kisah

Wajah baru Taliban

Amerika sudah meminta Presiden Afghanistan mundur untuk mencapai gencatan senjata dan membentuk pemerintahan transisi.

13 Agustus 2021 09:21

Banyak orang bertanya-tanya seperti apa wajah Afghanistan kalau Taliban berkuasa lagi di sana: Apakah bakal menyeramkan seperti ketika saat mereka menghancurkan patung Buddha raksasa dan menembak kepala seorang remaja putri sepulang dari sekolah? Atau Afghanistan akan menjadi negara Islam moderat?

Beruntung saya memiliki akses ke Taliban dan menjadi salah satu anggota grup WhatsApp Taliban dibuat oleh juru bicaranya Suhail Syahin. Sehingga saya dapat meminta klarifikasi terhadap perkembangan perundingan antara Taliban dengan pemerintah Afghanistan.

Kalau ingin tahu kebenaran perkembangan di lapangan, saya dapat menelepon langsung juru bicaranya di Afghanistan, Zabihullah Mujahid.

Kembalinya Taliban ke pucuk kekuasaan di Afghanistan hampir kesampaian. IndependentPersian.com hari ini melaporkan Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin semalam menelepon Presiden Afghanistan Muhammad Asyraf Ghani. Kedua menteri Amerika Serikat ini meminta Ghani mundur agar bisa tercapai gencatan senjata untuk membentuk pemerintahan transisi.

Sila baca: Restu Amerika buat Taliban

Di media sosial sudah bergaung kampanye agar rakyat Afghanistan mencegah para petinggi Afghanistan kabur. Gerakan ini menuntut para pemimpin negara itu untuk bertanggung jawab atas porakporandanya Afghanistan selama masa pendudukan Amerika. Negara lain diminta menolak pejabat Afghanistan datang meminta perlindungan.

Sejak Jumat pekan lalu sampai hari ini, Taliban sudah merebut 13 ibu kota provinsi. Bermula dari Zaranj (Provinsi Nimruz), kemudian berlanjut dengan Syabarghan (Provinsi Jauzan), Kunduz (Provinsi Kunduz), Saripul (Provinsi Saripul), Talaqan (Provinsi Takhar), Aibak (Provinsi Samangan), Farah (Provinsi Farah), Puli Khumri (Provinsi Baghlan), Faizabad (Provinsi Badakhsyan), Ghazni (Provinsi Ghazni), Kandahar (Provinsi Kandahar), Herat (Provinsi Herat), dan terakhir hari ini yakni Qalai Nau (Provinsi Baghlan).

"Memang benar kami sekarang sudah menguasai Kandahar dan Herat," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada Albalad.co melalui pesan WhatsApp semalam.

Dari beragam foto dan rekaman video diperoleh Albalad.co, banyak tentara pemerintah dan gubernur menyerah ketika pasukan Taliban sudah masuk ke pusat kota. Taliban akhirnya memberikan dua pilihan kepada mereka: ikut bergabung dengan Taliban atau bebas pergi meninggalkan wilayah tadinya mereka kuasai.

Taliban tidak menawan, menyiksa, atau mengeksekusi tentara dan pejabat pemerintah telah menyerah. Mereka dipersilakan pergi dari kota sudah dicaplok Taliban bahkan di antara hingga ke batas wilayah.

Seperti terjadi di Ghazni kemarin. Gubernur Daud Laghwani sepakat buat menyerah. Taliban dan anak buahnya kemudian mengawal konvoi mereka pergi hingga ke luar kota Ghazni. Di Kunduz demikian. Ratusan tentara terkepung di Bandar Udara Kunduz akhirnya menyerah dan tidak ada yang dieksekusi.

Banyak juga pejabat dan tentara pemerintah Afghanistan kabur ke negara tetangga setelah ibu kota provinsi mereka dicambil alih Taliban. Bahkan Menteri Keuangan Afghanistan Khalid Payinda sudah pergi meninggalkan negaranya sedari Ahad pekan lalu.

Taliban juga lebih memilih jalan dialog untuk mencaplok ibu kota provinsi belum mereka caplok. Taliban saat ini menyerukan kepada para pejabat dan sesepuh suku di prvinsi Paktia, Khost, Logar, Wardak, Uruzgan, Bamiyan, Faryab, Nangarhar, Nuristan, dan Kunar untuk menyerah ketimbang mesti bertempur untuk menumpahkan darah sesama rakyat Afghanistan

Perlakuan baik Taliban terhadap tentara dan pejabat pemerintah sudah menyerah sesuai arahan Wakil Pemimpin Taliban Urusan Militer Mullah Muhammad Yakub. Putra dari mendiang pemimpin pertama Taliban Mullah Muhammad Umar ini sekaligus panglima angkatan bersenjata Taliban.

Dalam rekaman audionya, dia meminta semua pejuang Taliban itu untuk membiarkan tentara dan pejabat pemerintah sudah menyerah tetap hidup dan menjaga martabat mereka. Dia mewajibkan pasukan Taliban sudah menguasai sebuah kota untuk memelihara keamanan dan menjaga fasilitas umum di daerah itu.

Mullah Muhammad Umar memperingatkan para pejabat Taliban agar perintahnya jangan sampai dilanggar. "Kalau terjadi pelanggaran, maka pejabat provinsi dan keamanan Taliban harus bertanggung jawab," ujarnya.

Taliban pun lebih jujur dalam menyampaikan perkembangan di lapangan. Hal ini diakui pula oleh Faran Jeffery, pakar terorisme asal Pakistan tinggal di Islamabad sekaligus Wakil Direktur dIslamic Theology of Counter-Terrorism, lembaga kajian berpusat di Inggris. "Kalau pemerintah menyebarluaskan informasi di media sosial, saya mesti mengecek berkali-kali kebenarannya karena sering mengunggah foto dan video lama atau palsu," tuturnya.

Taliban sudah bersalin wajah. Kali ini tidak lagi seseram ketika mereka berkuasa selama 1996-2001.

Dalam pertemuan Troika Plus di Ibu Kota Doha, Qatar, Rabu lalu, Wakil Pemimpin Taliban Urusan Politik Mullah Abdul Ghani Baradar menegaskan Taliban selalu berkomitmen untuk menyelesaikan perang saudara ini lewat dialog, namun pemerintah Afghanistan tidak serius melaksanakan komitmennya.

Baradar menekankan Taliban tidak ingin memonopoli kekuasaan di Afghanistan tapi mau membentuk pemerintahan inklusif dan bebas dari korupsi. Taliban membuka kesempatan bagi warga Afghanistan untuk berkontribusi dalam pemerintahan sesuai kompetensi dan pengalamannya.

"Semua warga negara akan sama di muka hukum, tidak ada satu pun yang kebal hukum," kata Baradar dalam salinan pidato diperoleh Albalad.co kemarin. "Kami berkomitmen penuh terhadap prinsip-prinsip internasional, hak asasi manusia, hak minoritas, hak perempuan, kebebasan berekspresi, dan semua hak warga negara berdasarkan prinsip Islam dan kepentingan negara dan rakyat."

Kepada Albalad.co melalui telepon WatsApp semalam, juru bicara Taliban Suhail Syahin menegaskan lagi Afghanistan di bawah kendali Taliban akan menjadi negara Islam moderat, siap menjalin relasi dengan semua negara terutama negara-negara muslim.

Wakil Perdana Menteri Pertama Afghanistan Mullah Abdul Ghani Baradar menerima delegasi Kirgistan di Ibu Kota Kabul, 23 September 2021. (Albalad.co/Supplied)

Organisasi kemanusiaan dan dua konglomerat Israel evakuasi warga Afghanistan

Lusinan perempuan Afghanistan ini kemudian dikirim ke Uni Emirat Arab untuk ditampung sementara, sebelum bisa pindah menetap di Kanada. 

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Afghanistan Jenderal Bismillah Muhammadi Khan (kiri) dan Jenderal Syarif Yaftali pindah ke Tajikistan setelah diusir dari Uni Emirat Arab. (Albalad.co/Supplied)

UEA usir dua jenderal Afghanistan

Bismillah Khan dan Yaftali bergabung dengan eks Wakil Presiden Amrullah Saleh dan Ahmad Masud Junior lebih dulu pindah ke Tajikistan. 

Wakil Perdana Menteri Pertama Afghanistan Mullah Abdul Ghani Baradar saat berada di Kota Kandahar membantah berita bohong menyebutkan dirinya luka atau tewas karena berkonflik dengan kelompok Haqqani di Ibu Kota Kabul. (Albalad.co/Supplied)

Dua pentolan Taliban pro-Iran akhirnya masuk pemerintahan baru Afghanistan

Hasan Ghiasi, beretnis Hazara, dipilih menjadi Wakil Menteri Kesehatan.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Qatar Muhammad Basri Sidehabi berpose bareng dua petinggi Taliban: Mullah Abdul Ghani Baradar dan Mullah Abdussalam Hanafi (keduanya kini menjabat Wakil Perdana Menteri Afghanistan) ketika delegasi Taliban bertemu Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Juli 2019. (Albalad.co)

Lobi rahasia Kalla gaet Taliban

Semua lobi dilakukan Jusuf Kalla untuk menggaet Taliban atas perintah dan sepengetahuan Presiden Joko Widodo.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Korupnya rezim Abbas

Pada 1996, terbit riset pertama dan satu-satunya mengenai korupsi dalam kepemimpinan Palestina. Penelitian ini membikin marah Arafat dan wartawan memberitakan studi itu ditangkap. 

22 September 2021
Tahanan lari jadi pahlawan
10 September 2021

TERSOHOR