olahraga

Polemik naturalisasi atlet Qatar

Qatar tengah mengalami krisis identitas nasional karena 90 persen dari 2,3 juta penduduk Qatar adalah orang asing.

26 Agustus 2016 10:25

Ketika 39 atlet Qatar lolos untuk bertanding di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, tahun ini, Nur asy-Syalabi merayakan keberhasilan itu. "Qatar! Kau adalah darah dan jiwaku," tulis akuntan berusia 34 tahun ini dalam akun Facebooknya.

Tim mungil tersebut berhasil menggondol perak pertama di pesta olahraga empat tahunan terbesar sejagat itu, berlangsung 5-21 Agustus lalu. Ironisnya, paling tidak 23 dari 39 atlet Qatar berlaga di Olimpiade Rio dilahirkan di luar negara Arab itu. Mereka diimpor dan dijadikan warga negara untuk bertanding buat Qatar di beragam turnamen internasional.

Fenomena ini memicu kecemburuan dari orang-orang seperti Nur. Dia dilahirkan di Mesir dan dibesarkan di Qatar, tapi sampai kini belum bisa menjadi warga negara.

Qatar sudah bertahun-tahun menggunakan fulus hasil kekayaan minyak dan gas buat merekrut atlet-atlet kelas dunia untuk berlaga buat negara Arab tajir itu. Para pelari Kenya dan atlet angkat berat Bulgaria diberi kewarganegaraan buat mengharumkan Qatar di gelanggang olahraga internasional.

Banyak pihak menilai atlet-atlet itu mirip mesin, dikirim untuk memenangkan sebanyak mungkin medali buat Qatar, negara muslim pertama bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2022.

Praktek pemberian paspor bagi atlet asing atau proses naturalisasi begitu gampang ini, memicu perdebatan soal identitas nasional Qatar. Sebab, penduduk seperti Nur, telah tinggal berpuluh tahun dan keahliannya mungkin dibutuhkan setelah era minyak, kesulitan menjadi warga negara Qatar.

"Kawan-kawan saya orang Qatar dan dalam hati saya juga merasa orang Qatar," ujar Nur. "Tentu saja menyakitkan karena hingga sekarang saya belum menjadi warga negara (Qatar)."

Banjir warga negara asing ke Qatar- dulunya miskin - dimulai sejak ditemukan ladang-ladang minyak pada 1930-an. Pertumbuhan industri hidrokarbon mendorong masuknya ribuan pekerja Arab, termasuk dari Suriah dan Palestina. Mereka bekerja dan tinggal di tengah penduduk asli, secara tradisional menetap di gurun atau kota-kota kecil di pesisir.

Seiring bertambahnya orang asing dan jutaan buruh Asia untuk mendukung proyek-proyek konstruksi, perubahan demografi ini menjadi ancaman bagi cara hidup orang asli Qatar. Karena itu, Qatar sangat ketat dalam hal undang-undang kewarganegaraan.

Jumlah mereka saat ini 90 persen dari total 2,3 juta penduduk Qatar. Mulai dari buruh rendahan sampai eksekutif bergaji selangit namun bebas pajak pendapatan. Syarat untuk menjadi warga negara Qatar, orang asing mesti bisa berbahasa Arab dan tinggal di sana setidaknya 25 tahun berurutan. Namun pertimbangannya kasus per kasus dan memerlukan persetujuan emir.

Seorang juru bicara pemerintah Qatar belum bisa dihubungi buat dimintai komentarnya. Para pejabat, termasuk mantan Emir Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani, pernah bilang kewarganegaraan diberikan kepada orang mengajukan dan memenuhi syarat.

Tapi sejumlah generasi muda Qatar menilai beleid kewwarganegaraan itu sudah usang.

"Jika para atlet itu dinaturalisasi, bagaimana dengan dokter, ilmuwan, insinyur, akademisi, dan artis? Bukankah mereka juga bermanfaat untuk masyarakat?" tulis pegawai negeri bernama Hamad al-Khatir dalam akun Twitternya, setelah debut tim bola tangan Qatar di Olimpiade Rio. Sebelas dari 14 anggota tim bola tangan Qatar itu adalah atlet hasil naturalisasi.  

Namun banyak dari 300 ribu warga negara Qatar mencemaskan bila warga asing diberi kewarganegaraan, apakah mereka bisa menjadi orang Qatar sejati. 'Bahkan tanpa adanya naturalisasi, identitas kita sedang krisis. Memberikan paspor untuk orang asing kian memperumit masalah ini," tutur pengusaha bernama Abdullah al-Muhannadi, 32 tahun.

Juga ada kekhawatiran orang-orang asing itu bisa mempengaruhi sistem politik dinasti dan budaya konservatif di Qatar. "Apa yang akan terjadi orang-orang asing ini dan keturunan mereka bakal menyerukan perubahan dan mengancam stabilitas politik Qatar," kata Faisal asy-Syadi, mahasiswa Libanon kelahiran Qatar.

Namun seorang dosen tinggal di Ibu Kota Doha mengatakan izin tinggal tetap bisa menjadi solusi bagi warga negara asing ingin tinggal lebih lama di Qatar.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman tawar Man United seharga Rp 69 triliun

City menjadi pesaing berat United dipunyai oleh pangeran dari Abu Dhabi.

Kaus oblong bergambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani dipakai dalam laga antara tim sepak bola Qatar menghadapi Korea Selatan di Doha pada 13 Juni 2017. (Qatar Football Association)

UEA tangkap warga Inggris karena pakai kostum Qatar

Sejak 2017, UEA melarang siapa saja menunjukkan simpati terhadap Qatar dalam bentuk apapun.

Tim nasional berlaga dalam Piala Asia 2019 di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Mereka mengandaskan Jepang 3-1 dalam partai final pada 1 Februari 2019. (Twitter)

Qatar juara Piala Asia 2019

Mereka mengalahkan Jepang 3-1 di partai final.

Kaus oblong bergambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani dipakai dalam laga antara tim sepak bola Qatar menghadapi Korea Selatan di Doha pada 13 Juni 2017. (Qatar Football Association)

Kalah di semifinal AFC, penonton UEA lempar sepatu dan botol ke pemain Qatar

Qatar akan melawan Jepang di partai final pada Jumat pekan ini.





comments powered by Disqus