tajuk

Agresivitas Arab Saudi dan petaka Timur Tengah

Badan intelijen Jerman BND (Bundesnachrichtendienst) tahun lalu menyimpulkan sikap agresif Riyadh membuat Timur Tengah kian membara.

14 Februari 2016 10:35

Tengoklah perubahan drastis di Timur Tengah tahun lalu, sejak terjadi pergantian penguasa di Arab Saudi. Setelah Salman bin Abdul Aziz dinobatkan sebagai raja menggantikan abangnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz wafat, negara Kabah ini berubah menjadi agresif.

Apalagi setelah Raja Salman mengangkat putra kesayangannya, Pangeran Muhammad bin Salman sebagai menteri pertahanan lalu kekuasaannya kian gendut sehabis jabatannya tambah menjadi wakil putera mahkota sekaligus kepala Dewan Pembangunan dan Ekonomi Arab Saudi.

Baru dua bulan menjabat, Pangeran Muhammad bin Salman telah memerintahkan serangan udara ke Yaman, buat menggempur milisi Al-Hutiyun, kelompok Syiah pro-Iran telah menggulingkan pemerintahan sah di negara itu.

Keputusan ini amat bersejarah. Sebab untuk pertama kali Saudi terlibat langsung secara militer dalam konflik di negara lain. Selama ini mereka hanya menjadi fasilitator atau pendukung saja, seperti saat Perang Teluk I (1990-1991).

Kemudian akhir tahun lalu, Saudi memutuskan membentuk aliansi antiteror beranggotakan 34 negara, kebanyakan berpenduduk mayoritas muslim. Tapi Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia tidak diajak.

Anehnya lagi, kalau memang berfokus memerangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) saat ini diyakini sebagai organisasi teroris paling berbahaya sejagat, Suriah dan Irak juga tidak diajak bergabung. Padahal milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu bercokol di kedua negara bertetangga itu.

Paling mutakhir, Saudi bulan ini memutuskan mengirim pasukan darat ke Suriah untuk menumbangkan rezim Presiden Basyar al-Assad. Kabar terakhir pasukan dan jet tempur Saudi sudah bergerak ke pangkalan di Turki.

Kalau benar pasukan darat Saudi ikut bertempur bareng pemberontak di Suriah, bisa dipastikan perang sudah meletup sejak 2011 itu bakal sulit diselesaikan. Apalagi Rusia teah bersumpah mendukung Assad hingga penghabisan.

Semua agresivitas itu telah membikin Saudi menjadi begitu mengerikan. Badan intelijen Jerman BND (Bundesnachrichtendienst) tahun lalu menyimpulkan sikap agresif Riyadh membuat Timur Tengah kian membara.

Tentu saja sulit mengharapkan Saudi mengendurkan urat syarafnya setelah Iran bebas dari sanksi. Alhasil, agresivitas Saudi atas nama perebutan pengaruh dengan Iran akan kian mengoyak Timur Tengah.

Kapan Perang Gaza rampung

Netanyahu sudah menyatakan perang akan berlangsung selama mungkin yang dibutuhkan. Bukan sekadar melumpuhkan kekuatan Hamas dan Jihad Islam, tapi sampai Netanyahu bisa menjamin jabatannya tidak lepas.

Al-Aqsa dan Yerusalem, simbol takluknya kaum muslim dari Zionis

Sejauh ini sudah delapan negara muslim berkhianat kepada Palestina dengan membina hubungan diplomatik dengan Israel, yakni Turki (1949), Mesir (1979), Yordania (1994), Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko (2020), serta Kosovo (2021).

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman ingin Saudi dan Iran menjalin hubungan baik dan istimewa

Bin Salman beberapa tahun lalu sesumbar ingin menciptakan perang di Iran. Sebaliknya, perang dilancarkan negara Kabah itu terhadap milisi Al-Hutiyun di Yaman sokongan Iran telah menyebabkan Saudi keteteran.

Normalisasi dan vaksinasi, dua modal Netanyahu bakal terpilih lagi

Makin banyak warga Israel divaksinasi dan kian bertambah antrean negara muslim ingin menormalisasi hubungan, membikin pamor Netanyahu moncer.





comments powered by Disqus