opini

Apakah Hamas organisasi teroris?

Menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris dipandang sebagian besar rakyat Palestina seperti menusuk dari belakang atas perjuangan mereka.

16 Maret 2015 10:51
Muslim Imran
Muslim Imran

Ketua Organisasi Kebudayaan Palestina di Malaysia

English
Bahasa

Pada 2 Maret Pengadilan Urusan Darurat Kairo menetapkan Hamas organisasi teroris. Keputusan ini muncul berbulan-bulan setelah pemerintah Mesir menyatakan Hamas sebagai organisasi terlarang dan menyita semua asetnya di Mesir. Vonis ini dan semua kebijakan Mesir sehabis kudeta terhadap Hamas menimbulkan satu pertanyaan penting: Apakah Hamas benar-benar organisasi teroris?

Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dibentuk akhir 1980-an oleh sekelompok pegiat Palestina. Gerakan ini muncul bertepatan dengan meletupnya intifadah pertama pada 1987. Intifadah dimulai pada 8 Desember 1987 dan Hamas melansir pernyataan pers pada 14 Desember 1987.

Kemunculan Hamas juga bersamaan waktunya dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sudah mulai mengarah pada cara-cara diplomatik untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel dan kelihatan mirip dengan keinginan bangsa Palestina memelihara perlawanan bersenjata sebagai salah satu strategi perlawanan efektif. Hamas menegaskan sejak hari pertama berdiri, perjuangan bersenjata adalah hak bagi rakyat terjajah dan dijamin oleh semua hukum dan norma internasional. Hamas terus mengulangi sikapnya menggunakan strategi ini bersama cara-cara perlawanan lainnya buat membebaskan Palestina.

Meski Hamas sangat tegas soal perlawanan bersenjata, namun mereka bukan faksi Palestina pertama memakai cara itu. Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (Fatah) dibentuk pada 1959 termasuk kelompok pertama melancarkan perlawanan bersenjata di Palestina. Langkah Fatah ini diikuti oleh gerakan nasionalis, kiri, dan islamis lain, yakni berjuang dengan senjata menghadapi penjajahan Israel.

Taktik ini juga dipakai kelompok-kelompok Palestina dan Arab di awal buat melawan penjajahan Israel atas Palestina pada 1948. Meski kenyataannya kebanyakan kelompok pejuang Palestina memakai strategi serupa, Mesir menyatakan cuma Hamas sebagai organisasi teroris.

Menariknya, Mesir sendiri melancarkan perjuangan bersenjata saat menghadapi pendudukan Inggris di paruh pertama abad ke-20. Apakah cara dilakukan Mesir itu bisa dikatakan sebagai teroris? Apakah pemerintahan Mesir sekarang berusaha menghapus sejarah dan menulis ulang agar sesuai pengertian terorisme saat ini?

Salah satu tudingan utama dipakai Mesir buat menerapkan kebijakan agresif terhadap Hamas dan Jalur Gaza adalah Hamas dilaporkan sudah terlibat urusan dalam negeri Mesir. Klaim ini biasanya berdasarkan asumsi lantaran ideologi Hamas mirip Al-Ikhwan al-Muslimun dipastikan Hamas akan mencampuri urusan domestik Mesir demi kepentingan Al-Ikhwan.

Mari abaikan fakta pemerintahan Al-Ikhwan terpilih secara demokratis sebelum ditumbangkan para jenderal angkatan darat dan jangan pula menyoroti ideologi Al-Ikhwan bersifat moderat. Sangkalan utama atas klaim pemerintah Mesir itu adalah tidak ada satu bukti pun soal keterlibatan Palestina atau Hamas dalam urusan dalam negeri Mesir.

Hamas berulangkali mengumumkan keinginannya bekerja sama dengan badan keamanan Mesir atau sebuah komisi untuk menyelidiki tuduhan itu tapi tidak pernah ditanggapi. Hamas juga menyebut catatan bersih mereka tidak pernah terlibat masalah domestik negara lain. Kelompok ini menekankan kebijakan mereka untuk tidak menyasar warga atau kepentingan Israel di luar wilayah Palestina. Jadi bagaimana mungkin sebuah gerakan begitu membatasi diri melawan penjajahan hanya dalam wilayahnya membuang waktu dan usaha untuk mengganggu urusan negara lain?

Melihat situasi ekonomi, politik, dan keamanan di Mesir saat ini memang sudah sampai pada kesimpulan pemerintah Mesir amat membutuhkan seorang musuh "lemah" dan menyalahkan dia atas ketidakmampuan pemerintah memelihara keamanan dan stabilitas negara. Buat menutupi kegagalan mereka, pemerintah Mesir melancarkan kampanye media besar-besaran terhadap hampir semua negara tetangganya. Gaza dan Libya termasuk terkena getahnya.

Media-media utama di Mesir berbulan-bulan lalu telah menyerukan Mesir menyerang Gaza dan Libya. Seruan ini mendapat jawaban beberapa pekan lalu ketika angkatan udara Mesir membombardir kota-kota di Libya sebagai balasan atas pembunuhan brutal lusinan warga Kristen Koptik Mesir di Libya. Waktu dan pendekatan dipakai pemerintah Mesir ini memunculkan pertanyaan, apa tujuan sebenarnya Mesir di Libya setelah kudeta militer oleh Jenderal Haftar dukungan mereka gagal mengambil alih Libya.

Di Gaza, Mesir telah membuat kehidupan rakyat Gaza mustahil lantaran terus menutup perlintasan Rafah (satu-satunya pintu bagi penduduk Gaza buat ke dunia luar). Pemerintah Mesir menetapkan Hamas teroris tapi tetap melanjutkan hukuman kolektif itu terhadap 1,8 juta warga Gaza. Dengan asumsi keanggotaan Hamas di Gaza bisa mencapai satu juta orang (tentu saja ini angka berlebihan), kenapa 800 ribu orang lainnya hidup di Gaza terus diblokade dan dihina?

Sejak 2007 lebih dari 300 warga Gaza meninggal di perlintasan Rafah karena kurangnya layanan kesehatan dan pasokan. Sampai sekarang Mesir terus melanggar hukum internasional dengan mengunci gerbang Rafah hampir sepanjang tahun.

Hamas menang pada 2006 lewat pemilihan umum terbuka, memperoleh 64 persen kursi parlemen sehingga mewakili sebagian besar rakyat Palestina (atau paling tidak orang-orang telah memilih mereka). Alhasil, Mesir berarti tidak menghormati pilihan bangsa Palestina dengan menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris. Tindakan Mesir ini juga sebuah penghinaan bagi teman-teman dan sekutu gerakan nasional Palestina melihat rekan mereka dicap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Arab muslim.

Hamas adalah salah satu gerakan perlawanan Palestina terbesar menanamkan harapan bagi bangsa Palestina melihat negara mereka bebas dan berdaulat. Rakyat Palestina mengharapkan saudara-saudara mereka di seluruh dunia memberikan sokongan besar bagi Hamas dan faksi pejuang Palestina lainnya. Menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris dipandang sebagian besar rakyat Palestina seperti menusuk dari belakang atas perjuangan mereka.

Pentolan Hamas Yahya Sinwar ketika dibebaskan dari penjara Israel pada 18 Oktober 2011. (Albalad.co/Supplied)

Hamas hukum mati dua warga Palestina karena menjadi mata-mata Israel

Di Bethlehem, pengadilan Palestina menghukum seorang lelaki lantaran berusaha menjual tanahnya kepada sejumlah pemukim Yahudi. Dia divonis 15 tahun penjara.

Kepala Biro Politik Hamas mengadakan pertemuan dengan sejumlah keluarga tahanan Palestina di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Albalad.co/Supplied)

Pemimpin Hamas bertemu keluarga tahanan Palestina terpandang

Haniyah juga bertemu keluarga Marwan Barghuti

Abdurrahman Atiyah Abu Khatab mencuri mobil Hyundai Tucson putih milik keponakan dari Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah. Kejadiannya di Kota Gaza pada 21 September 2021. (Albalad.co/Supplied)

Warga Gaza curi mobil milik keponakan pemimpin Hamas

Sejumlah warga Gaza menuding Abu Khatab bekerja sebagai informan bagi Israel.

Seorang warga Palestina di Jalur Gaza pada 15 September 2015 telah menerima bantuan fulus 320 shekel per bulan dari Qatar. (Sabq 24)

Keluarga miskin di Gaza mulai terima bantuan fulus US$ 100 dari Qatar

Secara keseluruhan Qatar menggelontorkan dana bantuan US$ 30 juta per bulan untuk Gaza.





comments powered by Disqus