kisah

Krisis bahan bakar di negeri Cedar

Awal bulan ini, pemerintah Libanon meluncurkan kartu tunai pengganti subsidi. Tiap orang mendapat bantuan fulus US$ 25 atau maksimum US$ 126 per keluarga. Untuk warga berumur 64 tahun ke atas mendapat tambahan US$ 15.

20 September 2021 23:55

Para pengendara mobil mesti tidur dalam antrean mengular di luar stasiun-stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) bensin di Libanon hanya agar setengah tangki kendaraannya terisi bahan bakar minyak (BBM). Cekcok dan baku hantam karena berebut bensin serta solar jadi pemandangan lazim saban hari.

"Kami biasa mengantre untuk waktu sangat lama tapi akhirnya tangki mobil kami penuh terisi," kata sopir taksi bernama Muhammad Khuraidah. "Tapi sekarang cuma memberikan jatah 20-25 liter saja."

Ahad pekan lalu, Khuraidah mengantre di sebuah SPBU sejak jam tiga dini hari sampai pukul tiga sore untuk memperoleh bensin sepertiga dari kapasitas tangki kendaraannya. Ini cuma cukup untuk sehari. "Situasinya benar-benar buruk. Lebih parah ketimbang pekan lalu."

Sehari sebelumnya, pemilik perusahaan taksi bernama Taufiq Musa terpaksa menyetir 40 kilometer dari Ibu Kota Beirut ke arah selatan menuju Kota Saidah untuk mendapatkan BBM di pasar gelap. Harganya empat kali lebih mahal dibanding tarif resmi. "Ini situasi terburuk sekarang. Mereka menaikkan harga tapi tidak ada pasokan," ujarnya sehari setelah pemerintah menetapkan harga BBM melonjak 38 persen.

W2FTO2GTXFATJMKABZB7TABADA

Pembangkit-pembangkit listrik pemerintah sangat mengandalkan solar, cuma bisa menghasilkan listrik untuk beberapa jam saja per hari. Sehingga rakyat Libanon menggantungkan cahaya pada generator, namun solar sebagai bahan bakarnya juga langka.

Kebanyakan wilayah Ibu Kota Beirut gelap gulita tiap malam sejak musim panas tahun ini. Rumah-rumah sakit, perusahaan, dan pabrik terpaksa tutup atau mengurangi jam operasional mereka karena pasokan listrik sangat terbatas.

Penyebab utama kelangkaan listrik ini karena bank sentral membatasi impor BBM demi menghemat devisa. Libanon sudah menyatakan bangkrut atau tidak mampu emmbayar utang luar negerinya Maret lalu.

Importir BBM dan para pemilik SPBU bilang bank sentral membatasi impor BBM dua kapal saja sebulan. Padahal Libanon tiap bulan membutuhkan 10-15 kapal tanker mengangkut BBM impor.

Bahkan kapal tanker pengangkut BBM impor itu mesti menunggu berhari-hari di Pelabuhan Beirut sebelum bisa membongkar muatannya.

Bank Sentral Libanon memang sudah bertahap mencabut subsidi BBM sedari tahun lalu. Sejak pekan dua pekan lalu, tidak ada lagi subsidi untuk solar sekarang ini dijual seharga US$ 540 per ton, menurut Marc Ayub, peneliti kebijakan energi dari Issam fares Institute for Public Policy and International Affairs di the American University of Beirut.

"Ini kali pertama pemerintah Libanon menjual komoditas dalam dolar Amerika Serikat," kata Ayub kepada the National.

Penyebab lain dari kelangkaan BBM di Libanon adalah importir menjual dengan harga tinggi di pasar gelap. Atau menyelundupkan BBM ke Suriah memang harga jualnya lebih tinggi dan juga sedang langka.

Selama Januari hingga Juli tahun ini, pembelian bensin oleh sektor swasta turun 15 persen ketimbang periode serupa pada 2019. Sedangkan pembelian bensin dan solar oleh pemerintah anjlok 24 persen.

Ayub menuding para importir sengaja menyimpan BBM untuk dijual dengan harga lebih tinggi ketika subsidi dicabut. Dia menyebut segelintir importir ini sudah menjadi sebuah kartel dan berkomplot dengan politisi korup.

"Kalau tidak ada BBM di sebuah SPBU, bagaimana bisa Ana menelepon dan kemudian datang bergalon-galon BBM dengan harga dua kali limpat dibanding tarif resmi?" ujar Ayub. Sebagian importir dan SPBU sejatinya mempunyai stok BBM."

Para importir membantah tuduhan itu. Mereka mengklaim cadangan BBM mereka di bawah kontrol Bea Cukai Libanon.

Pemerintah Libanon sampai saat ini belum menyampaikan skema jelas mengenai pencabutan subsidi BBM. Tapi sekali rencana itu dipublikasikan harga BBM akan mengikuti harga pasar global, sehingga para importir tidak lagi bergantung pada bank sentral.

Permintaan akan BBM bakal melorot lantaran harganya naik. Sebab, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, hampir 80 persen rakyat Libanon hidup miskin. Sedangkan sebelum krisis terjadi dua tahun lalu, jumlah penduduk papa sekitar 30 persen.

Awal bulan ini, pemerintah Libanon meluncurkan kartu tunai pengganti subsidi. Tiap orang mendapat bantuan fulus US$ 25 atau maksimum US$ 126 per keluarga. Untuk warga berumur 64 tahun ke atas mendapat tambahan US$ 15.

 

 

Peziarah Yahudi sedang berdoa dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. (Albalad.co/Supplied)

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

Ron Arad, pilot pesawat tempur Israel hilang dalam misi di Libanon pada 1986. (Israel Air Force)

Menculik jenderal Iran mencari tahu jenazah pilot Israel

Mossad mengirim dua tim: mengambil sampel DNA satu mayat di Libanon dan menculik seorang jenderal Iran di Suriah.

Rumah mewah milik Raja Yordania Abdullah bin Husain berlokasi di Malibu, California, Amerika Serikat. (BBC Panorama)

Harta rahasia penguasa negara Bani Hasyim

Properti milik Raja Abdullah di Malibu, London, Ascot, dan Georgetown senilai lebih dari Rp 1,3 triliun.

Dua pembangkit listrik apung milik Karpowership, perusahaan asal Turki, menghentikan operasinya di Libanon pada 1 Oktober 2021 karena kontrak sudah berakhir. Karpowership sudah memasok listrik untuk Libanon sejak 2013. (Telegram)

Dua pembangkit listrik apung Turki hentikan pasokan ke Libanon

Pemadaman massal kerap terjadi di Libanon. Sebab EDL hanya mampu mengalirkan listrik empat jam saja saban hari untuk sebagian besar wilayah Libanon.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Provokasi Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Bukan sekadar berdoa, pengajian soal Torah juga sering digelar kaum Yahudi di areal Al-Aqsa.

13 Oktober 2021
Korupnya rezim Abbas
22 September 2021

TERSOHOR