tajuk

Komitmen setengah hati perangi ISIS

ISIS memang menjadi musuh banyak negara, tapi ISIS juga memerangi musuh dari banyak negara itu.

23 November 2015 11:57

Prancis lagi-lagi dihantam serangan teror tahun ini setelah penembakan di kantor redaksi majalah Charlie Hebdo dan supermarket Yahudi. Serbuan terkoordinasi oleh tiga tim beranggotakan sembilan orang itu menewaskan seratusan orang dan melukai tiga ratusan lainnya.

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mengklaim bertanggung jawab atas Teror Paris berlaku Jumat dua pekan lalu itu. Dua hari setelah tragedi ini, jet-jet tempur Prancis mulai membombardir Raqqah, ibu kota ISIS di utara Suriah.

Kebijakan menggempur basis ISIS di Suriah secara membabi buta oleh Prancis ini mirip tindakan telah dilakoni Amerika Serikat, Yordania, dan Turki. Washington memutuskan menyerbu ISIS lewat udara setelah kelompok brutal dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu menyembelih wartawan asal Amerika James Foley Agustus tahun lalu.

Yordania juga mengambil tindakan serupa setelah pilot mereka, Muaz al-Kasasbih, dibakar hidup-hidup hingga tewas oleh ISIS awal tahun ini sehabis disandera sejak sehari sebelum Natal tahun lalu, setelah pesawat tempurnya jatuh di Raqqah. Ankara pun sama. Mereka baru menyerbu ISIS lewat serangan udara tiga bulan lalu setelah akhir Juli tahun ini terjadi ledakan bom bunuh diri di Kota Suruc.

Artinya negara-negara ini baru bersikap tegas dan keras terhadap ISIS setelah warga negara atau kepentingan mereka menjadi korban. Selama ini Amerika terkesan membiarkan saja kelompok bersenjata bikinan Abu Musab al-Zarqawi, mendiang pemimpin Al-Qaidah di Irak, ini berkembang menjadi kuat dan wilayah kekuasaan mereka meluas hingga setengah Suriah dan sepertiga Irak. Bahkan menurut dokumen rahasia dibocorkan WikiLeaks, Washington tidak menanggapi seruan Damaskus pada 2013 untuk bekerja sama menumpas Jabhat Nusrah (sayap al-Qaidah di Suriah) dan ISIS.

Turki demikian. Mereka tidak serius mengawasi perbatasannya dengan Suriah sehingga, menurut Indeks Terorisme Global dilansir bulan ini, ada 30 ribu jihadis asing bertempur di Suriah dan Irak sejak 2011. Bahkan laporan itu menyebut di semester pertama tahun ini saja sudah tujuh ribu pejuang asing bergabung ke Suriah lewat Turki.

Sejatinya lumrah saja pihak Barat atau negara-negara muslim lain berkomitmen setengah hati menumpas ISIS sudah mereka nyatakan sebagai kelompok teroris. Sebab ISIS ini persoalan dilematis bagi mereka. ISIS memang menjadi musuh banyak negara, tapi ISIS juga memerangi musuh dari banyak negara itu. Dengan kata lain ada kepentingan ISIS sejalan dengan sejumlah negara. Alhasil, ISIS secara tidak langsung menjadi alat dari negara-negara itu untuk mencapai kepentingan nasional mereka.

Amerika Serikat dan sekutunya satu misi dengan ISIS untuk menumbangkan rezim Presiden Basyar al-Assad berkuasa di Suriah. Bahkan pula dengan Jabhat Nusrah. Presiden Barack Obama tentu menyadari hanya dua faksi itu paling kuat untuk menjatuhkan kekuasaan Assad. Di lain pihak, Washington juga bisa memakai Jabhat Nusrah untuk memerangi ISIS karena memang kedua kelompok ini lahir dari rahim sama, yakni Al-Qaidah, saling bersaing.

Seperti Turki memerangi pemberontak Kurdi, Ankara tentunya senang melihat ISIS menguasai wilayah etnik Kurdi di utara Suriah, di mana mereka bermimpi mendirikan negara di sana. Irak tentunya juga gembira melihat ISIS menguasai wilayah Kurdistan di utara Irak karena mereka sudah bertindak seperti negara dalam negara.

Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk pun satu kepentingan dengan ISIS ingin menumbangkan rezim Syiah berkuasa di Suriah, Irak, dan Libanon. Riyadh melihat Damaskus-Baghdad-Libanon satu poros dengan Teheran, musuh besar mereka dalam perebutan hegemoni di Timur Tengah.

Sebab itu wajar saja negara-negara satu kepentingan dengan ISIS ini kaget betul saat Rusia mulai menggempur para pemberontak Suriah, termasuk ISIS. Mereka tidak menyangka Kremlin bakal melakukan intervensi militer langsung meski mereka sudah tahu Presiden Vladimir Putin memang penyokong Presiden Basyar al-Assad. Rusia selama ini memberikan bantuan persenjataan, pelatihan, dan penasihat militer kepada Suriah.

Amerika dan sekutunya makin bingung mesti bersikap seperti apa. Ikut mendukung kebijakan Rusia dengan menumpas pemberontak berarti menyelamatkan rezim Assad. Namun kalau terang-terangan menolak sikap Rusia itu, Barat telah menjilat ludah sendiri karena mereka sudah mencap ISIS dan Al-Qaidah sebagai teroris tapi ogah-ogahan menumpas mereka.

Di dalam negeri pun, negara-negara Barat tidak serius memerangi sentimen anti-Islam, selalu menjadi alasan bagi Al-Qaidah dan ISIS untuk menyerang negara mereka. Atas nama kebebasan berekspresi, lomba membikin kartun Nabi Muhammad digelar di Prancis. Diskriminasi terhadap imigran muslim juga masih berlangsung di Eropa. Bahkan setelah Teror Paris, Barat berbalik arah menolak kehadiran pengungsi Suriah.

Di negara-negara muslim moderat, bibit radikalisme dibiarkan tumbuh. Banyak kelompok intoleran tidak bisa menerima perbedaan berkembang, seperti di Indonesia.

Bagi negara-negara Barat, konflik Suriah memang sama dilematisnya dengan ISIS. Penyelesaian secara politik lewat perundingan selalu mentok karena Presiden Assad menolak lengser. Mengambil pendekatan militer berarti harus berhadapan dengan Rusia, di bawah kepemimpinan Putin, sering mengambil posisi berlawanan dengan Amerika. Sebagai bekas orang KGB (dinas rahasia luar negeri Uni Soviet), Putin tentu tidak ingin melihat bekas musuhnya dalam Perang Dingin itu berkuasa sendirian di Timur Tengah.

Gonjang ganjing suksesi di Arab Saudi

Dalam skala lebih luas, jika perseteruan dalam keluarga kerajaan tidak dapat dikendalikan, revolusi dapat meletup di Saudi. Sistem monarki bisa berganti menjadi demokrasi.

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina

Jika Mandela Orang Palestina

Jika Mandela itu orang Palestina dan berjuang menghadapi rezim Zionis rasis dan diskriminatif. Kenyataan tentu bakal berkata lain.

Toleh Israel lupa Palestina

Mesir dan Yordania menjadi contoh membina hubungan diplomatik dengan Israel menguntungkan terutama terkait relasi dengan Amerika.               





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR