olahraga

Pangeran dari Abu Dhabi beli klub Newcastle United seharga Rp 6,4 triliun

Syekh Khalid tadinya menawarkan harga US$ 2,6 miliar (Rp 37,4 triliun) untuk menguasai Liverpool FC namun ditolak oleh sang pemilik, Fenway Sports Group.

27 Mei 2019 18:39

Syekh Khalid bin Zayid an-Nahyan, pangeran dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dikabarkan telah sepakat untuk membeli klub Liga Primer Inggris, Newcastle United.

Surat kabar the Sun kemarin melaporkan Mike Ashley, mempunyai jaringan ritel pakaian olahraga Sports Direct International, telah setuju untuk menjual klub sepak bola itu kepada Syekh Khalid seharga 350 juta pound sterling (Rp 6,4 triliun). Kontrak penjualan Newcastle telah ditandatangani dan sudah dilaporkan ke manajemen Liga primer.

Ashley, pemilik mayoritas Newcastle sejak 2007, sudah beberapa tahun terakhir mencari pembeli klubnya itu. Dia pernah merundingkan penjualan Newcastle kepada Amanda Staveley, dan perusahaannya (PCP Capital Partners) untuk melepas Newcastle senilai 250 juta pound sterling.

Syekh Khalid merupakan sepupu ddari Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik klub Liga Primer Inggris, Manchester City. Syekh Khalid tadinya menawarkan harga US$ 2,6 miliar (Rp 37,4 triliun) untuk menguasai Liverpool FC namun ditolak oleh sang pemilik, Fenway Sports Group.

Syekh Khalid adalah pendiri konglomerasi Bin Zayid Group, berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Arab Saudi berencana gelar balapan Formula 1

Arab Saudi sudah menjadi tumah rumah balapan Formula E sejak Desember tahun lalu.

Syekh Khalid bin Zayid, pangeran dari Dubai, Uni Emirat Arab, merupakan pemilik Bin Zayed Group. (Screencapture YouTube)

Pangeran dari Dubai segera miliki Newcastle United

Pangeran Khalid bin Zayid sepakat membeli Newcastle United seharga Rp 6,2 triliun.

Muhammad Salah, bintang sepak bola Liverpool FC asal Mesir. (Twitter/MoSalah)

Salah gagal salat Idul Fitri karena rumah dikepung ribuan penggemar

"Ini tidak ada hubungannya dengan cinta. Ini tidak menghormati privasi dan tidak profesional," tulis Salah dalam bahasa Arab.

Ibu Kota Kairo, Mesir. (afrika.com)

Perempuan Mesir belajar silat buat hadapi pelaku pelecehan seksual

Silat mulai digemari di Mesir pada 2003. Popularitasnya kian menanjak sejak 2011.





comments powered by Disqus