tajuk

Melepas Saudi dari cengkeraman Wahabi

"Ideologi rezim Saudi mirip ISIS," kata profesor Asad Abu Khalil dari California State University, Amerika Serikat.

02 Februari 2015 20:25

Sudah lebih dari sepekan Raja Salman bin Abdul Aziz naik takhta setekah saudara tirinya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz wafat. Banyak orang menerka-nerka bakal seperti apa gaya kepemimpinan lelaki 79 tahun itu.

Kemungkinan besar tidak akan ada perubahan revolusioner. Arab Saudi saat awal berdiri dengan bantuan Amerika dan Inggris di abad ke-19 akan tetap serupa dengan Saudi sekarang dan di masa depan. Memang tidak boleh dinafikan ada sejumlah perubahan kecil dilakukan oleh mendiang Raja Abdullah: dia mengkampanyekan pentingkan sekolah buat perempuan dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah negara itu, kaum hawa bisa menjadi anggota Dewan Syura.

Lebih dari itu tidak ada. Semua itu disebabkan paham Wahabi masih mencengkeram rezim Bani Saud memerintah Saudi sejak awal. Aliran bikinan Muhammad bin Abdul Wahab ini memang ekstrem. Mereka mengklaim sebagai ajaran Islam murni sesuai disebarkan Nabi Muhammad.

Kenyataannya sungguh bertolak belakang. Wahabi bukan ajaran Islam sadik tapi pemikiran dipenuhi nafsu kekuasaan. Karena melegitimasi kekuasaan Bani Saud, mereka dibebaskan berkembang pesat bahkan hingga diizinkan menyebar paham bernama lain Salafi itu ke seluruh dunia. Penguasa negeri Dua Kota Suci itu tidak segan menggelontorkan miliaran dolar buat siar Wahabi ke negara-negara lain. Sebuah laporan menyebutkan anggarannya US$ 2 miliar saban tahun.

Mari kita bedah kotornya ajaran Wahabi. Mereka menganggap Sunni, Syiah, dan Sufi sebagai aliran di luar Islam. Saking radikalnya, mereka bahkan menghalalkan darah-darah kaum berbeda pendapat dengan mereka. Paham ini mirip benar dengan kelompok-kelompok penyebar teror macam Al-Qaidah, Taliban, dan teranyar ISIS (negara Islam Irak dan Suriah). "Ideologi rezim Saudi mirip ISIS," kata profesor Asad Abu Khalil dari California State University, Amerika Serikat.

Padahal Islam melarang membunuh manusia kalau bukan buat membela diri. Namun kelompok-kelompok teroris berideologi Wahabi atau Salafi serampangan melaksanakan serangan bunuh diri - di sekolah, pasar, atau tempat keramaian lainnya. Kerap yang menjadi korban pun anak-anak dan perempuan, dua kategori haram dibunuh dalam perang versi ajaran Rasulullah.

Kedua, paham Wahabi begitu gampangnya menyebut orang di luar ajaran mereka sesat atau kafir. Padahal Nabi Muhammad, penghulu segala umat, tidak pernah mengejek kafir orang-orang kafir Quraisy. Dia bahkan tidak membalas umpatan, ejekan, hinaan, dan bahkan pelemparan kotoran kepada dirinya.

Mudahnya menuding orang sesat atau kafir ini sama saja dengan merasa paling tahu akhir dari hayat seseorang. Mereka seolah menjadi firaun-firaun modern. Padahal hanya Allah Maha Tahu apakah seseorang itu akan mengembuskan napas terakhirnya sebagai kafir atau muslim. Bisa jadi orang kafir mati sebagai muslim dan sebaliknya, seorang muslim meninggal sebagai kafir.

Ketiga, dengan alasan syirik rezim Wahabi di Saudi menghancurkan peninggalan zaman nabi dan para sahabat. Bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui isi hati seseorang. Sekali lagi, mereka telah berlaku layaknya Tuhan mampu melihat isi hati semua manusia.

Gara-gara arogansi itu, Saudi telah membikin Makkah mirip Las Vegas dan Manhattan. Kesakralan Makkah telah dirusak dengan fasilitas modern dengan alasan buat kenyamanan jamaah haji dan umrah, tapi melenyapkan peninggalan Rasulullah. Orang benar-benar mencintai kekasihnya, tentu bakal memelihara barang-barang peninggalannya sebagai kenangan hingga akhir zaman.

Keempat, Islam sangat menghormati perempuan. Ketika Islam datang 14 abad silam, Nabi melarang kaum Arab jahiliyah mengubur bayi perempuan. Perbudakan dihapus.

Tapi paham Wahabi membatasi gerak perempuan, termasuk urusan pendidikan. Rasulullah saja bersabda menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim lelaki dan perempuan. Bahkan aneh sekaligus lucu, Arab Saudi menjadi satu-satunya negara di dunia melarang perempuan menyetir.

Sebuah laporan pernah dilansir Arabian Business memang mengungkapkan sebagian anggota keluarga Kerajaan Saudi sudah sadar betapa buruknya pengaruh paham Wahabi. Namun berani mengusir aliran ini dari sana sama saja dengan bunuh diri. Kalau sudah begini, siapa saja naik takhta tidak akan mengubah keadaan di Saudi.

Para penggemar tim nasional Arab Saudi membersihkan sampah dari tribun stadion usai laga antara Arab Saudi dan Uruguay dalam Piala Dunia 2018 di Rusia, 20 Juni 2018. (Twitter)

Fans Arab Saudi bersihkan tribun stadion

Arab Saudi sudah dipastikan tersingkir setelah dua kali kalah.

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Yerusalem dan langkah mundur negara-negara muslim

Tidak ada satu pun negara muslim - terutama Mesir, Yordania, dan Turki - berani langsung memutus hubungan diplomatik dengan Israel, apalagi dengan Amerika.

Untung ada ISIS

ISIS bisa menjadi alat bagi Arab Saudi untuk menghancurkan pengaruh Iran di Timur Tengah.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR