kisah

Kalem Raad cekam Tel Aviv

"Dia tidak terkait organisasi manapun, tidak ada data di pihak keamanan, dan tidak pernah ditangkap," kata Shin Bet.

08 April 2022 23:55

Entah bagaimana Kamis malam itu Raad Fathi Zaidan mampu menyelinap masuk ke Israel melalui Jalahmah, pintu keluar masuk menghubungkan wilayah negara Zionis itu dengan Jenin, Tepi Barat, Palestina.

Belum diketahui pula bagaimana dia dapat tiba di Tel Aviv. Dengan bermobil membutuhkan waktu sekitar 1 jam 25 menit perjalanan dari Jenin untuk sampai di ibu kota Israel ini. Kalau mau naik bus, Raad bisa menumpang dari terminal di Kota Hadera.

Di Hadera inilah, sebelas hari sebelumnya, dua warga Israel berdarah Palestina merupakan pendukung jaringan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) menghabisi dua polisi Israel. Insiden ini lima hari setelah satu penyokong ISIS di Kota Beersheba menghabisi empat orang, kemudian ditutup dengan serangan di Bnei Brak membunuh empat orang.

Tiga serangan di Israel dalam rentang waktu 22-29 Maret ini menewaskan sebelas orang. Sebuah kejutan keras terhadap pemimpin dan rakyat di negeri Bintang Daud itu.

Singkat cerita, Raad tertangkap kamera pengintai sudah tiba di Jalan Dizengoff, salah satu pusat keramaian di Tel Aviv, dipenuhi restoran, kafe, dan bar. Berjaket hitam dan bercelana panjang jins biru dengan menggendong tas biru, Raad melangkah sedikit tertatih hingga akhirnya melewati bar Ilka.

Dia terlihat kalem, tidak terburu-buru. Dia kemudian beristirahat di bangku taman dekat bar Ilka, mungkin mengamati keadaan. Polisi bilang Raad duduk di sana sekitar 15 menit.

Di bar Ilka ini sudah duduk dua sahabat sedari kecil, Tomer Morad dan Eytam Magini, sama-sama berumur 27 tahun. Keduanya janjian untuk nongkrong bareng di bar ini dengan teman-temannya.

Tidak lama lewat sedikit dari jam sembilan malam, Raad beraksi di depan bar Ilka. Menurut polisi, dia menghabiskan sekitar sepuluh peluru dari Carlo, senapan serbu rakitan khas warga Palestina, tapi mampu menghabisi dua orang malam itu dan mencederai 12 lainnya, termasuk empat dalam keadaan luka parah.

Tomer Morad dan Eytam Magini mengembuskan napas terakhir. Barak Lufan menyusul besoknya.

Serangan serupa pernah terjadi di Jalan Dizengoff pada 1 Januari 2016. Pelakunya juga orang Palestina dan menewaskan dua warga Israel.

Raad kembali memperlihatkan ketenangannya. Dia seolah sudah hapal medan dan berpengalaman. Di tengah kepanikan dan kehebohan di Jalan Dizengoff, Raad berhasil menyelinap kabur hingga akhirnya tiba di sebuah masjid dekat Menara Jam di Kota Jaffa. Jarak antara Tel Aviv ke Jaffa sekitar tiga kilometer.

Dari sekitar jam sembilan malam sampai Jumat sehabis subuh pukul 05:30, Raad menjadi buruan lebih dari seribu personel kemanan Israel, termasuk pasukan-pasukan elite. Sampai akhirnya personel Shin Bet (dinas rahasia dalam negeri Israel) dan Yamam (satuan antiteror Kepolisian Israel) berhasil memergoki Raad bersembunyi di belakang mobil dekat masjid itu. Baku tembak pecah dan Raad menemui ajal di sana.

Para pejabat keamanan Israel kelihatan bingung lantaran Raad tidak ada dalam pusat data mereka. Shin Bet mengakui Raad Kamis malam itu menyeberang ke Israel tanpa izin. "Dia tidak terkait organisasi manapun, tidak ada data di pihak keamanan, dan tidak pernah ditangkap."

Padahal yang dilakukan Raad persis dilakoni orang terlatih: tenang, menguasai keadaan, dan serangan dilancarkan secara efektif serta efisien.

Tapi Fathi, ayahnya Raad, adalah mantan pejabat keamanan Palestina di Jenin. Dia pun memuji keberanian putranya itu. "Kalian akan melihat kemenangan segera diraih, membebaskan Masjid Al-Aqsa dari penjajah (Israel)," ujar Fathi di depan rumahnya kepada para pelayat.

Israel sadar ancaman terhadap keamanan Israel bersumber dari Jenin. Raad dan pelaku penembakan di Bnei Brak, Dhiyaa Hamarsyah, sama-sama dari sana. Di Jenin, Jihad Islam dan Brigade Syuhada al-Aqsa (sayap militer Fatah) berebut pengaruh.

Karena itulah, Panglima Angkatan Bersenjata Israel (Israel Defense Force) Letnan Jenderal Aviv Kochavi sudah memerintahkan operasi besar-besaran di Jenin dan sekitarnya mulai akhir pekan ini. Perdana Menteri Naftali Bennett menegaskan tidak ada batasan bagi Israel untuk melumatkan para pejuang Palestina.

Kalemnya Raad telah membuat Tel Aviv dan seantero Israel mencekam. Darah dan air mata mungkin bakal makin deras mengalir.

Jenazah wartawan Al-Jazeera Syirin Abu Aqilah sehabis didoakan pada 13 Mei 2022 di Gereja Katolik Yunani, Yerusalem Timur, Palestina. (Twitter/@ZaidAmali)

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

Muhammad Saud, warga Arab Saudi tinggal di Ibu Kota Riyadh, merupakan salah satu pemuja Israel. (Twitter/@mosaud08)

Puja Zionis di negara Kabah

Muhammad Saud, warga Saudi tinggal di Riyadh, berteman baik dengan Netanyahu.

Peziarah Yahudi pada 21 April 2022 mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. (Shehab Agency)

Memahami status quo di Al-Aqsa

Sejak 1967, sudah ada fatwa haram bagi kaum Yahudi untuk mengunjungi Al-Aqsa. keputusan ini dkeluarkan oleh pemimpin rabbi AShkenazi dan Sephardi dengan dukungan 200 rabbi.

Ahmad as-Saadi, komandan Brigade Saraya al-Quds di Jenin, Tepi Barat, Palestina, berpose sebelum terbunuh dalam baku tembak dengan pasukan Israel pada 9 April 2022. (Albalad.co/Supplied)

Jenin, simbol perlawanan dan kehormatan

Jenin memang kerap berkobar. Bahkan pemerintah Palestina tidak kuasa mengendalikan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

13 Mei 2022

TERSOHOR