tajuk

Stabilitas Erdogan dan kepentingan Barat

Dia berhasil menggaet pemilih muslim dan bahkan menciptakan citra sebagai pemimpin Islam idola, namun di lain pihak dia juga tidak seradikal Saddam atau Qaddafi, benar-benar menolak Barat dan Israel

16 Juli 2016 09:32

Upaya kudeta oleh militer pecah di Turki sejak semalam. Usaha menggulingkan rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan ini tersusun rapih dan disokong sejumlah petinggi militer. Sebagai bukti, mereka dalam waktu singkat berhasil menguasai gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas strategis, jet-jet dan helikopter tempur juga dipakai.

Kedua pihak saling klaim: Erdogan menyatakan pemerintah berhasil menguasai keadaan, sedangkan kubu militer menyebutkan mereka sudah mengambil alih kontrol negara. Namun kemungkinan besar kudeta militer ini bakal gagal lantaran Erdogan masih disokong pihak Barat (Amerika Serikat, Eropa, dan para sekutunya).

Bagi Barat, rezim Erdogan masih pantas disokong sebab pemimpin dari AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) berhaluan Al-Ikhwan al-Muslimun itu masih melayani kepentingan mereka. Memang benar Erdogan menghidupkan kembali nilai-nilai islami sejak Turki berubah menjadi sekuler selepas runtuhnya Kesultanan Usmaniyah.

Tapi Barat memandang Erdogan bukanlah Islam radikal, sepenuhnya menolak Barat dan tidak mau mengakui dan bersumpah bakal menghancurkan Israel, seperti dilakoni mendiang Saddam Husain di Irak, Muammar Qaddafi di Libya, atau rezim Mullah masih berkuasa di Iran sejak 1979.

Padahal Erdogan juga banyak melanggar hak asasi manusia, sebuah hal begitu dipuja pihak Barat dan juga diakui dalam ajaran Islam. Erdogan menangkap kaum oposisi dan para pengkritiknya. Dia juga memerangi warga mayoritas Kurdi bermukim di tenggara Turki dan dianggap sebagai pemberontak.

Bahkan Erdogan sudah bertindak seperti diktator. Meski berhaluan republik, dia bisa memaksa Perdana Menteri Ahmet Davutoglu turun karena tidak sepaham dengan dirinya. Dengan klaim ingin menghidupkan kejayaan Kesultanan Usmaniyah, Erdogan menghabiskan US$ 350 juta untuk membangun Istana Outih berisi 1.150 kamar dan menempati lahan seluas 202.343.

Memang benar Erdogan pernah tidak mau bersalaman dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah insiden Mavi Marmara pada 2010. Tapi dia baru-baru ini berbaikan lagi dengan Israel setelah negara Zionis itu mau membayar kompensasi atas sepuluh korban tewas aktivis dalam misi kemanusiaan ke Jalur Gaza itu, meski Israel tetap menolak mencabut blokade atas Gaza. Sebab Turki membutuhkan pasokan gas dari Israel.

Memang benar Turki membantu rakyat Gaza tapi hanya bantuan kemanusiaan juga digelontorkan sebgaian besar negara muslim. Bukan bantuan senjata dan pelatihan militer, seperti dilakoni Iran terhadap Hamas dan Jihad Islam, bisa membikin Israel kecut sekaligus membuat rakyat Palestina bermartabat karena mampu melawan.

Memang betul Turki menerima jutaan pengungsi Suriah, tapi setelah serangan teror didalangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) terhadap Brussels dan Paris, Erdogan menuruti tekanan Eropa untuk menutup perbatasannya agar tidak ada lagi jihadis ISIS menyusup bareng gelombang pengungsi ke Eropa. Bahkan kerap terjadi penembakan terhadap para pengungsi Suriah berusaha menyeberang ke Turki.

Meski sudah dihantam sejumlah Teror ISIS, Erdogan tidak serius memerangi milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. Sebab dia seposisi dengan Barat, anti-rezim Basyar al-Assad berkuasa di Suriah. Apalagi ISIS juga memerangi Kurdi dipandang sebagai pemberontak oleh Erdogan. Padahal ISIS benar-benar memanipulasi ajaran Islam, agama sekaligus modal kampanye Erdogan buat menggaet konstituen.   

Erdogan cerdik memainkan strategi politik. Dia berhasil menggaet pemilih muslim dan bahkan menciptakan citra sebagai pemimpin Islam idola, namun di lain pihak dia juga tidak seradikal Saddam atau Qaddafi, benar-benar menolak Barat dan Israel, negara menjajah Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat islam sekaligus masjid paling suci setelah masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Meski Israel sudah sering menjadikan Gaza ladang pembantaian dan rakyat Palestina sebagai mainan, Erdogan tidak pernah melancarkan perang terbuka atas negara Bintang Daud itu. Dia sadar Israel adalah wakil dari kepentingan Barat di Timur Tengah sehingga tidak boleh diganggu.  

Alhasil, selama Erdogan tidak seradikal Saddam dan Qaddafi menolak kepentingan Barat, kekuasaannya bakal aman.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Erdogan sebut otoritas tertinggi di Arab Saudi perintahkan habisi Khashoggi

Dia tidak meyakini Raja Salman sebagai pemberi perintah.

Andai Khashoggi dibunuh di Konsulat Iran

Dunia, termasuk negara-negara muslim, ramai-ramai mengutuk. Organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional bakal bersuara lantang.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang mengajari cucunya, Ahmet Akif Albayrak, di Marmaris, pada 15 Juli 2016. (Hurriyet Daily News)

Erdogan permudah orang asing ingin jadi warga Turki

Kemudahan ini diberikan di tengah melorotnya nilai tukar lira Turki terhadap dolar Amerika Serikat.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Hurriyet Daily News)

Turki akan boikot produk elektronik Amerika

Hubungan kedua negara memburuk lantaran Turki menahan Pastor Andrew Brunson dari Amerika sejak Oktober 2016.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR