kisah

Memahami status quo di Al-Aqsa

Sejak 1967, sudah ada fatwa haram bagi kaum Yahudi untuk mengunjungi Al-Aqsa. keputusan ini dkeluarkan oleh pemimpin rabbi AShkenazi dan Sephardi dengan dukungan 200 rabbi.

29 April 2022 00:27

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid Ahad pekan lalu menegaskan negara Zionis itu tidak akan mengubah status quo dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina. Dia bilang Israel tidak ingin membagi dua Al-Aqsa antara muslim dan Yahudi.

"Polisi sudah memiliki instruksi keras... untuk memastikan status quo terjaga," katanya. "Status quo berarti kaum muslim bisa beribadah di sana dan penganut agama lain tidak."

Gegara pelanggaran status quo itu, bentrokan beberapa kali terjadi antara warga Palestina dengan polisi Israel di Al-Aqsa selama dua pekan belakangan. Ini dipicu oleh lawatan sekitar 4.625 peziarah Yahudi ke Al-Aqsa selama hari libur Pesach (Paskah versi Yahudi), berlangsung pada 15-23 April.

Sejak mencaplok Yerusalem Timur sehabis Perang Enam hari 1967, Israel menegaskan berkali-kali akan menghormati staus quo atau kesepakatan tidak tertulis: hanya muslim boleh beribadah dan berdoa di Al-Aqsa. Hal ini ditegaskan kembali oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2015 sehabis terjadi bentrokan di sana.

"Muslim beribadah di Al-Aqsa, non-muslim berkunjung ke Al-Aqsa," ujarnya. Pernyataan itu dia sampaikan usai bertemu Menteri Luar Negeri John Kerry, Raja Yordania Abdullah bin Husain, dan Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Waktu kunjungan kaum Yahudi ke Al-Aqsa juga dibatasi: tiga kelompok saban hari dalam rentang waktu tiga jam.

Sedari Israel merampas Yerusalem Timur, Menteri Pertahanan Moshe Dayan tetap mengizinkan badan wakaf Yordania mengurus kompleks Masjid Al-Aqsa. Para pentolan rabbi Ashkenazi dan Sephardi bareng ratusan rabbi lainnya menetapkan fatwa haram bagi kaum Yahudi melawat ke Al-Aqsa.

Mereka menyebut siapa saja orang Yahudi nekat ke Al-Aqsa melanggar syariat agama Yudaisme. Sebab kaum yahudi tidak lagi suci setelah kuil suci kedua dihancurkan.

Bahkan rabbi-rabbi fundamentalis, termasuk Rabbi Zvi Yehuda Kook, sepakat dengan larangan itu. Banyak dari para pengikut Rabbi Kook bermukim di Tepi Barat dan Yerusalem Timur setelah perang Enam Hari pada 1967.

Namun kelompok-kelopok Zionis sekuler, terutama memiliki kaitan dengan milisi Lehi, menentang fatwa para rabbi itu. Mereka menegaskan kaum Yahudi mesti membangunan sinagoge baru di Al-Aqsa.

Kemudian pada 1969, seorang Nasrani garis keras asal Australia membakar Masjid Al-Aqsa. Dia ditangkap dan diduga sakit jiwa, lalu dideportasi beberapa tahun kemudian.

Shlomo Goren pada 1973 menjadi kepala rabbi Ashkenazi berpendapat orang Yahdi boleh mengunjungi Al-Aqsa dan berdoa di sana. Hal itu tidak melanggar syariat Yudaisme. Dia bilang kaum Yahudi sudah membangun tempat ibadah permanen di Al-Aqsa dan bertahan hingga abad ke-16, namun klaim ini dibantah para sejarawan.

Goren membenarkan Tembok Ratapan tidak pernah menjadi tempat disucikan oleh Yahudi sampai abad ke-17, ketika gerakan Zionis muncul. Menurut sejarah Islam, tembok itu disebut dinding Al-Buraq, karena merupakan lokasi Nabi Muhammad mengikat buraq dia kendarai dari Masjid Al-Haram di Kota Makkah.

Pada 1986, Goren mengumpulkan 70 rabbi dan mengeluarkan fatwa membolehkan rang Yahudi mengunjungi sekaligus berdoa di dalam kompleks Al-Aqsa. Mereka memutuskan pula sebuah sinagoge mesti dibangun di sana.

Banyak gerakan garis keras Yahudi menuntut hak berkunjung dan berdoa di Al-Aqsa. Kelompok Beriman kepada Kuil Bukit, dipimpin oleh Gershon Salomon dan didirikan pada 1967, berencana meletakkan pondasi untuk pembangunan Sinagoge Ketiga.
Kelompok lain bernama Hai Ve-Kayan, juga mengklaim kaum Yahudi berhak menguasai ddan berdoa di Al-Aqsa. Kelompok ini dikomandoi oleh Yehuda Etzion, pernah mendekam selama tujuh dalam penjara Israel pada 1980-an karena berencana meledakkan Masjid Kubah Batu.

Organisasi-organisasi militan ini dimobilisasi setelah Perjanjian Oslo pada 1993 dan perjanjian damai antara Yordania-Israel pada 1994.

Pada 1994, Goren menyurati Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Dia menegaskan kaum yahudi tidak hanya mengklaim tembok Ratapan saja, tapi mereka mestinya bisa berdoa di mana saja di dalam kompleks Al-Aqsa.

Di era 1990-an inilah hakim-hakim agung Israel dan politisi mulai menyerukan kepada pemerintah dan pemimpin rabbi agar mencabut larangan bagi kaum Yahudi berdoa di Al-Aqsa. Upaya ini memuncak saat pemimpin Partai Likud, Ariel Sharon, mengunjungi Al-Aqsa pada 2000, sehingga meletupkan Intifadah kedua.

Sebelum 2003, pemerintah israel mulai mengizinkan tidak lebih dari tiga orang Yahudi ssaleh mengunjungi Al-Aqsa dalam satu waktu lawatan. Kemudian jumlahnya bertambah menjadi lebih dari 50 orang. Kebijakan ini tanpa persetujuan Badan Wakaf Yordania sebagai pengurus Al-Aqsa.

Dalam beberapa tahun terakhir, peziarah Yahudi bukan sekadar melintas tapi berhenti sebentar untuk berdoa sendirian atau berkelompok dengan sepengetahuan polisi Israel mengawal mereka. Bahkan saban hari bisa ratusan peziarah Yahudi datang ke Al-Aqsa.

Meski Lapid membantah, Menteri Urusan Diaspora Israel Nachman Shai mengakui ada perubahan status quo itu. Dia menjadi menteri Israel pertama secara terbuka menyatakan hal ini.

"Makin banyak orang Yahudi mengujungi Bukit Kuil (Al-Aqsa). Mereka berhenti dan berdoa ketika di sana, tindakan mestinya tidak dibolehkan," kata Shai kepada stasiun televisi Kan. "Ada perubahan dan perusakan terhadap status quo."

Al-Aqsa memang garis batas bagi Palestina dan Israel. Siapa melanggar satus quo, konflik berdarah bisa meletup kapan saja.

Seorang anak peziarah Yahudi memperlihatkan bendera Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, Palestina. (Albalad.co/Supplied)

Peziarah Yahudi perlihatkan bendera Israel di Masjid Al-Aqsa

Sepanjang kemarin, sebanyak 793 peziarah Yahudi mengunjungi Al-Aqsa.

Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Sinwar dalam jumpa pers di Kota Gaza, Palestina, 30 April 2022. (Shehab Agency)

Pemimpin Hamas: Perang akan terjadi lagi jika Israel terus menyerbu Al-Aqsa

Menurut Sinwar, gangguan terus dilakukan Israel terhadap Al-Aqsa berarti sama saja menyulut perang agama. 

Panjat Tembok Pemisah untuk ke Al-Aqsa

Warga Palestina memanjat Tembok Pemisah di Tepi Barat untuk bersalat Jumat di Masjid Al-Aqsa.

Peziarah Yahudi girang bisa kunjungi Al-Aqsa

Seorang peziarah sampai menelungkup ketika akan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mata, telinga, dan lisan Palestina untuk dunia

Prosesi pemakaman Syirin adalah ketiga terbesar sejak kematian Faisal al-Husaini pada 2001 dan Yasir Arafat di 2004.

13 Mei 2022

TERSOHOR