olahraga

Bendera Saudi dan poster Abramovich di Stamford Bridge

Penggemar Chelsea dan Newcastle sama-sama membela pemilik klub tengah dirundung masalah gegara politik.

15 Maret 2022 14:13

Laga Ahad lalu di markas Chelsea FC, Stadion Stamford Bridge, seperti upaya para penggemarnya untuk mempertahankan Roman Abramovich agar tidak didepak. Poster sang pemilik dibentangkan dengan tulisan "The Roman Empire".

Sudah telat memang. Sebab sejak Kamis pekan lalu, pemerintah Inggris memberlakukan sanksi terhadap konglomerat Yahudi berpaspor Rusia, Israel, dan Portugal itu gegara dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Semua asetnya di Inggris dibekukan, termasuk Chelsea, sehingga dia mesti menjual klub Liga Primer ini.

Para pendukung Chelsea tidak peduli Abramovich mendapatkan keuntungan lantaran dekat dengan Putin, telah memerintahkan invasi ke Ukraina sedari 24 Februari. Bagi mereka, pembelian oleh konglomerat Yahudi itu telah menjadikan Chelsea digdaya di Liga Primer dan Eropa.

Chelsea meraup 18 titel juara, termasuk dua kali Piala Liga Champions, setelah Abramovich menjadi pemilik pada 2003.

Lawannya dalam pertandingan Liga Primer kali ini adalah Newcastle United, berhasil mereka taklukkan dengan skor 1-0.

Suporter Newcastle juga tidak mau kalah membanggakan pemilik klub mereka, PIF (Dana Investasi Publik) dikontrol oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. Calon raja kedelapan negara Kabah itu membeli Newcastle seharga 300 juta pound sterling Oktober tahun lalu.

Dalam laga menghadapi Chelsea dua hari lalu itu, sebagian penggemar Newcastle mengibarkan bendera Saudi sebagai bentuk dukungan agar PIF tidak bernasib seperti Abramovich, terpaksa menjual Newcastle.

Sokongan ini diberikan sehari setelah Saudi mengeksekusi 81 orang sekaligus, sebagian besar adalah narapidana kasus terorisme. Eksekusi terbesar sepanjang sejarah Saudi itu mendapat sorotan internasional.

Banyak anggota parlemen Inggris kembali mempersoalkan kepantasan Saudi memiliki Newcastle. Sedari awal pembelian terjadi tahun lalu, sudah memicu polemik karena Bin Salman dinilai bertanggung jawab atas korban sipil tewas dalam Perang Yaman, pembunuhan Jamal Khashoggi, dan pemenjaraan para aktivis.

Beragam pegiat dan organisasi hak asasi manusia internasional menilai Bin Salman berusaha memoles pamor Saudi dengan membeli Newcastle.

Menteri Negara Inggris Urusan Asia dan Timur Tengah Amanda Milling membela kepemilikan PIF atas Newcastle. Dia beralasan PIF merupakan salah satu investor utama di Inggris dan negara Barat lainnya. Kami menyambut baik pembelian Newcastle United, menandakan Inggris merupakan lokasi penting untuk investasi," katanya.

Kostum tandang klub Newcaste United untuk musim 2022-2023. (Twitter/@aycazehraakcay)

Kostum baru Newcastle United mirip seragam tim nasional Arab Saudi

Pihak klub bilang kostum baru itu untuk mendongkrak penjualan seragam Newcastle di Arab Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Saudi Gazette)

Beda nasib antara Roman Abramovich dengan Bin Salman

Bin Salman memerintahkan membombardir Al-Hutiyun, kelompok bersenjata sokongan Iran, tidak pernah dikenai sanksi. Barat pun tidak memberlakukan hukuman dan mengucilkan Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman ambil alih klub bola Newcastle United seharga Rp 5,8 triliun

Pembelian dilakukan melalui konsorsium dipimpin lembaga dana investasi Saudi.

Stadion Al-Bait bakal dipakai dalam Piala Dunia 2022 di Qatar. (sc.qa)

Bin Salman berambisi jadikan Saudi tuan rumah Piala Dunia 2030

Qatar merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim pertama terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia.





comments powered by Disqus