opini

Mimpi gadis Gaza

Saya selalu ingin mencoba pengalaman baru memberi saya kesempatan melihat dunia luar dan bertemu orang-orang baru secara nyata bukan cuma lewat media sosial.

06 April 2015 10:05

Nama saya Nur Khalid al-Ghusain, 19 tahun, dari Kota Gaza-Palestina. Saya kuliah jurusan administrasi bisnis di Universitas Islam Gaza. Saya tertarik di bidang hak-hak perempuan, bisnis, sejarah, bertemu orang-orang baru dari berbagai latar budaya, bertualang, dan seni.

Saya aktif di media sosial, khususnya Twitter, dan selalu berkomentar di sana menganai masalah budaya, sosial, hak asasi manusia, dan isu Palestina. Saya memiliki teman-teman dekat di media sosial dari India, Prancis, Tepi Barat, Yordania, dan Afrika Selatan. Saya ingin bertemu mereka langsung.

Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara dan aktif di masyarakat. Saya mempunyai kepribadian bagus, kuat, dan independen. Saya banyak teman dan mereka menyukai saya karena saya selalu ingin membuat orang tertawa dan mereka juga senang dengan cara berpikir saya dan bagaimana saya berusaha menjadi pribadi lebih kuat dan selalu ingin menjadi kebanggaan bagi orang tua saya.

Saya selalu peduli ikut program-program buat meningkatkan kualitas diri. Mewakili negara dan membantu dunia selalu menarik bagi saya. Saya pernah mengikuti pelatihan soal hak-hak perempuan selama setahun, 2012-2013, hingga saya akhirnya terpilih mengikuti program pertukaran perempuan paada 2013 didanai oleh the Canadian Nelly Furtado dan Save the Children untuk mewakili gadis Palestina di Kenya dan Afrika Selatan, buat menjadi relawan dan membantu anak-anak di sana.

Saya ingin membuktikan kepada dunia perempuan dapat membuat perubahan lebih baik meski hidup dijajah dan diblokade. Saya berhasil memperoleh visa namun tidak bisa pergi mengikuti program itu lantaran persoalan politik di perbatasan Rafah. Meski hidup di sebuah kota kurang kesempatan, saya tidak mau menyerah. Jadi saya ikut dalam sejumlah program di Gaza membahas mengenai hak asasi manusia dan orang berkebutuhan khusus.

Pada musim panas 2014 saya melamar untuk ikut konferensi mengenai program Women2Women di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Saya satu-satunya gadis terpilih buat diwawancarai, tapi saya sekali gagal berangkat karena perang. Tapi nggak apa-apa, tidak ada orang bisa berdiri tegak tanpa menemui banyak kegagalan di awal.

Saya selalu ingin mencoba pengalaman baru memberi saya kesempatan melihat dunia luar dan bertemu orang-orang baru secara nyata bukan cuma lewat media sosial. Seperti kata ibu saya, "Mimpi dipelihara akan menjadi kenyataan."

Dan saya bermimpi bisa aktif di masyarakat, menciptakan masa depan lebih baik dan bebas dari perang dan persoalan politik karena kami sudah kenyang dengan itu semua. Kami telah menderita sejak 1948 ketika kakek saya diusir dari tanah airnya dan menjadi pengungsi di Gaza. Ayah saya selalu menceritakan kepada kami tentang hari-hari selama Intifadah. Kami lalu tumbuh besar dan mengalami penderitaan akibat perang dan pengeboman oleh Israel.

Saya telah menyaksikan kematian beberapa kali dan rasanya lebih menyakitkan, mengungsi dari rumah berkali-kali lantaran tempat tinggal kami di barat daya Gaza merupakan wilayah berbahaya saban kali perang meletus. Jika mau mendengarkan cerita soal ini panjang banget, tapi singkat saja: kami benar-benar ingin hidup.

Karena semua keadaan itu, saya berusaha mencari beasiswa untuk kuliah di luar Gaza. Saya ingin mendapatkan pendidikan bagus dan jauh dari semua masalah masyarakat kami hadapi. Tapi rencana saya sekarang menyelesaikan kuliah dan meraih gelar magister lalu bekerja sesuai posisi saya.

Saya senang bermain bola basket, berenang, bersepeda, menyelam, melompat dari atas ketinggian ke laut, berkemping, dan berusaha melakukan olahraga-olahraga paling menakutkan seperti mimpi bagi saya. Saya suka bertualang.

Di akhir tulisan ini, saya cuma ingin bilang saya gadis Palestina biasa mencintai kemanusiaan dan perdamaian, mendambakan masa depan bagus, mempunyai mimpi dan tujuan ingin dicapai.

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

Two alternative solutions for Jerusalem

The sovereignty would be divided in such a way that the Temple Mount would be under full Palestinian sovereignty and the prayer area of the Western Wall would be under Israeli sovereignty.

The end of occupation is the beginning of peace

No people on the globe would accept to coexist with oppression.

Improving trade and investment relations between Indonesia and Israel

There are practical ways of improving bilateral relations, while minimizing public resentment in Indonesia.





comments powered by Disqus

Rubrik opini Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR