olahraga

Qatar sabotase para pesaingnya agar terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 2022

Qatar diduga membayar sebuah perusahaan komunikasi dan para mantan agen CIA untuk kampanye negatif terhadap Amerika, Australia, dan Inggris, tiga negara pesaing dalam pencalonan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

31 Juli 2018 18:27

Tim pencalonan Qatar untuk Piala Dunia 2022 dituding melanggar aturan FIFA (Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional), dengan melancarkan kampanye hitam untuk menjelekkan dua negara pesaing, Amerika Serikat dan Australia.

Hasil investigasi surat kabar the Sunday Times Ahad lalu menyebutkan tim pencalonan Qatar membayar sebuah perusahaan konsultan komunikasi dan para mantan agen CIA (Badan Intelijen Pusat) untuk melakukan propaganda palsu mengenai Amerika dan Australia, sehingga akhirnya negara Arab supertajir itu terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Kampanye ini melibatkan orang-orang berpengaruh untuk mengkritik atau mengecam pengajuan diri Amerika dan Australia, sehingga muncul kesan tidak ada dukungan dari masyarakat setempat soal pengajuan diri sebagai penyelenggara turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat itu.

Salah satu kriteria utama calon tuan rumah Piala Dunia ditetapkan FIFA adalah adanya dukungan kuat dari masyarakat negara bersangkutan.

Hasil penyelidikan the Sunday Times ini bakal makin menguatkan seruan supaya FIFA membatalkan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Koran ini sebelumnya berhasil mengungkapkan suap dilakukan Qatar melalui Muhammad bin Hammam, pejabat FIFA asal Qatar, terhadap para petinggi organisasi sepak bola global ini.

The Sunday Times mendapat bocoran dokumen dan surat-surat elektronik dari orang terlibat dalam proses pengajuan Qatar sebagai kandidat tuan rumah Piala Dunia.

Salah satu surat elektronik ditujukan kepada Ali ath-Thawadi, wakil ketua tim pencalonan Qatar, menunjukkan negara Arab Teluk ini mengetahui rencana untuk menyebar kampanye hitam terhadap dua negara pesaingnya, termasuk membikin sebuah resolusi Kongres Amerika tentang dampak negatif kalau Piala Dunia dilangsungkan di negara adikuasa itu.

Qatar juga membayar seorang profesor sebesar US$ 9 ribu untuk menulis laporan buruk soal kerugian ekonomi dalam jumlah sangat banyak kalau Amerika menjadi tuan rumah. Artikel ini kemudian disebarluaskan di media internasional.     

Bulan lalu, sang pembocor dokumen bersaksi kepada Damian Collins, Ketua Komite Budaya, Media, dan Olahraga FIFA, soal kampanye hitam Qatar itu. Collins mengaku benar-benar prihatin dan mendesak FIFA segera menyelidiki dugaan ini. "Sanksi terberat atas pelanggaran kebijakan FIFA adalah kehilangan haknya sebagai tuan rumah," katanya.

Lord Triesman, mantan Ketua FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) dan ketua tim pencalonan Inggris) menekankan FIFA wajib mempelajari bukti-bukti pelanggaran dilakukan Qatar dan mesti berani mengambil keputusan sulit. "Kalau Qatar terbukti melanggar aturan FIFA, mereka tidak dapat menggelar Piala Dunia 2022," ujarnya.

Dia menambahkan FIFA bisa mempertimbangkan Inggris sebagai pengganti Qatar buat menyelenggarakan Piala Dunia 2022.

FIFA sejatinya sudah melakukan investigasi selama dua tahun tentang dugaan korupsi dilakukan Qatar. Hasilnya, tidak ada bukti soal suap dilakoni Qatar dan tidak ada kaitannya antara tim pencalonan Qatar dengan Muhammad bin Hammam.

Namun bocoran terbaru diperoleh the Sunday Times belum dilihat oleh tim investigasi FIFA, dipimpin oleh Jaksa Agung Amerika Michael Garcia.

Beragam dokumen dibocorkan menunjukkan tim pencalonan Qatar mendanai dan mengawasi kampanye hitam dilakukan untuk menjelekkan Amerika, Australia, dan Inggris, ikut mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Strategi propaganda negatif itu dibuat oleh Brown Lloyd Jones (BLJ kini bernama BLJ Worldwide, perusahaan komunikasi berkantor di Kota New York, Amerika. Sebuah tim beranggotakan para bekas agen CIA juga dibayar buat melakukan propaganda hitam itu.

Tim pencalonan Qatar merekrut pula wartawan, narablog, dan tokoh-tokoh lainnya buat membikin cerita-cerita negatif, memata-matai negara pesaing, memproduksi laporan intelijen atas para tokoh kunci, dan menciptakan protes di kalangan masyarakat.  

Panitia Piala Dunia Qatar, Supreme Committee for Delivery and Legacy (SCDL), menolak tiap tudingan disampaikan oleh the Sunday Times. "Kami sangat menaati semua aturan FIFA untuk proses pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2018/2022."

Delegasi dari Suku Al-Ghufran, Qatar, mengadukan pemerintah Qatar ke kantor FIFA di Kota Zurich, Swiss, 24 September 2018. (Al-Arabiya/Supplied)

Suku Al-Ghufran klaim Qatar rebut tanah mereka buat bangun infrastruktur Piala Dunia 2022

Piala Dunia 2022 bakal digelar di Qatar selama November-Desember.

Stadion Lusail di Kota Ad-Daayin, Qatar, bakal dipakai untuk menggelar laga Piala Dunia 2022. (www.qatar.to)

Gaji 78 buruh proyek Piala Dunia 2022 belum dibayar

Seorang juru bicara FIFA membantah pelanggaran atas hak-hak buruh proyek Piala Dunia 2022 terkait dengan FIFA dan Piala Dunia 2022.

Stadion Al-Wakrah bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Buruh Piala Dunia 2022 asal Nepal tewas terjatuh dalam proyek pembangunan stadion

Lelaki 23 tahun itu meninggal pada 14 Agustus dalam proyek pembangunan Stadion Al-Wakrah.

Kalusha Bwalya, Anggota Komite Eksekutif CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika) sekaligus mantan Presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia. (Twitter/KalushaPBwalya)

FIFA beri sanksi bagi mantan presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia karena terima suap dari Qatar

Kalusha Bwalya telah menerima fulus sebesar US$ 80 ribu dari Muhammad bin Hammam untuk memilih Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.





comments powered by Disqus