olahraga

Liput buruh proyek Piala Dunia, kru televisi Jerman ditahan

Semua hasil rekaman mereka dihapus.

09 Mei 2015 09:54

Polisi Qatar telah menahan kru jaringan televisi terbesar di Jerman ARD setelah ketahuan meliput kondisi para buruh proyek infrastruktur Piala Dunia 2022 di Qatar. Selain itu, semua hasil rekaman dihapus dan peralatan mereka dirusak.

Peliputan Maret lalu itu untuk pembuatan film dokumenter, namun kasus ini baru diketahui setelah dokumenter berjudul ‘The Selling of Football: Sepp Blatter and the Power of Fifa’ disiarkan pekan ini.

Polisi menangkap satu reporter, juru kamera, asisten juru kamera, dan sopir di lokasi peliputan pada 27 Maret. Polisi kemudian menginterogasi mereka sebelum menyerahkan ke seorang jaksa. Setelah ditahan 14 jam, kru televisi ARD ini dilarang meninggalkan Qatar lima hari.

Mereka baru boleh keluar dari negara Arab superkaya ini 2 April lalu setelah ada campur tangan dari duta besar Jerman buat Qatar. Polisi baru mengembalikan semua perlengkapan kerja mereka pada 26 April.

Kru ARD memang belum mendapat izin buat meliput para buruh proyek Piala Dunia di Qatar. Wartawan ARD Florian Bauer bilang dia sudah berulang kali meminta lampu hijau untuk mewawancarai pelbagai pejabat Qatar tapi gagal. "Saya hanya bisa berpendapat kali ini mereka sudah berpikir, 'Kami tidak ingin cerita serupa muncul soal kunjungan ke kamp pekerja,'" kata Bauer kepada surat kabar the Telegraph.

Bauer, dalam beberapa peliputan sebelumnya di Qatar telah memperoleh izin, mengungkapkan semua alat penyimpan data sudah dirusak.

Lewat pernyataan tertulis, panitia Piala Dunia 2022 membantah kru ARD itu ditahan. "Media mana saja ingin meliput di Qatar mesti mendapat izin seperti aturan di banyak negara."

Kalusha Bwalya, Anggota Komite Eksekutif CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika) sekaligus mantan Presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia. (Twitter/KalushaPBwalya)

FIFA beri sanksi bagi mantan presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia karena terima suap dari Qatar

Kalusha Bwalya telah menerima fulus sebesar US$ 80 ribu dari Muhammad bin Hammam untuk memilih Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani bersama istrinya, Syekha Muza, saat merayakan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di Kota Zurich, Swiss, pada 2010. (Albalad.co/Screengrab)

Qatar sabotase para pesaingnya agar terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 2022

Qatar diduga membayar sebuah perusahaan komunikasi dan para mantan agen CIA untuk kampanye negatif terhadap Amerika, Australia, dan Inggris, tiga negara pesaing dalam pencalonan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Stadion Internasional Khalifah untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. (qatcom.com)

Piala Dunia berikutnya di Qatar

Selama Piala Dunia 2022, penggemar disediakan tempat khusus untuk mabuk-mabukan, jaraknya sekitar sejam dari stadion.

Lokasi pembangunann sebuah stadion Piala Dunia 2022 di Qatar. (Arabian Business)

Buruh proyek Piala Dunia 2022 bekerja 148 hari tanpa libur

"Kasus paling ekstrem ditemukan adalah 14 jam kerja sehari...dan 402 jam kerja dalam sebulan."





comments powered by Disqus