kisah

Nihil solusi buat Palestina dan normalisasi dengan Israel

Semakin tidak ada solusi untuk kemerdekaan Palestina, kian kuat keinginan negara-negara muslim menormalisasi hubungan dengan Israel.

29 Desember 2021 14:55

Indonesia sedang terjebak dalam situasi dilematis selama ini dihadapi negara-negara berpenduduk mayoritas muslim mendukung terang-terangan kemerdekaan Palestina: sampai saat ini tidak bisa menemukan solusi agar Palestina menjadi negara merdeka dan berdaulat dengan normalisasi hubungan Israel berpotensi menguntungkan secara ekonomi dan keamanan.

Sila baca: Palestina, sebuah negara khayalan

Padahal Indonesia bareng Arab Saudi, dua negara pendukung Palestina tapi tidak berambisi melenyapkan Israel seperti Iran, akan selalu menjadi sasaran utama proyek normalisasi relasi dengan negara Zionis itu.

Bahkan upaya itu sudah dilakoni Israel sedari negara Bintang Daud ini baru dibentuk pada 1948. Selama Orde Baru, Indonesia dan Israel bekerjasama diam-diam di bidang intelijen dan pertahanan.

Kemajuan dialami di era Presiden Abdurrahman Wahid, akhirnya mencabut larangan berbisnis antara pihak swasta Indonesia dan Israel, namun hubungan dagang dan investasi ini tetap berlangsung secara rahasia.

Terakhir, dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Jakarta Selasa dua pekan lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengangkat isu normalisasi hubungan Indonesia-Israel, seperti dilansir Axios Kamis pekan lalu.

Sila baca: Blinken bahas normalisasi Indonesia-Israel dalam lawatannya ke Jakarta pekan lalu

Kementerian Luar Negeri membenarkan soal ini. Namun Retno kembali menegaskan posisi Indonesia untuk tetap membantu Palestina. "Ibu Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi) menyampaikan Indonesia akan terus bersama rakyat Palestina memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Faizasyah kepada Albalad.co melalui pesan WhatsApp Ahad minggu lalu.

Padahal ada keuntungan ekonomi dan keamanan bisa dinikmati oleh Indonesia jika menormalisasi hubungan dengan Israel. Dalam opininya dilansir Albalad.co pada 31 Desember 2020, Wakil Ketua Kamar Dagang Israel-Indonesia Emanuel Shahaf menjelaskan potensi perdagangan kedua negara saat ini senilai US$ 500 juta dimana 80 persennya adalah ekspor Indonesia ke negara Bintang Daud itu.

Sila baca: Israel and Indonesia: What lies ahead

Sejatinya sudah ada kenormalan baru antara negara-negara pendukung Palestina terhadap Israel. Mereka tidak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan dengan negara Zionis itu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman bahkan sudah tiga kali bertemu Benjamin Netanyahu semasa menjabat perdana menteri Israel. terakhir kali ketika November tahun lalu, Netanyahu terbang ke Neom, proyek kota impian Bin Salman di tepi Laut Merah.

Sejak tahun lalu, Saudi mengizinkan wilayah udara dilintasi oleh semua penerbangan dari dan menuju Israel. Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa, Sekretaris Jenderal Liga Dunia Musim sekaligus mantan Menteri Kehakiman Arab Saudi merupakan orang kepercayaan Bin Salman, bahkan sudah biasa menjalin hubungan dengan para pelobi Zionis. Dia berdoa dan salat di bekas kamp pembantaian Yahudi oleh tentara Nazi Jerman di Auschwitz, Polandia. Dia juga menjadi pembicara dalam forum global AJC (Komite Yahudi Amerika).

Bulan lalu, 20 tokoh Yahudi dari Amerika melawat ke Saudi untuk mendorong normalisasi dengan Israel.

Axios menulis para pejabat Indonesia dan Israel pun kerap bertemu, terutama di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dilangsungkan saban September di Kota New York, Amerika. Bahkan bulan lalu, dalam jamuan makan malam di acara konferensi keamanan regional di Ibu Kota Manama, Bahrain, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertukar kartu nama dengan penasihat keamanan nasional Israel Eyal Hulata.

Yoel Hareven, Direktur Divisi Internasional Sheba Medical Center, rumah sakit terbaik di Israel, mengungkapkan kepada Albalad.co, para pangeran dari negara Arab Teluk biasa berobat ke Israel untuk penyakit-penyakit kronis.

Seorang pengusaha Indonesia juga pernah meminta tolong kepada Albalad.co mengenai masalah ini.

Bahkan kerabat pemimpin Hamas Ismail Haniyah juga berobat ke Israel.

Kenormalan baru ini dan lelah karena sudah buntu mencari solusi bagi kemerdekaan Palestina, membuat Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan akhirnya tahun lalu memutuskan untuk membina hubungan diplomatik dengan Israel. Namun Sudan masih menemui ganjalan lantaran krisis politik di dalam negeri.

Langkah keempat negara Arab dan muslim itu bukan baru dan tabu. Turki menjadi negara pertama membuka relasi resmi dengan Israel pada 1949. Disusul Mesir (1979), Albania (1991), Azerbaijan (1992), Yordania (1994) UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan (2020), serta Kosovo (2021).

Kalau mau jujur, kebijakan sepuluh negara muslim ini bukan untuk membantu mewujudkan negara Palestina tapi demi kepentingan nasional masing-masing.

Karena itulah, meski sering galak ke Israel kalau terjadi perang, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak pernah berniat memutus hubungan diplomatik dengan Israel.

Sila baca: Israel dan topeng Erdogan

Sikap umat Islam dunia pun tidak jelas. Kalau menjalin relasi resmi dengan Israel dicap pengkhianat, namun Erdogan masih dipuja meski kegarangannya terhadap Israel bersifat reaksioner.

Semakin tidak ada solusi untuk kemerdekaan Palestina, kian kuat keinginan negara-negara muslim menormalisasi hubungan dengan Israel. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Berkenalan dengan generasi Arab Zionis

Muhammad Saud di Riyadh, Luai Syarif di Abu Dhabi, dan Fatimah al-Harbi di Manama berkampanye soal bersahabat dengan Israel.

Petani Senegal belajar cara menggunakan Tipa, alat irigasi tetes buatan Israel. (Mashav)

Bertani dengan teknologi Israel

"Kalau saja normalisasi itu terwujud, di tahap awal akan ada investasi di sektor pertanian senilai US$ 2 miliar," kata Stein.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Berkenalan dengan generasi Arab Zionis

Muhammad Saud di Riyadh, Luai Syarif di Abu Dhabi, dan Fatimah al-Harbi di Manama berkampanye soal bersahabat dengan Israel.

17 Januari 2022
Bom jelang reli, aib Saudi
07 Januari 2022

TERSOHOR