tajuk

Krisis pengungsi dan politik agama di Timur Tengah

Kehadiran ISIS kian menegaskan konflik Sunni-Syiah memang sudah berurat dan berakar di dunia Arab.

26 September 2015 08:03

Barangkali inilah krisis pengungsi terbesar sejak Perang Dunia Kedua lantaran konflik bersenjata di Suriah dan Irak. Akibat perang sudah berjalan lebih dari empat tahun, sepuluh juta rakyat Suriah terpaksa mengungsi. Hampir setengah juta dari mereka sudah tiba di Benua Eropa.

Jerman menjadi negara tujuan utama pengungsi Suriah. Mereka bilang siap menampung 500 ribu pengungsi asal negeri Syam itu tahun ini. Namun tangan terbuka ditunjukkan Kanselir Jerman Angela Merkel mulai memicu polemik. Negara ini sudah di batas aman untuk menerima para pengungsi itu. Eropa terbelah. Ada yang mengizinkan masuk para pengungsi Suriah, sebagian menutup perbatasan mereka. Sejumlah politisi di Benua Biru terang terangan menolak menerima pengungsi muslim.

Perkembangan menariknya adalah Vatikan pekan lalu menerima satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, pengungsi Nasrani asal Ibu Kota Damaskus, Suriah. Sebelumnya Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus telah menyerukan kepada semua paroki di seluruh dunia untuk menerima paling sedikit satu keluarga pengungsi asal Suriah.

Krisis pengungsi ini menjadi bukti nyata betapa konflik agama di Timur Tengah sudah begitu mengakar dan kusut. Jadi sulit untuk diselesaikan. Para pengungsi dari Suriah dan Irak merupakan korban dari ideologi ekspansionis dilaksanakan milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), sejak Juni tahun lalu di Kota Mosul memproklamasikan berdirinya khilafah islamiyah.

Kelompok radikal dan brutal dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu menjadikan agama sebagai patokan buat membangun kekuasaan mereka. Termasuk membunuh atau mengusir orang-orang dianggap tidak sejalan dengan keyakinan Islam mereka anut. Bukan sekadar kaum di luar Islam – Nasrani, Hindu, Buddha, atau sekte-sekte minoritas – mereka pandang sebagai musuh karena kafir, Syiah atau penganut Sunni dengan beragam tradisi lokal mereka cap sesat.

ISIS menyatakan kaum kafir dan Islam sesat tidak pantas hidup dalam kekhalifahan versi mereka. Bahkan darah dari kedua golongan ini dianggap halal untuk ditumpahkan, perempuan mereka boleh dijadikan budak seks, dan harta mereka boleh diambil sebagai rampasan perang.

Atas dasar agama pula, ISIS lebih dulu memusatkan perang di Irak dan Suriah. Suriah mayoritas penduduknya berpaham Sunni berada di bawah rezim Basyar al-Assad, juga menganut Syiah sekte Alawi. Demikian pula di Irak. Sejak kekuasaan Saddam Husain tumbang akibat invasi Amerika Serikat pada 2003, Syiah menjadi kelompok sangat berpengaruh dan mendominasi negara Dua Sungai itu.

Kehadiran ISIS kian menegaskan konflik Sunni-Syiah memang sudah berurat dan berakar di dunia Arab. Tengoklah bagaimana dua serangan bunuh diri di Arab Saudi dan satu di Kuwait, diklaim dilancarkan oleh simpatisan atau anggota ISIS. Semua sasaran adalah masjid kepunyaan kaum Syiah. Pemerintah Arab Saudi pun selama ini dituding bertindak diskriminatif terhadap kelompok minoritas Syiah kebanyakan mendiami wilayah timur negara itu, termasuk Qatif.

Motif Syiah pula mendorong negeri Kabah mengabulkan permintaan bantuan tentara buat menumpas para pengunjuk rasa Syiah di Bahrain, negara berpenduduk amyoritas Syiah namun dikontrol oleh rezim Sunni.

Latar belakang itu pula membikin Saudi dengan gagah memimpin pasukan koalisi Arab membombardir pemberontak Al-Hutiyun kini terdesak. Itu merupakan perang pertama di mana militer Saudi terlibat langsung. Milisi Syiah ini sempat mendepak Presiden Yaman Abdu Rabbu Mansyur Hadi dari Ibu Kota Sanaa kemudian ke Aden, dan akhirnya meminta perlindungan ke Riyadh.

Arab Saudi selalu beralasan pasukan Al-Hutiyun mengancam keamanan negara Dua Kota Suci itu. Tapi kenapa Saudi tidak mau menurunkan mesin-mesin perangnya dan mengomandoi pasukan gabungan negara-negara Arab untuk menumpas AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab) telah lebih dulu berulah di Yaman? Jawabannya lantaran Al-Hutiyun berpaham Syiah, dianggap sesat oleh rezim Bani Saud berkuasa di Arab Saudi dan beraliran Wahabi.

Apalagi Arab Saudi meyakini Iran berada di belakang semua upaya dan gerakan revolusi oleh kaum Syiah untuk menggulingkan pemerintahan pro-Saudi. Riyadh amat ketakutan pengaruh Iran – pusatnya komunitas Syiah di dunia – kian meluas di Timur Tengah. Selama ini sudah terbentuk poros Teheran-Damaskus-Baghdad-Beirut.

Karena itulah negara-negara Arab Teluk, terutama Arab Saudi, terang-terangan menyokong pemberontak Suriah, tentu saja termasuk ISIS dan Jabhat Nusrah. Sebab dua kelompok bersenjata paling kuat di Suriah itu berupaya mendongkel Presiden Basyar al-Assad merupakan sekutu Iran.

Negara-negara Arab superkaya tapi kolot di Teluk Persia – Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman – boleh jadi memang benar sudah menampung sebagian pengungsi Suriah. Namun gara-gara kentalnya politik agama di Timur Tengah, muncul dugaan kuat pengungsi diterima masuk disortir atas dasar agama. Tentu saja mesti muslim dan berpaham Sunni.

Tuduhan ini wajar saja dilayangkan. Sebab negara-negara Arab Teluk itu memang keras menolak perbedaan. Sebagai contoh bahkan hingga kini belum ada satu gereja pun berdiri di Arab Saudi, negara mengklaim melaksanakan syariat Islam murni.

Sungguh malang nasib para pengungsi Suriah itu. Mereka terusir dari tanah kelahiran karena konflik bersenjata bermotif agama. Mereka juga terlunta-lunta lantaran nasib mereka ditentukan oleh agama mereka yakini: ingin masuk Eropa jangan menjadi muslim, mau tinggal di negara Arab Teluk tidak boleh beraliran Syiah.

Dimuat di Koran Tempo, 26 September 2015

Gonjang ganjing suksesi di Arab Saudi

Dalam skala lebih luas, jika perseteruan dalam keluarga kerajaan tidak dapat dikendalikan, revolusi dapat meletup di Saudi. Sistem monarki bisa berganti menjadi demokrasi.

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina

Jika Mandela Orang Palestina

Jika Mandela itu orang Palestina dan berjuang menghadapi rezim Zionis rasis dan diskriminatif. Kenyataan tentu bakal berkata lain.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Dua tahun menganggur, pengungsi Suriah di Libanon bakar diri hingga tewas

Terdapat sekitar 900 ribu pengungsi Suriah di Libanon. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu, sekitar 73 persennya hidup miskin. Rasio ini meningkat ketimbang 69 persen pada 2018.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR