opini

Perlunya memajukan hubungan dagang dan investasi Indonesia-Israel

Ada cara-cara praktis dalam memajukan hubungan bilateral dan di waktu bersamaan mengurangi kebencian masyarakat di Indonesia.

09 Oktober 2015 21:36

Tidak adanya hubungan diplomatik antara kedua negara karena ketidakleluasaan politik di Jakarta memiliki dampak sangat penting terhadap ikatan bisnis di antara kedua negara. Nihilnya hubungan teregulasi dan tidak adanya sokongan pemerintah kian mempersulit mewujudkan aspek dagang, hukum, dan logistik untuk membuat usaha patungan sehingga mencegah adanya investasi langsung Israel di Indonesia.

Saat ini perusahaan-perusahaan berbadan hukum di Israel tidak bisa mendapat verfikasi dokumen perusahaan atau spesifikasi produk mereka disertifikasi oleh Kedutaan-kedutaan Besar Indonesia lantaran negara Israel tidak diakui secara resmi. Alhasil, usaha patungan atau pengambilalihan langsung dan sebagian ekspor ke Indonesia (produk kosmetik) tidak mungkin dilakukan.

Visa bisnis satu kali masuk untuk warga negara Israel harganya hampir US$ 500, dengan kata lain jangan datang. Jarang warga negara Israel diberikan visa lebih dari tujuh hari dan untuk memperoleh visa itu juga mesti menghadapi kerumitan birokrasi.

Situasi ini menempatkan Indonesia, seolah ingin investasi asing, pada posisi tidak menguntungkan yang mengkhawatirkan ketika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Myanmar, Thailand, Vietnam, Taiwan, Kamboja, Laos, dan Filipina, tidak perlu menyebut Cina dan India, semuanya mempunyai hubungan terbuka, dinamis, dan saling menguntungkan dengan Israel, termasuk hubungan diplomatik, dan telah menarik investasi Israel ke negara-negara itu.

Meski faktor-faktor politik telah membatasi hubungan Israel-Indonesia, kerja sama dan perdagangan di antara kedua negara terus meningkat bertahun-tahun. Nilai perdagangan bilateral kini dalam kisaran US$ 400 juta-US$ 500 juta, sekitar 80 persennya adalah ekspor Indonesia. Impor Indonesia dari Israel sebagian besar adalah produk-produk berteknologi tinggi, porsi besarnya dibeli melalui pihak ketiga, seperti Singapura, Eropa, dan Yordania.

Di luar itu, ada beberapa area jika kerja sama ditingkatkan dapat menghasilkan keuntungan signifikan, terutama di sektor pertanian. Israel, telah memiliki banyak teknologi aplikasi mutakhir di bidang pertanian, merupakan pemimpin di dunia. Mempraktekkan teknologi Israel dan mengetahui bagaimana caranya dapat menolong terlaksananya perubahan amat besar terhadap pertanian Indonesia, satu hal perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah masuk ke dalam komunitas pertanian terpencil.

Israel juga bisa membantu di sektor kesehatan, dari sisi teknologi dan metodologi. Kerja sama jarak jauh untuk melayani penduduk Indonesia tersebar luas dan kesehatan masyarakat juga bakal menguntungkan karena Israel salah satu negara memiliki sistem asuransi kesehatan terbaik di dunia.

Sektor energi Indonesia juga bisa ditingkatkan dan kemampuan Israel bisa membantu menaikkan kapasitas produksi listrik buat memenuhi kebutuhan domestik terus melonjak.

Sektor lain mempunyai pengaruh terbesar dalam pembangunan Indonesia adalah pendidikan. Namun kualitas pengajaran masih rendah di banyak wilayah di Indonesia. Akibatnya, sistem pendidikan tidak mampu menghasilkan jumlah guru, insinyur, dan dokter berkualitas benar-benar dibutuhkan negara ini. Bekerja sama dengan Israel, telah mengembangkan metode dan peranti lunak buat pengajaran jarak jauh yang efektif, dapat bermanfaat.

Seluruh potensi teknologi ini disokong oleh sektor teknologi informasi Israel, sudah amat berkembang baik di pasar Indonesia, terutama dalam komunikasi seluler dan satelit serta Wifi, kadang masuk melalui perusahaan-perusahaan bukan perwakilan Israel.

Akhirnya kerja sama di bidang pariwisata juga memiliki potensi besar. Saat ini hanya sekitar 20 ribu warga Indonesia berkunjung ke Israel saban tahun, biasanya peziarah Kristen. Jumlah orang Israel melawat ke Indonesia jauh lebih sedikit. Sebagai pelancong, warga Israel cuma bisa datang dengan visa berkelompok. Bila puluhan ribu orang Indonesia berumrah dan berhaji menambah Yerusalem dalam daftar tujuan mereka, keuntungan di banyak level sangat menjanjikan.

Potensi untuk kerja sama berdasarkan sikap saling melengkapi dari dua perekonomian dan kegemaran Israel mengambi risiko dan inisiatif ini, telah dihambat oleh pertimbangan-pertimbangan politik.

Untuk mengatasi rintangan ini, memerlukan pengertian di pihak Indonesia, yakni akses serta dukungan ke Palestina hanya tersedia melalui Israel. Sehingga antara dukungan terhadap Palestina dalam bentuk kongkret dan membina hubungan resmi dengan Israel bisa bergandengan tangan.

Buat mewujudkan ini bukan hanya membutuhkan kepemimpinan kuat tapi juga konsensus politik domestik dalam skala luas.

Lantas apa yang dapat dilakukan untuk membangun hubungan Israel-Indonesia lebih produktif? Sebuah langkah awal penting bagi Indonesia adalah meningkatkan akses buat perusahaan-perusahaan Israel melalui kebijakan visa lebih liberal dan penunjukan satu perwakilan berfungsi seperti Kedutaan Besar Indonesia (contohnya Singapura, Bangkok, atau Amman). Sehingga perusahaan-perusahaan Israel bisa membikin usaha patungan dengan rekannya dari Indonesia sah secara hukum. Inisiatif itu bisa diikuti oleh sebuah kebijakan liberal menerima turis Israel dengan visa individual, mungkin mulanya terbatas untuk Bali saja.

Di tahap selanjutnya, Indonesia bisa mengajukan "solusi Taiwan", yakni membuka kantor perdagangan di Israel tapi bukan perwakilan diplomatik, mungkin bisa menjadi tawaran buat mendorong Israel lebih serius menghidupkan kembali proses perundingan dengan Palestina.

Jadi ada cara-cara praktis dalam memajukan hubungan bilateral dan di waktu bersamaan mengurangi kebencian masyarakat di Indonesia. Ketepatan memilih waktu untuk inisiatif-inisiatif semacam itu sangat penting. Berbagai perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya bergulirnya lagi dan kemajuan proses perundingan Israel-Palestina, bisa menciptakan kesempatan untuk memajukan hubungan Israel-Indonesia. Peluangnya cukup besar dan bermanfaat.

Dikirim kepada Albalad.co melalui faisalassegaf@yahoo.com

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Pejabat Israel klaim Indonesia kian dekat dengan Israel

"Itu kan cuma klaim sepihak," ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Lior Hayat. (Lior Hayat buat Albalad.co)

Indonesia dan Israel sama-sama rugi kalau tidak bina hubungan resmi

Negara Zionis itu tidak memiliki ganjalan buat menjalin hubungan resmi dengan Indonesia.

Mantan menteri Komunikasi Israel Ayub Kara. Dia adalah orang kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk urusan negara Arab dan muslim. (Wikipedia)

Indonesia in need of technology from Israel

"All countries in the world need Israel with different technologies, like in agriculture, cyber security, etc," said Ayub Kara.





comments powered by Disqus

Rubrik opini Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR