buku soal kekuatan lobi Israel di Amerika, wartawan dipecat lantaran menulis opini pribadi dan bukan berita mendukung perjuangan Palestina secara terbuka, serta surat kabar terbesar di Jerman sudah menyatakan menolak mempekerjakan jurnalis pro-Palestina.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah bertemu pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Ibu Kota Teheran. (Khamenei.ir)

Roket Syiah, milisi Sunni, target Zionis

Kesamaan tujuan membikin Iran bisa lebih fleksibel dalam memberikan bantuan tanpa melihat perbedaan paham.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mata-mata Gaza

Dua putra pemimpin Hamas juga ada yang menjadi informan Israel.

Peta negara Palestina dan Israel versi proposal damai Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Twitter)

Mengenal Lembah Yordania

Netanyahu akan memulai proses aneksasi Lembah Yordania dan 30 permukiman Yahudi di Tepi Barat pada 1 Juli.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Korupnya rezim Abbas

Pada 1996, terbit riset pertama dan satu-satunya mengenai korupsi dalam kepemimpinan Palestina. Penelitian ini membikin marah Arafat dan wartawan memberitakan studi itu ditangkap. 

22 September 2021
Tahanan lari jadi pahlawan
10 September 2021

TERSOHOR