tajuk

Dua wajah Arab dalam konflik Yaman

Kalau sekadar memenuhi ambisi Saudi buat menjegal meluasnya pengaruh Iran di Timur Tengah, keterlibatan pasukan koalisi Arab cuma bakal meledakkan perang sektarian dalam skala luas.

06 April 2015 11:07

Setelah menahan kegeraman dua bulan, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz akhirnya memerintahkan serangan udara terhadap milisi Syiah Al-Hutiyun di Yaman. Pasukan pemberontak dukungan Iran ini telah mencaplok Ibu Kota Sanaa sejak Januari lalu dan mendepak Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi keluar hingga meminta perlindungan di Ibu Kota Riyadh.

Gempuran berlangsung sejak Kamis dini hari pekan lalu itu memunculkan fakta menarik. Dugaan dan keyakinan selama ini sifatnya mereka-reka kian terbongkar. Iran dan Arab Saudi sama-sama berebut pengaruh bukan saja di Yaman, tapi di seluruh Timur Tengah, dan kedua seteru ini menjadikan negara Arab termiskin itu sebagai palagan. Saudi menyebut operasi militer atas kelompok Al-Hutiyun sebagai perang suci, sedangkan Iran mengecam intervensi militer ini melanggar kedaulatan Yaman.

Lebih menarik lagi, perang di Yaman kali ini berhasil menyatukan sepuluh negara Arab dalam pasukan koalisi dipimpin Saudi. Bahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab berlangsung di Syarm asy-Syekh, Mesir, akhir pekan lalu, - digelar dua hari setelah Saudi secara sepihak membombardir Al-Hutiyun – menghasilkan kesepakatan untuk membentuk pasukan koalisi Arab. Tujuannya untuk memberangus kelompok ekstremis atau pemberontak.

Namun perang terjadi di Yaman saat ini dan rencana membikin pasukan bersama Arab bukan saja kian menegaskan dua wajah Arab, bahkan bisa makin memperunyam konflik bersenjata tengah meletup di sejumlah negara di Timur Tengah. Intervensi bakal mereka lakukan cuma untuk memenuhi kepentingan dari penyandang dana operasi militer. Seperti berlaku di Yaman. Saudi paling berkepentingan untuk melancarkan serbuan bersandi Badai Gila itu. Saudi merasa Iran kian memperluas pengaruhnya di Timur Tengah setelah berhasil menggaet Libanon, Suriah, dan Irak.

Langkah koalisi Arab ini di Yaman memicu pertanyaan kenapa mereka tidak melancarkan operasi serupa saat Israel menggempur Jalur Gaza dalam perang 50 hari musim panas tahun lalu? Tentu saja jawabannya bisa ditebak: sebagian besar anggota pasukan koalisi Arab saat ini merupakan konsumen utama persenjataan Amerika Serikat, sekutu istimewa Israel.

Pasukan koalisi Arab tidak mungkin mencampuri perang antara Irak dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Kalau mereka membantu pasukan Irak dengan sokongan utama milisi Syiah, sama saja mereka mendukung kepentingan Iran, sesuatu tentu bakal dihindari oleh Saudi. Mereka tentu saja tidak mungkin menyokong ISIS, organisasi teroris paling mengerikan saat ini.

Di Libya pun kondisinya serupa. Pasukan koalisi Arab tidak mungkin menyokong salah satu dari dua pemerintahan kini ada di negara itu. Hasilnya bakal makin membelah Libya dan ini hanya menguntungkan ISIS telah bercokol di sana.

Alhasil, rencana pembentukan pasukan koalisi Arab sekadar jargon. Kalaupun bisa terbentuk, mereka bakal kebingungan sekaligus menghadapi dilema di negara Arab mana mereka bisa melakukan intervensi militer. Kalau sekadar memenuhi ambisi Saudi buat menjegal meluasnya pengaruh Iran di Timur Tengah, keterlibatan pasukan koalisi Arab cuma bakal meledakkan perang sektarian dalam skala luas. Sebab konflik Sunni-Syiah di kawasan Timur Tengah sudah mengakar berabad-abad.

Dimuat di Koran Tempo, 1 April 2015

Euforia Rohingya alpa Yaman

Situasi dihadapi rakyat Yaman, kebanyakan orang Islam, tidak kalah mengerikan dibanding Rohingya akibat kebiadaban Arab Saudi.

Hujan deras di Arab Saudi (SPA)

72 derajat di Iran tapi hujan di Saudi

Gara-gara temperatur kelewat panas, pemerintah Irak mengumumkan libur nasional empat hari.

Untung ada ISIS

ISIS bisa menjadi alat bagi Arab Saudi untuk menghancurkan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Bandar Udara Internasional Raja Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi. (jed-airport.com)

Dua polisi Saudi divonis seribu kali cambuk karena lecehkan dua remaja Iran

Gara-gara kasus ini, Iran larang warga mereka berumrah.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR