tajuk

ISIS belum habis

"Ramadan adalah bulan penaklukan dan jihad...jadikan ia sebagai bulan keheningan di mana saja bagi kaum kafir."

05 Juli 2016 02:49

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) memang tengah terpojok di basis pertahanan mereka di Irak dan Suriah. Puncak kejayaan mereka raih dua tahun lalu mulai redup. Kelompok bersenjata dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini sudah kehilangan 55 dari 126 wilayah telah mereka caplok.

Pukulan telak terbaru, ISIS keluar dari Fallujah dua pekan lalu. Di kampung halaman mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi di Sirte, ISIS juga kian terdesak.

Namun bukan berarti kekuatan ISIS mulai kendor. Lewat rekaman audio disebarluaskan akhir Mei lalu, juru bicara ISIS Muhammad al-Adnani memperingatkan gelombang serangan teror menakutkan bakal terjadi selama bulan puasa. "Ramadan adalah bulan penaklukan dan jihad...jadikan ia sebagai bulan keheningan di mana saja bagi kaum kafir."

Ancaman itu bukan sekadar isapan jempol. Di hari ketujuh Ramadan, Umar Matin membantai 49 orang dan melukai lusinan lainnya saat menembaki pengunjung sebuah klub gay di Kota Orlando, Amerika Serikat. Dua hari berselang, seorang lelaki Prancis menusuk hingga tewas satu komandan polisi dan membunuh pasangannya.

Pada 21 Juni, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bunuh diri menewaskan sembilan tentara Yordania. Senin pekan depannya, tiga pengebom bunuh diri ISIS beraksi di Desa Qaa di Libanon, dihuni mayoritas penduduk Kristen. Di hari sama, satu bom bunuh diri menewaskan lusinan orang di Mukalla, Yaman.

Besoknya, tiga veteran jihadis ISIS asal Rusia, Uzbekistan, dan Kirgistan menyerbu Bandar Udara Internasional Ataturk di Kota Istanbul, Turki, menewaskan 45 orang dan mencederai lusinan lainnya.

Pada 1 Juli, kaum militan diyakini terinspirasi ISIS membunuh 22 orang, kebanyakan warga negara asing, karena tidak bisa membaca Al-Quran di Ibu Kota Dhaka, Bangladesh.

Dua hari kemudian, ISIS sekali lagi mengaku bertanggung jawab atas bom bunuh diri di sebuah pusat belanja di Ibu Kota Baghdad, Irak, membunuh paling sedikit 200 orang.

Pada 4 Juli, tiga serangan bunuh diri terjadi di tiga kota di Arab Saudi: Jeddah, Madinah, dan Qatif. Diduga kuat ISIS sebagai dalangnya.

Inilah bahayanya. Jihadis ISIS sudah banyak yang pulang karena di Irak dan Suriah mereka telah terdesak. Lebih berbahaya lagi lantaran ideologi radikal, brutal, dan menolak perbedaan telah menyebar luas dan tertanam di kalangan muda muslim.

Ideologi mudah menyesatkan atau mengkafirkan orang karena berbeda mazhab bukan sekadar memecah belah Islam, tapi juga memicu permusuhan.

Barangkali tahun ini adalah Ramadan paling berdarah sepanjang sejarah modern.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

ISIS ancam serang infrastruktur minyak Arab Saudi

ISIS menilai tindakan Saudi, UEA, dan Bahrain sebagai pengkhianatan terhadap Islam.

Umrah dan alarm penanganan Covid-19

Tentu pemerintah harus berpikir keras untuk tidak mengecewakan kaum muslim buat kedua kalinya. Kalau tidak mampu mengendalikan wabah Covid-19, jamaah asal Indonesia bisa saja dilarang berumrah ketika pintu dibuka mulai 1 November.

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.

Daftar nama warga Indonesua terkait ISIS di kamp Ain Isa. (Rojava Information Center)

Belum ada keluarga ISIS asal Indonesia di Suriah menjalani program deradikalisasi

Sebanyak 76 keluarga ISIS dipindah dari kamp Al-Haul ke Ar-Roj berasal dari Inggris, Prancis, dan Jerman.





comments powered by Disqus