kisah

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.

15 November 2021 22:22

Di hari pertama bulan ini, sebuah pesawat pribadi buatan Prancis, Dassault Falcon, bernomor registrasi P4-RMA, lepas landas dari Bandar Udara Internasional Dubai di Uni Emirat Arab dan mendarat di Bandar Udara Ben Gurion, Ibu Kota Tel Aviv, Israel.

Pesawat milik Jenderal Khalifah Haftar asal Libya itu berada di Ben Gurion selama 90 menit. Penumpangnya adalah Saddam, putra sekaligus orang kepercayaan dari Khalifah Haftar. Entah siapa ditemui Saddam di sana.

Lawatan Saddam ke Tel Aviv itu sekaligus bukti relasi Libya-Israel telah berlangsung sedari era Muammar Qaddafi, pemimpin Libya tewas ditembak pemberontak di kampung halamannya, Sirte, Oktober 2011.

Bukan itu saja. Saif al-Islam Qaddafi, anak lelaki dari mendiang Qaddafi, kemarin mendaftar sebagai calon presiden Libya, dan Khalifah Haftar, telah menyewa perusahaan konsultan sama dari Israel buat menangani kampanye mereka agar menang dalam pemilihan presiden pada 24 Desember.

20211115_192213

Bagi Israel, Libya itu amat penting. Sebab negara Arab di Afrika Utara ini berbatasan dengan Mesir, negeri Arab pertama berdamai dengan mereka melalui Perjanjian Camp David pada 1979. Selain itu, banyak komunitas Yahudi dari Libya tinggal di negara Zionis itu.

Karena itulah, para pejabat dari Dewan Keamanan Nasional Israel bertahun-tahun memelihara kontak dengan kolega mereka dari Libya. Meir Ben Shabbat, waktu itu menjabat Ketua Dewan Keamanan Nasional, menunjuk mantan agen Shin Bet (dinas rahasia dalam negeri Israel) berinisial R dan bernama samaran Maoz untuk menjaga hubungan dengan negara-negara Arab. Dia pensiun Januari tahun ini.

Setelah Perdana Menteri Naftali Bennett menunjuk Eyal Hulata mengepalai Dewan Keamanan Nasional, urusan Libya ditangani oleh Nimrod Gez, eks pejabat Shin Bet dan pernah memimpin unti pasukan di perbatasan dengan Jalur Gaza. Gez menjadi ketua departemen urusan Timur Tengah dan Afrika.

Kunjungan Saddam ke Tel Aviv berkaitan dengan pemilihan presiden Libya bulan depan. Kalau ayahnya menang, pemerintahan bersatu bakal membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Khalifah haftar termasuk sekelompok perwira muda diirekrut oleh Muammar Qaddafi untuk melancarkan kudeta terhadap Raja Idris as-Sanusi pada 1969 dan menjadikan Libya sebagai negara republik. Selama Perang Yom Kippur pada 1973, Qaddafi mengirim Haftar dan pasukannya untuk membantu Mesir melawan Israel.

Qaddafi lantas menaikkan pangkat Haftar menjadi kolonel. Pada 1987, Haftar bersama pasukannya dikirim untuk mencaplok sebagian wilayah negara tetangga, Chad. Tapi upaya ini gagal dan Haftar menjadi tawanan.

Qaddafi menolak membebaskan Haftar. Kesal tidak dianggap lagi, atas dukungan CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika Serikat, Haftar dan tentara-tentara setianya menentang Qaddafi dan tidak kembali ke Libya setelah dibebaskan oleh Chad.

Haftar dan pasukannya mendapat suaka di Amerika. Juga atas sokngan CIA, Haftar beberapa kali gagal mendongkel rezim Qaddafi.

Haftar dan keluarganya mendapat kewarganegaraan Amerika. Sesuai hukum berlaku di Libya, inilah membikin Haftar atau Saddam sudah mencalonkan diri sebagai presiden lantaran berpaspor ganda.

Haftar sekeluarga menetap di Virginia, tidak jauh dari markas CIA di Langley.

Setelah pemberontakan meletup pada 2011 dan akhirnya membunuh Qaddafi, Haftar pulang ke Libya. Dia berusaha menjadi penguasa namun tidak berhasil.

Perang saudara di Libya menjadi pertarungan negara-negara lain. Pemerintahan terbagi dua. Haftar memimpin pemerintahan berbasis di Benghazi dan Tobruk, didukung oleh Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Rusia, dan diam-diam Prancis.

Sedangkan pemerintahan di Tripoli diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan Turki.

UEA mengirim pasokan persenjataan bagi Haftar, termasuk pesawat pengebom nirawak, agar bisa menaklukkan Tripoli. Mesir dan Yordania juga bertindak serupa.

Pasukan bayaran Wagner Group juga terlibat menyokong Haftar. teorinya Wagner Group adalah pasukan swasta tapi mereka sebenarnya beroperasi atas arahan intelijen dan militer Rusia.

Setelah Qaddafi berkuasa, Israel menjadi lebih tertarik dengan Libya lantaran Qaddafi mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dia mendanai, mempersenjatai, dan melatih kelompok-kelompok pejuang Palestina.

Perwakilan israel menjalin kontak diplomatik dan kemanusiaan dengan rezim Qaddafi. Relasi ini dielola oleh saif al-islam Qaddafi melalui para pengusaha Yahudi asal Libya. Salah satunya bernama Walter Arbib, beroperasi di Kanada.

Satu dasawarsa lalu, Haaretz melaporkan Arbib menjadi mediator utama membantu pembebasan fotografer sekaligus artis Israel berdarah Tunisia, Rafael Haddad, pada 2010. Dia ditangkap di Libya atas tuduhan menjadi mata-mata.

Di tahun itu pula, atas permintaan Kementerian Luar negeri israel Arbib berhasil membujuk Saif al-Islam untuk membatalkan pengiriman bantuan kemanusiaan lewat laut untuk warga Palestina di Gaza.

Sesuai kesepakatan, kapal kemanusiaan dari Libya itu berlabuh di Al-Arisy, Mesir, dan barang-barang bantuan dikirim ke Gaza melalui perlintasan Rafah. Libya juga dizinkan mendirikan bangunan-bangunan tinggal pasang di Gaza dan Israel membebaskan sejumlah tahanan Palestina.

Setelah kekuasaan ayahnya tumbang, Saif al-Islam masih memelihara relasi dengan para pengusaha Libya berdarah Yahudi.

Adik perempuannya, Aisyah, malah bertindak ganjil. Setelah berhasil kabur ke Aljazair, dia mengontak rekan-rekan bisnis keluarganya untuk mencari tahu apakah dia dan keluarganya bisa mendapat suaka di Israel. Aisyah bahkan menelepon seorang pengacara Israel di Yerusalem untuk memastikan apakah sebagai keturunan Yahudi dari pihak nenek ayahnya, dia dapat bermukim di negara Bintang Daud itu sesuai Hukum Kembali.

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.

Sudah beberapa tahun belakangan, Aisyah bersama anak-anak dan ibunya tinggal di Oman.

Siapa saja barangkali menang antara Saif al-Islam atau Khalifah Haftar dalam pemilihan presiden bulan depan, Libya kemungkinan besar menjalin relasi resmi dengan Israel.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Seorang pemberontak menginjak poster bergambar pemimpin Libya Muammar Qaddafi di pintu masuk Bab al-Aziziyah, Tripoli, Oktober 2011. (Albalad.co)

Kenangan istimewa terhadap keluarga Qaddafi

Kisah-kisah kelam itu berbeda dengan pamor harum Qaddafi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Putra dari mendiang Muammar Qaddafi daftar jadi calon presiden Libya

Setelah diperiksa, semua persyaratan administrasi Saif al-Islam terpenuhi. 

Saiful Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi. (Change.org)

Dua calon kuat presiden Libya sewa perusahaan konsultan Israel

Saif al-Islam telah menyampaikan keinginannya menyewa perusahaan konsultan Israel itu melalui seorang model perempuan tinggal di Dubai.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

03 Desember 2021
Kalah air dekap Israel
26 November 2021
Natali dan azan di Istanbul
19 November 2021

TERSOHOR