tajuk

Proteksionisme Trump dan sentimen anti-Islam

Trump melarang imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim - Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, dan Somalia - masuk ke Amerika.

28 Januari 2017 13:48

Kecemasan muncul sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat November tahun lalu. Sepekan setelah dilantik, Presiden Trump hari ini atau Jumat malam waktu setempat meneken surat keputusan melarang imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim - Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, dan Somalia - masuk ke Amerika.

Trump beralasan larangan berlaku 90 hari ini untuk mencegah teroris menyusup ke negara adikuasa itu.

Ya, untuk pertama kali seorang presiden Amerika terang-terangan menyasar muslim karena amat ketakutan terhadap mereka. Tentu saja ini kian mengentalkan persepsi perang antiteror dilancarkan Amerika memang sengaja menyasar orang-orang Islam. Saat berpidato setelah dilantik, Trump pun bersumpah bakal menghabisi teroris Islam radikal.

Artinya, paradigma Amerika belum berubah. Kepemimpinan Trump seolah cermin Presiden George Walker Bush ketika meluncurkan kampanye global antiterorisme setelah serangan 11 September 2001. Dia langsung menggempur basis-basis Al-Qaidah di Afghanistan dan menyebut itu sebagai perang suci. Semua tahanan kamp militer Guantanamo, pernah mencapai lebih dari seribu orang diduga teroris dan tanpa diadili, adalah orang Islam.

Padahal anggota-angggota Al-Qaidah itu kebanyakan bekas mujahidin sokongan Amerika dalam mengenyahkan Uni Soviet dari Afghanistan pada 1980-an.

Yang menarik dari tujuh negara muslim yang warganya dilarang menjadi imigran ke Amerika, tidak ada nama Afghanistan dan Pakistan, negara menjadi basis Taliban dan Al-Qaidah. Trump seolah menganggap ISIS - sudah ada di Irak, Suriah, Libya, Yaman, dan Somalia, jauh lebih berbahaya ketimbang Taliban atau Al-Qaidah.

Padahal diam-diam Amerika, semasa Presiden Barack Obama, mendukung ISIS karena menganggap milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu paling mampu menggulingkan rezim Presiden Suriah Basyar al-Assad. Amerika baru membombardir ISIS setelah Agustus 2015 wartawan Amerika James Foley disembelih oleh mereka.

Sentimen anti-Islam makin terasa ketika Trump menyatakan larangan bagi pengungsi Suriah tanpa batas waktu. Sedangkan boikot terhadap pengungsi dari semua negara hanya berlaku 120 hari. Trump bilang dia mengutamakan pengungsi Nasrani dari Timur Tengah.

Dengan larangan atas imigran dari tujuh negara muslim dan pengungsi Suriah, berarti Trump meyakini ajaran Islam bisa membikin muslim menjadi teroris.

Sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, Trump memang berhak dan wajib melindungi keamanan wilayah serta rakyat Amerika. Tapi kebijakan terkesan rasis itu sangat berbahaya bagi Amerika. Kaum teroris, telah mengeksploitasi ajaran Islam sebagai justifikasi, punya alasan dan dorongan kuat untuk meneror Amerika.     

Umrah dan alarm penanganan Covid-19

Tentu pemerintah harus berpikir keras untuk tidak mengecewakan kaum muslim buat kedua kalinya. Kalau tidak mampu mengendalikan wabah Covid-19, jamaah asal Indonesia bisa saja dilarang berumrah ketika pintu dibuka mulai 1 November.

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.

Selamat tinggal Palestina

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim.

Perlukah Indonesia berdamai dengan Israel?

Sapri Sale, penulis kamus Indonesia Ibrani dan Ibrani-Indonesia pertama, berkontribusi untuk menjembatani warga Indonesia dan Israel ingin mengetahui kehidupan masing-masing negara lewat bahasa.





comments powered by Disqus