tajuk

Akhir Revolusi Arab

Beruntung Assad menjadi sekutu Vladimir Putin. Dengan bantuan Putin, Assad sangat mungkin mengakhiri Revolusi Arab.

13 Desember 2016 21:56

Barangkali inilah akhir dari Revolusi Arab, tertahan di Suriah selama lima tahun, setelah bertiup dari Tunisia, berlanjut ke Mesir lalu menghantam Libya. Pasukan rezim Basyar al-Assad dibantu sekutu setianya, Rusia, tinggal sedikit lagi menguasai kembali Aleppo, kota terbesar kedua di negara Syam itu.

Kota kuno berdiri lima ribu tahun sebelum kelahiran Nabi Isa itu memang menjadi basis banyak kelompok pemberontak, mulai dari kelompok nasionalis sekuler hingga Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Presiden Assad kelihatannya tidak bakal bernasib seperti koleganya - Zainal Abidin bin Ali (Tunisia), Husni Mubarak (Mesir), dan Muammar Qaddafi (Libya) - tumbang lantaran tiupan angin Musim Semi Arab.

Penguasaan kembali Aleppo akan menjadi kemenangan terbesar Assad dalam perang telah meluluhlantakkan negaranya selama lima tahun belakangan.

Kekalahan kaum pemberontak di Suriah kian membuka kedok keterlibatan pihak asing dalam Perang Suriah. Keengganan Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat membantu para pemberontak membikin mereka kian terdesak.

Amerika dan negara-negara sekutu Arabnya pun menjadi keder. Mereka yang tadinya getol menyumbang dana dan senjata, serta melatih kaum pemberontak mundur satu-satu. Apalagi setelah Jabhat an-Nusrah dan ISIS, dua milisi paling diandalkan buat merobohkan kekuasaan Assad, malah menyerang warga mereka dan bahkan beraksi di negara mereka.

Amerika mulai menggempur ISIS setelah wartawannya, James Foley, tewas digorok Jihadi John. Turki ikut-ikutan sehabis jihadis ISIS rajin melancarkan serangan bunuh diri, termasuk di Istanbul dan Ankara. Arab Saudi pun demikian, bahkan membentuk aliansi antiteror beranggotakan 34 negara muslim tapi tidak mengajak Suriah dan Irak, dua negara dijadikan basis ISIS, kelompok teroris paling mengerikan saat ini.

Banyak pihak kini mafhum pemberontakan akhirnya berujung pada perrang berkepanjangan di Suriah terjadi karena intervensi asing. Semua ini bagian dari upaya Amerika dan para sekutu Arabnya buat menggoyahkan pengaruh Iran di Timur Tengah, telah membentuk poros Teheran-Damaskus-Baghdad-Beirut.

Selama ini Barat selalu beralasan Revolusi Arab merupakan bagian dari keinginan rakyat Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, atau Yaman atas demokratisasi. Tapi mengapa keinginan itu tidak muncul di negara-negara Arab Teluk berbentuk kerajaan, secara hakikat merupakan pemerintahan diktator?  

Beruntung Assad menjadi sekutu Vladimir Putin. Dengan bantuan Putin, Assad sangat mungkin mengakhiri Revolusi Arab. 

Andai Khashoggi dibunuh di Konsulat Iran

Dunia, termasuk negara-negara muslim, ramai-ramai mengutuk. Organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional bakal bersuara lantang.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel danai dan persenjatai 12 kelompok pemberontak di Suriah

Tiap pemberontak mendapat bayaran US$ 75 saban bulan. Juga ada dana tambahan untuk 12 kelompok pemberontak buat membeli senjata di pasar gelap Suriah.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel selamatkan 800 relawan Helm Putih dari Suriah

Evakuasi itu dilakukan setelah Inggris, Jerman, dan Kanada bersedia memberikan suaka.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR