olahraga

Lobi gagal Clinton dan terpilihnya Qatar

Para pejabat Amerika Serikat sudah lama mencurigai terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 karena berlaku curang.

28 Mei 2015 08:09

Pada November 2010 mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton bareng Erc H. Holder (kemudian menjadi jaksa agung Amerika) pergi ke Kota Zurich, Swiss, untuk melobi badan sepak bola dunia FIFA menyokong negara itu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Ketenaran sepak bola kian meningkat di Amerika. Keberhasilan menjadi tuan rumah Piala Dunia bakal membawa turnamen sepak bola terbesar sejagat itu kembali ke negeri Abang Sam untuk pertama kali dalam tiga dasarwarsa.

Amerika Serikat menjadi tuan rumah untuk perdana pada Piala Dunia 1994. Dalam turnamen ini Brasil meraih gelar juara dunia untuk keempat kali.

Lobi dua pejabat Amerika ini gagal. Malah Qatar - negara mungil superkaya di Teluk Persia - terpilih sebagai negara Arab pertama menjadi penyelenggara Piala Dunia 2022.

Dalam waktu singkat polemik muncul. Sebab suhu di Qatar saat pelaksanaan Piala Dunia, biasanya Juni-Juli, mencapai setengah suhu air mendidih. FIFA mengakhiri kontroversi ini dengan memutuskan Piala Dunia 2022 digelar November-Desember.

Persoalan terpilihnya Qatar belum selesai sampai di situ. Perlakuan buruk terhadap para buruh proyek Piala Dunia asal Asia Selatan juga menjadi sorotan. Tudingan kecurangan dan suap sehingga Qatar bisa terpilih kian menguat setelah surat kabar the Sunday Times melansir hasil investigasi mereka tahun lalu.

Bahkan sebelum Clinton dan Holder meninggalkan Swiss lima tahun lalu, selentingan itu sudah beredar. "Ada banyak pembicaraan keputusan terpilihnya Qatar sudah dibeli," kata seorang sumber mengetahui isi perbincangan tertutup di antara para pejabat Amerika selama di Swiss.

Tudingan itu menjadi terang kemarin setelah polisi Swiss membekuk sembilan pejabat FIFA,empat eksekutif pemasaran, dan satu eksekutif penyiaran di sebuah hotel berbintang lima di Zurich. Di hari yagn sama, Jaksa Agung Amerika Loretta E. Lynch, pengganti Holder, mengumumkan 47 dakwaan terhadap 14 tersangka itu, mulai penyuapan hingga pemerasan dan pencucian uang.

Amerika menuntut 14 orang itu diekstradisi supaya bisa segera diadili. Dakwaan paling serius adalah pemerasan dan ancaman hukumannya dipenjara hingga 20 tahun.

Penyelidikan ini bukan sekadar melingkupi Piala Dunia 2018 di Rusia dan Piala Dunia 2022 di Qatar. Investigasi menyasar kecurangan dan kejahatan dilakoni para pejabat FIFA sejak 1991.

"Mereka memegang tanggung jawab penting di tiap tingkatan, mulai membangun lapangan sepak bola bagi anak-anak di negara berkembang sampai menyelenggarakan Piala Dunia," kata Lynch. "Bukannya menegakkan aturan agar sepak bola berjalan jujur dan berintegritas, mereka malah bertindak korup untuk kepentingan mereka dan memperkaya diri."

Selama hampir seperempat abad itu, mereka mengeruk keuntungan US$ 150 juta atau nyaris Rp 2 triliun.

14 tersangka dalam kasus korupsi FIFA

Jack Warner Posisi: mantan presiden FIFA Asal  : Trinidad dan Tobago

Eugenio Figueredo Posisi: wakil presiden FIFA (akan berakhir masa jabatannya) Asal  : Uruguay

Jeffrey Webb Posisi: wakil presiden FIFA Asal  : Kepulauan Caymans

Costas Takkas Posisi: atase Jeffrey Webb Asal  : Kepulauan Caymans

Nicolas Leoz Posisi: mantan anggota Komite Eksekutif FIFA Asal  : Paraguay

Eduardo Li Posisi: anggota Komite Eksekutif FIFA Asal  : Kosta Rika

Julio Rocha Posisi: pejabat FIFA Asal  : Nikaragua

Jose Maria Marin Posisi: pejabat FIFA Asal  : Brasil

Rafael Esquivel Posisi: pejabat FIFA Asal  : Venezuela

Alejandro Burzaco Posisi: eksekutif pemasaran olahraga Asal  : Argentina

Aaron Davidson Posisi: eksekutif pemasaran olahraga Asal  : Amerika Serikat

Hugo Jinkis Posisi: eksekutif pemasaran olahraga Asal  : Argentina

Mariano Jinkis Posisi: eksekutif pemasaran olahraga Asal  : Argentina

Jose Margulies Posisi: eksekutif penyiaran Asal  : Brasil

Dua bekas anggota Komite Eksekutif FIFA, Charles Blazer (Amerika Serikat) dan Daryll Warner (Trinidad dan Tobago), serta eksekutif pemasaran olahraga Jose Hawilla (Brasil) sudah dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi di tubuh FIFA.

Paling tidak enam tahun sebelum pelaksanaan tiap Piala Dunia, 15 anggota Komite Eksekutif FIFA melaksanakan pemilihan tertutup calon tuan rumah.

Stadion Al-Wakrah di Qatar rancangan Zaha Hadid Architects. (arabianbusiness.com)

Menteri GCC perintahkan media di kawasan sokong Piala Dunia 2022 di Qatar

Namun tidak disebutkan sanksi bagi media menolak.

Stadion Lusail di Ibu Kota Doha, Qatar, karya Foster + Partners. (arabianbusiness.com)

FIFA: Tidak ada alasan hukum coret Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia

"Rusia dan Qatar telah terpilih secara demokratis sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2002 oleh Komite Eksekutif."

Logo FIFA. (iradio.ie)

Rusia dan Qatar bisa dicoret sebagai tuan rumah Piala Dunia

"Bila ada bukti Qatar dan Rusia terpilih sebagai tuan rumah karena menyuap, hasil itu bisa dibatalkan," kata Ketua Komite Audit dan Kepatutan FIFA Domenico Scala

Stadion Khalifah di Ar-Rayyan, Qatar, bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Qatar 2022 Bid Committee)

AFC sokong Piala Dunia 2022 di Qatar

"Sepak bola adalah olahraga dunia dan mestinya tidak boleh mengenal batas geografis."





comments powered by Disqus

Rubrik olahraga Terbaru

Konglomerat Kuwait berencana beli Charlton Athletic

Hasawi membeli Nottingham Forest pada 2012 lalu dijual kepada pengusaha dari Yunani, Evangelos Marinakis, pada 2017.

17 September 2018

TERSOHOR