tajuk

Salah kaprah soal Perang Gaza

Sebagai bangsa terjajah, rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat berhak dan wajib melawan penjajah Israel dengan cara apa saja.

06 Juli 2015 23:58

Setelah Israel menerapkan gencatan senjata sepihak selama tiga hari dengan alasan misi menghancurkan terowongan Gaza tembus ke Israel telah selesai, perang kembali bergulir.

Barangkali banyak yang masih salah kaprah mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik kebiadaban Israel ini. Ingat, dalam sembilan tahun sejak mereka cabut dari Gaza, Israel telah tiga kali menjadikan wilayah seluas setengah lebih sedikit ketimbang Jakarta ini sebagai ladang pembantaian dan latihan perang, yakni pada 2008-2009, 2012, dan yang sekarang tengah berlangsung. Boleh jadi mereka tidak tahu kondisi sebenarnya atau termakan kampanye sesat media-media Barat dan Israel pro-Zionis.

Salah kaprah pertama adalah Israel menyerbu Gaza lewat darat, laut, dan udara karena para pejuang Palestina, terutama Hamas dan Jihad Islam, menembakkan roket. Jadi negara Bintang Daud itu beralasan agresi militer ke Gaza – kali ini bersandi Jaga Perbatasan – sebagai upaya membela diri dan Israel merasa berhak melakukan itu.

Tentu saja rakyat Gaza jauh lebih berhak membela diri karena mereka adalah bangsa terjajah. Kalau mau menengok ke belakang, serangan roket pertama dari Gaza baru berlangsung setelah 34 tahun Israel menguasai wilayah itu dan Tepi Barat sehabis menang Perang Enam Hari, Juni 1967. Sebagai bangsa terjajah, rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat berhak dan wajib melawan penjajah Israel dengan cara apa saja.

Apalagi sudah terbukti perundingan-perundingan selama ini selalu mandek. Kalau pun ada kesepakatan hanya bersifat sementara dan kerap menguntungkan Israel. Tel Aviv dengan sokongan tatanan global, terutama sekutu istimewa mereka, Washington DC, memang tidak akan pernah rela negara Palestina merdeka dan berdaulat terbentuk. Israel setuju ada negara Palestina dengan syarat tidak memiliki angkatan perang dan bukan beribu kota di Yerusalem.

Banyak yang masih menganggap Hamas, kelompok berkuasa di Gaza, sebagai organisasi teroris. Alasannya, mereka selalu meneror Israel dengan serangan roket. Hamas juga bukan sekadar tidak mengakui keberadaan negara Israel, namun bersumpah ingin melenyapkan negara Zionis itu dari seluruh wilayah Palestina, seperti sebelum Israel terbentuk.

Padahal Israel lebih pantas dicap sebagai negara teroris. Saban hari kerjaan pasukan mereka menangkapi, membunuh, menculik, dan mengintimidasi warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Apalagi kalau sedang mengamuk seperti sekarang. Israel dengan kekuatan militer canggih, sebenarnya bisa membedakan mana warga sipil dan bukan, bisa lebih bengis lagi. Mereka bakal menggempur serampangan. Mulai dari rumah warga sipil, masjid, sekolah, kampus, jalanan, taman bermain, kuburan, dan bahkan lokasi pengungsian.

Sebagian pihak yakin kalau Hamas dan Jihad Islam tidak menyerang duluan, situasi dan kondisi warga Gaza akan baik-baik saja. Kenyataannya bertolak belakang. Israel sudah memperketat perlintasan dengan Gaza sejak Hamas menang pemilihan umum, Januari 2006. Blokade diperketat setelah Hamas berkuasa penuh setahun kemudian.

Kenyataannya sekitar 1,7 juta penduduk Gaza terjebak. Diam berarti hidup seperti dalam penjara terbuka raksasa karena mereka tidak bebas keluar masuk Gaza. Mereka hidup tanpa kehormatan dan masa depan di wilayah seluas 360 kilometer persegi itu. Dengan menerapkan blokade, Israel telah membunuh warga Gaza pelan-pelan. Jika melawan dengan menembakkan roket, mereka mati lebih cepat lantaran kebiadaban Israel.

Dimuat di Koran Tempo, 11 Agustus 2014

Dunia tanpa Israel

Negara-negara Arab dan Islam tidak bisa bersatu lantaran kepentingan nasional masing-masing berada di bawah pengaruh Amerika Serikat, sekutu abadi Israel.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Terlahir di tengah intifadah

Dalam pertemuan malam itu, ketujuh pemimpin Al-Ikhwan mengambil keputusan bersejarah mengubah organisasi itu menjadi gerakan perlawanan disebut Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah atau disingkat Hamas.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR