tajuk

Firaun modern

Nabi Muhammad tidak pernah mencerca orang-orang kafir Quraisy atau Yahudi sesat atau kafir.

05 November 2015 07:25

Banyak kaum muslim tentu masih ingat cerita Firaun, penguasa Kerajaan Mesir kuno, mengaku sebagai Tuhan. Dia menolak ajaran Tauhid disampaikan Nabi Musa pernah menjadi anak angkatnya. Dia dan pasukannya lalu mengejar rasul itu dan umatnya Bani Israel hingga akhirnya karam di Laut Merah.

Fenomena semacam ini marak muncul empat tahun belakangan, terutama setelah meletupnya pemberontakan di Suriah. Pasukan pemberontak beraliran Sunni - paham dianut mayoritas rakyat Suriah - berambisi menggulingkan Presiden Basyar al-Assad, beraliran Syiah Alawi.

Tadinya konflik sektarian ini tidak terlalu kentara, namun isu Sunni versus Syiah ini muncul setelah kehadiran milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Kelompok bersenjata brutal dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini, berideologi mirip Wahabi, bukan sekadar menjadi monster bagi kaum non-muslim. Mereka juga menuding Syiah sesat dan bahkan kafir.

Kalau diibaratkan kebakaran hutan saban tahun melanda Sumatera dan Kalimantan, asap dari perseteruan Sunni-Syiah sudah mengakar di negara-negara Arab telah berembus sampai ke Indonesia.

Sekarang banyak berseliweran hasutan dan kebencian lewat media sosial, terutama Facebook dan Twitter. Bahkan khotbah-khotbah Jumat di masjid-masjid perkantoran sudah mirip khotbah di medan laga. Isinya: Syiah itu sesat dan darah penganutnya halal ditumpahkan.

Bodohnya lagi, banyak orang Islam di Indonesia meyakini hal itu. Mereka meneruskan pasan-pesan menghasut permusuhan itu tanpa memverifikasi lebih dulu. Bahkan mereka tidak pernah tahu siapa penyebar pertama dan apa agenda mereka.

Apalagi mereka pun tidak tahu bagaimana memverifikasi pesan kebencian itu dan kepada siapa. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kemauan mempelajari soal Syiah atau berhubungan dengan para penganutnya untuk mengetahui langsung dari sumbernya bukan dari pihak ketiga berkepentingan atau cuma katanya dan katanya.

Hasutan untuk membenci orang karena latar belakang agama, keyakinan, suku, budaya, dan sebagainya tidak sesuai ajaran Islam. Apalagi agama disebarluaskan oleh Muhammad - nabi sekaligus rasul penutup - ini mengajarkan mesti ada keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan antar manusia (hablum minannas).

Sekali lagi perlu diingat, hubungan antar manusia, bukan sekadar hubungan antar sesama muslim. Jadi Islam mewajibkan umatnya berbuat baik kepada semua orang tanpa mempedulikan perbedaan.

Dalam Al-Quran pun ada ayat menyatakan, "Kalau ingin disayang penghuni langit, maka harus menyayangi makhluk di Bumi." Jelas ini lebih dari sekadar manusia, seorang muslim wajib pula mencintai tumbuhan dan binatang. Firman Allah ini diperkuat dengan ayat menyebut Allah tidak menyukai orang berbuat kerusakan.

Kemunculan kaum takfiri, kelompok enteng mencap orang kafir atau sesat, ini mengerikan. Mereka tidak sadar sebenarnya sudah mengambil kewenangan Tuhan. Mereka seolah mengetahui apa yang akan terjadi terhadap orang lain. Sikap mereka ini mirip Firaun.

Padahal cuma Tuhan mengetahui apa yang akan terjadi terhadap semua makhluk, termasuk tiap-tiap manusia, saat ajal menjemput. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan mati dalam keadaan Islam atau sebaliknya. Boleh jadi orang kita cap kafir atau sesat bakal mati dalam keadaan Islam. Hanya Allah tahu.

Kaum takfiri mengklaim sebagai pelaksana syariat Islam sejati. Padahal Nabi Muhammad tidak pernah mencerca orang-orang kafir Quraisy atau Yahudi sesat atau kafir.

Sesuai arti katanya, Islam itu adalah agama damai dan mencintai perdamaian. Alhasil, apa yang dilakoni kaum takfiri tidak sesuai ajaran Islam. Dari 99 asmaul husna, hanya dua nama wajib dikerjakan tiap muslim: Arrahman dan Arrahim.

Allah saja, sebagai pencipta segala makhluk, tidak pernah membedakan sinar matahari buat orang beriman atau yang menolak Dia. Allah juga tidak pernah memisahkan antara air untuk kaum muslim dan non-muslim.

Jadi amat sangat tidak pantas kita merasa seperti Tuhan karena memang kita tidak Maha Kuasa seperti Dia.

Normalisasi dan vaksinasi, dua modal Netanyahu bakal terpilih lagi

Makin banyak warga Israel divaksinasi dan kian bertambah antrean negara muslim ingin menormalisasi hubungan, membikin pamor Netanyahu moncer.

Perlukah Raja Salman ganti putera mahkota?

Membiarkan Bin Salman terus berkuasa, bahaya akan mengancam kawasan, dalam negeri, dan bahkan keutuhan keluarga Bani Saud. Perpecahan dalam keluarga kerajaan makin melebar.

Biden dan suksesi Saudi

Karena itu, paling mungkin bagi Bin Salman segera memaksa ayahnya itu lengser dan mengumumkan dirinya menjadi raja.

Hamas naif Fatah tamak

Perbedaan prinsip dalam menyikapi penjajahan Israel membuat sulit bagi Hamas dan Fatah berdamai dengan jujur. Saling curiga akan terus ada.





comments powered by Disqus