tajuk

Petaka Mina dan tanggung jawab Arab Saudi

Darah sudah tumpah di Mina tahun lalu tapi bukan berarti Arab Saudi boleh lari dari tanggung jawab.

09 September 2016 00:01

Setahun sudah Tragedi Mina berlalu namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda pemerintah Arab Saudi ingin mengusut tuntas musibah terbesar sepanjang pelaksanaan ibadah haji itu. Bahkan terlihat jelas negara Kabah ini berupaya menutupi atau melupakan insiden tersebut.

Ya, pelaksanaan rukun Islam kelima tahun lalu itu diwarna dua kejadian memilukan. Tabrakan arus jamaah haji di jalan menuju tempat pelemparan jumrah di Kota Mina, Arab Saudi, menewaskan ribuan orang. Peristiwa ini berlangsung hanya dua pekan setelah sebuah Derek raksasa jatuh di dalam Masjid Al-Haram, mengakibatkan 111 jamaah haji meninggal dan lebih dari 200 orang lainnya cedera.

Hingga setahun berlalu, komite penyelidikan dibentuk atas perintah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz belum mengumumkan hasil investigasi mereka. Riyadh masih bertahan dengan angka korban mereka lansir beberapa hari setelah Petaka Mina, 769 orang wafat dan 934 lainnya luka. Padahal hasil investigasi dilakoni kantor berita Associated Press dan reuters menyebutkan total korban tewas dalam insiden di Jalan 204 itu lebih dari 2.100 jamaah haji. Temuan ini pun baru berdasarkan data resmi 30 negara dari 180 negara pengirim jamaah haji.

Petaka Mina - insiden terburuk sejak musibah serupa pada 1990 dan menewaskan 1.426 jamaah haji -memang pantas dipersoalkan karena banyak kejanggalan. Pemerintah Arab Saudi bahkan terlihat ingin lari dari tanggung jawab. Di hari kejadian saja, tiga pejabat Arab Saudi langsung melempar tudingan jamaah haji sebagai penyebabnya. Padahal waktu itu belum ada perintah penyelidikan.

Ketua Komite Haji Pusat Arab Saudi sekaligus Gubernur Makkah pangeran Khalid al-Faisal bilang jamaah asal Afrika sebagai dalang tragedi Mina. Menteri Kesehatan Khalid al-Falid menyalahkan jamaah karena tidak menaati panduan dan instruksi. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mayor Jenderal Mansyur at-Turki bilang saking banyaknya jamaah haji ingin buru-buru melempar jumrah sebagai penyebab petaka Mina. Hingga muncul kabar bencana itu terjadi lantaran ada 300 jamaah haji Iran berbalik arah. Namun tidak dijelaskan apa penyebab mereka melawan arus sehingga terjadi tabrakan dengan jamaah lainnya.

Seorang pemantau pelaksanaan haji asal Indonesia ada di Mina saat tragedi itu muncul bilang kepada saya, di sekitar lokasi sebenarnya banyak kamera pemantau CCTV. Dia juga heran kenapa sulit sekali menuntas penyelidikan kasus Mina.

Kenyataannya memang Arab Saudi ingin menutupi aib ini. Raja Salman – menggelari dirinya sebagai Pelayan Dua Kota Suci – tentu sadar Tragedi Mina merupakan hal memalukan bagi negara dan pemerintahannya telah berpuluh tahun menjadi pemantau sekaligus penanggung jawab pelaksanaan ibadah haji.

Karena itu, wajar saja bila pemerintah Arab Saudi berupaya menutup rapat-rapat penyebab dan hasil investigasi Petaka Mina. Sikap ini sangat jelas kelihatan lantaran Arab Saudi ngotot menolak pembentukan komite investigasi internasional, melibatkan sejumlah negara muslim notabene ada warga negara mereka menjadi korban. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apa yang sebenarnya dirahasiakan dari Tragedi Mina?    

Padahal negara-negara muslim, termasuk Indonesia, yang jamaah haji meninggal dalam Peristiwa Mina itu, berhak dan wajib menuntut penyelidikan musibah itu segera dirilis ke masyarakat. Herannya, tidak ada satu pun negara muslim pengirim jamaah haji saban tahun mendesak pemerintah Arab Saudi menuntaskan investigasi mereka.

Hanya Iran berani bersuara lantang. Hampir 500 jamaah haji mereka terbunuh dalam Petaka Mina. Lagi-lagi Arab Saudi menuding protes Iran terhadap kelalaian dan keengganan Riyadh untuk menuntaskan kasus Mina tersebut dipandangan sebagai upaya mempolitisasi masalah haji. Apalagi Arab Saudi memandang Iran sebagai musuh bebuyutan mereka dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah. Kedua negara ini memang membela dua pihak berlawanan dalam konflik di Suriah dan Yaman.  

Tidak lama setelah Petaka Mina, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menuntut Iran segera meminta maaf kepada seluruh keluarga korban meninggal dan cedera, serta kepada kaum muslim sejagat. Khamenei juga menyerukan para pejabat Arab Saudi bertanggung jawab dalam pelaksanaan haji diadili. Seruan ini diulangi Khamenei Senin pekan ini.

Sikap congkak membikin Arab Saudi tidak malu dan menolak meminta maaf. Jangan harap Riyadh bersedia memberi santunan seperti mereka janjikan terhadap keluarga korban jatuhnya derek raksasa di Masjid Al-Haram, meski fulus duka itu sampai kini juga belum diterima. Seperti kata Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah asy-Syekh: Tragedi Mina adalah kehendak Allah sehingga tidak ada yang pantas disalahkan. Kalau sudah begini, Arab Saudi seperti lepas tangan. Mereka mengeruk keuntungan ekonomi dari pelaksanaan haji tapi tidak mau bertanggung jawab bila ada musibah dalam penyelenggaraannya.

Keuntungan ekonomi itu pula yang membuat Arab Saudi menolak usulan agar pelaksanaan ibadah haji sekaligus kontrol atas Makkah dan Madinah dikelola secara bersama-sama lewat OKI (Organisasi Konferensi Islam). Riyadh tentunya tidak ingin sumber pendapatan itu dibagi rata dengan negara-negara muslim lainnya.

Yang bikin miris lagi, keluarga korban Petaka Mina seolah ikhlas karena terhibur dengan mantera korban meninggal dalam musibah itu dipercaya mati syahid. Mestinya mereka tidak bungkam.

Darah sudah tumpah di Mina tahun lalu tapi bukan berarti Arab Saudi boleh lari dari tanggung jawab.

Andai Khashoggi dibunuh di Konsulat Iran

Dunia, termasuk negara-negara muslim, ramai-ramai mengutuk. Organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional bakal bersuara lantang.

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Yerusalem dan langkah mundur negara-negara muslim

Tidak ada satu pun negara muslim - terutama Mesir, Yordania, dan Turki - berani langsung memutus hubungan diplomatik dengan Israel, apalagi dengan Amerika.

Kala Kabah mulai berpaling dari Al-Aqsha

Kita mestinya mafhum Arab Saudi kian mesra dengan Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR