kisah

Tatap Piala Dunia perdana di negara muslim

Qatar ingin menjadikan Piala Dunia 2022 bukan sekadar acara mereka sendiri. Ini juga menjadi Piala Dunia bagi dunia Arab dan muslim.

24 Desember 2021 23:27

Qatar sukses menyelenggarakan Piala Arab pertama. Sebanyak 16 negara Arab tergabung dalam empat grup bertanding selama 30 November hingga 18 Desember lalu untuk memperebutkan trofi turnamen sepak bola perdana antar negara Arab.

Piala Arab ini menyatukan bekas musuh - Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir - serta negara tetangga sedang bermusuhan, Maroko dan Aljazair, putus hubungan diplomatik sejak Agustus lalu karena isu Sahara Barat.

Aljazair menaklukkan Maroko di perempat final, akhirnya menjadi negara pertama menjuarai Piala Arab setelah menundukkan Tunisia di babak final.

Piala Arab ini seolah menjadi magang bagi Qatar karena setahun lagi negara Arab supertajir ini bakal menggelar Piala Dunia, turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat. Qatar merupakan negara Arab sekaligus berpenduduk mayoritas muslim pertama akan menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun depan.

Arab Saudi pantas iri terhadap Qatar. Negara Kabah ini pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA pada 1994 di Amerika Serikat, berlanjut pada 1998 (Prancis), 2002 (Jepang dan Korea Selatan), serta 2006 (Jerman). Saudi baru ikut lagi Piala Dunia 2018 di Rusia.

Mesir juga layak cemburu karena merupakan salah satu negara Arab dengan tradisi sepak bola kuat. Penonton mereka fanatik terhadap liga domestik. A[alagi negara Nil ini sekarang punya megabintang, yakni Muhammad Salah saat ini bermain untuk Liverpool FC, klub Liga Primer Inggris.

Mesir pertama kali tampil dalam Piala Dunia 1990 di Italia. Sehabis itu mereka gagal untuk enam Piala Dunia selanjutnya. Kemudian baru tampil lagi pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Seberapa siap Qatar menggelar Piala Dunia 2022, negara tidak pernah lolos ke putara final Piala Dunia dan kurang dalam hal tradisi sepak bola?

Hampir 90 persen dari 2,9 juta penduduk Qatar adalah pekerja migran. Lebih dari sejuta penggemar diperkirakan membanjiri negara Arab Teluk ini dalam Piala Dunia 2022.

Ada banyak mesti dikerjakan Qatar untuk menjadi tuan rumah baik. "Ada banyak proyek infrastruktur sedang dilakukan. Semua ini akan rampung pada musim panas tahun depan," kata Fatmah an-Nuaimi, Direktur Komunikasi 2022 World Cup Supreme Committee for Delivery & Legacy, kepada Middle East Eye.

Dia menekankan sebagian besar proyek infrastruktur sudah selesai. Jalan-jalan bebas hambatan ditingkatkan dan diperluas. Juga pembuatan areal pejalankaki di tepi pantai.

Qatar mesti mengandalkan transportasi umum saat Piala Dunia 2022 dilangsungkan untuk menghindari kemacetan di negara mungil itu. Seklah harus diliburkan untuk memberi kesempatan generasi muda mereka menonton laga sepak bola kelas dunia, juga mengurangi lalu lintas mobil di jalanan.

"Bagi warga Qatar, tiap orang biasa memakai mobil sendiri tapi kami sedang meluncurkan kampanye untuk lebih sering menggunakan transportasi umum," ujar Fatmah.

Karena itulah, kereta cepat bawah tanah otomatis Doha Metro mulai beroperasi dua tahun lalu. Kereta ini direncanakan menjadi transportasi utama para penonton Piala Dunia tahun depan.

Akomodasi juga menjadi tantangan besar untuk Qatar. Buat menampung lebih dari sejuta penoton dari beragam negara di negara berpenduduk kurang dari tiga juta bukan perara gampang.

"Kami tidak akan membangun hotel baru melebihi kapasitas diperlukan negara ini," tutur Fatmah. Jalan keluarnya adalah hotel-hotel apung, lebih tepatnya kapal pesiar, bisa dihuni sampai empat ribu orang. Juga tenda-tenda di gurun untuk memberikan pengalaman hidup kaum Arab Badui kepada para penonton asing asing.

Secara keseluruhan, Qatar ingin menyediakan 130 ribu kamar selama Piala Dunia 2022, sebanyak 60 ribu diantaranya dipasok oleh vila dan apartemen dikelola oleh Accor, jaringan hotel terbesar di Eropa.

Dengan total kamar hotel kurang dari 30 ribu di Qatar, hotel apung, apartemen, dan solusi inovatif lainnya sangat penting.

Seorang pejabat pemerintah Qatar bilang keuntungan Qatar sebagai negara berukuran kecil menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah penonton tidak harus naik pesawat untuk menonton laga di berbagai kota. Lokasi pertandingan juga lebih mudah dijangkau.

Jarak paling jauh antara dua stadion untuk laga Piala Dunia 2022 adalah dari Stadion Al-Bait di Kota Khor dengan Stadion Al-Janub di Kota Al-Wakrah, yakni 70 kilometer dan bisa ditempuh dengan bermobil selama 50 menit. Tujuh dari delapan stadion dipakai untuk Piala Dunia 2022 dapat dicapai dalam setengah jam dari jantung Ibu Kota Doha.

"Kami tidak memiliki kekhawatiran besar mengenai akomodasi dan transprtasi," kata peabat itu. "Semuanya sudah direncanakan dengan seksama, diuji, dan dipelajari dari pelaksanaan Piala Arab."

Dua isu menjadi perhatian masyarakat internasional adalah pekerja migran menjadi buruh proyek Piala Dunia 2022 serta hak-hak kaum lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ).

Qatar sudah berusaha menyelesaikan masalah pekerja migran dengan menghapus sistem kafala, menerapan gaji paling rendah, melarang majikan memegang paspor pekerja, dan membatasi jam kerja di luar ruangan selama musim panas, di mana suhu udara di Qatar saat itu bisa lebh dari 40 derajat Celcius.

Pejabat ini mengakui Piala Dunia 2022 telah membangun mereka. "Sepuluh tahun lalu, beberapa akomodasi bagi pekerja migran sangat tidak layak," ujarnya.

Fatmah pun mengamini. Dia mengklaim sudah banyak peningkatan dilakukan Qatar terhadap kesejahteraan pekerja migran.

Namun prakteknya tidak semulus itu. Beberapa pekerja migran mengungkapkan kepada Middle East Eye, sejumlah perusahaan tidak mematuhi kebijakan baru diterbitkan pemerintah Qatar.

Dua pekerja migran, masing-masing bekerja di proyek konstruksi dan hotel, mengatakan paspr mereka ditahan oleh majikan, praktek ilegal menurut aturan baru.

Seorang pekerja migran di sebuah hotel menjelaskan dia dipaksa bekerja hingga melebihi waktu seharusnya untuk mendapat gaji minimum dan tidak mendapat uang lembur.

Mengenai kaum minoritas, Fatmah menegaskan penton dan pesepak bola tidak perlu khawatir bakal mengalami tindakn diskriminatif selama Piala Dunia 2022. "Semua orang boleh datang tanpa melihat ras, agama, jenis kelamin, dan orientasi seks mereka," ujarnya.

Di luar semua itu, Qatar ingin menjadikan Piala Dunia 2022 bukan sekadar acara mereka sendiri. Ini juga menjadi Piala Dunia bagi dunia Arab dan muslim.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Berkenalan dengan generasi Arab Zionis

Muhammad Saud di Riyadh, Luai Syarif di Abu Dhabi, dan Fatimah al-Harbi di Manama berkampanye soal bersahabat dengan Israel.

Petani Senegal belajar cara menggunakan Tipa, alat irigasi tetes buatan Israel. (Mashav)

Bertani dengan teknologi Israel

"Kalau saja normalisasi itu terwujud, di tahap awal akan ada investasi di sektor pertanian senilai US$ 2 miliar," kata Stein.

Philippe Boutron, pereli Prancis mengalami luka parah di kedua kakinya, akibat ledakan menghantam mobil ditumpangi tim reli Prancis di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Desember 2021. (MFE)

Bom jelang reli, aib Saudi

Lokasi Reli Dakar dipindah dua kali karena masalah keamanan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menerima kunjungan para pemuka Yahudi di Ibu Kota Ankara, Turki, 22 Desember 2021. (Video screengrab)

Nihil solusi buat Palestina dan normalisasi dengan Israel

Semakin tidak ada solusi untuk kemerdekaan Palestina, kian kuat keinginan negara-negara muslim menormalisasi hubungan dengan Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Berkenalan dengan generasi Arab Zionis

Muhammad Saud di Riyadh, Luai Syarif di Abu Dhabi, dan Fatimah al-Harbi di Manama berkampanye soal bersahabat dengan Israel.

17 Januari 2022
Bom jelang reli, aib Saudi
07 Januari 2022

TERSOHOR