olahraga

Qatar Airways akhiri kontrak dengan Barcelona

Klub raksasa La Liga itu telah meneken kontrak dengan rakuten.

17 November 2016 23:09

Qatar Airways tidak lagi menjadi sponsor bagi kostum klub raksasa asal Spanyol FC Barcelona sehabis akhir musim ini.

Juara 28 kali La Liga itu telah menandatangani perjanjian sponsor dengan Rakuten, perusahaan perdagangan daring dari Jepang. Nilai kontraknya US$ 58 juta setahun.

"Kesepakatan ini menempatkan kami sebagai klub olahraga terdepan dalam hal sponsor dan itu selalu menjadi tujuan direksi kami," kata Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu. Namun tidak dijelaskan untuk berapa musim Rakuten bakal menjadi sponsor bagi kostum Barcelona.

Alhasil, Barcelona bakal mengakhiri kontrak kerja sama dengan maskapai asal Qatar itu - dimulai pada 2013 senilai US$ 30 juta per tahun - setelah musim kompetisi 2016-2017 selesai.

Sejumlah laporan di media Spanyol tadinya menyebutkan Qatar Airways, Amazon, dan Huawei berlomba untuk mendapatkan kontrak sponsor dengan Barcelona.

Sedangkan Emirates, maskapai saingan Qatar Airwyas, masih menjadi sponsor kostum sejumlah tim elite Eropa, termasuk Arsenal, AC Milan, Paris Saint Germain, dan Benfica.

Syekh Khalid bin Zayid, pangeran dari Dubai, Uni Emirat Arab, merupakan pemilik Bin Zayed Group. (Screencapture YouTube)

Pangeran dari Dubai segera miliki Newcastle United

Pangeran Khalid bin Zayid sepakat membeli Newcastle United seharga Rp 6,2 triliun.

Muhammad Salah, bintang sepak bola Liverpool FC asal Mesir. (Twitter/MoSalah)

Salah gagal salat Idul Fitri karena rumah dikepung ribuan penggemar

"Ini tidak ada hubungannya dengan cinta. Ini tidak menghormati privasi dan tidak profesional," tulis Salah dalam bahasa Arab.

Syekh Khalid bin Zayid an-Nahyan, pangeran dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, merupakan pembeli klub Liga Primer Inggris, Newcastle United, seharga Rp 6,4 triliun. (Wikimedia Commons)

Pangeran dari Abu Dhabi beli klub Newcastle United seharga Rp 6,4 triliun

Syekh Khalid tadinya menawarkan harga US$ 2,6 miliar (Rp 37,4 triliun) untuk menguasai Liverpool FC namun ditolak oleh sang pemilik, Fenway Sports Group.

Ibu Kota Kairo, Mesir. (afrika.com)

Perempuan Mesir belajar silat buat hadapi pelaku pelecehan seksual

Silat mulai digemari di Mesir pada 2003. Popularitasnya kian menanjak sejak 2011.





comments powered by Disqus