tajuk

Heboh Salman minim hasil

Mestinya Raja Salman tidak malu meminta maaf atas petaka itu karena semua berada di bawah tanggung jawabnya.

26 Maret 2017 13:28

Kunjungan kenegaraan sekaligus liburan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia sudah dua pekan berlalu, namun sejumlah orang masih bertanya-tanya apakah lawatan bersejarah itu bisa dibilang berhasil?

Jawabannya minim. Kehebohan memang terasa sejak sepekan menjelang kedatangan penguasa negara Kabah itu, 1-2 Maret merupakan lawatan resmi dan 4-12 Maret pelesiran di Bali.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, mengklaim kehadiran raja ketujuh Arab Saudi itu bisa mendatangkan investasi sekitar US$ 25 miliar. Kenyataannya, dari sebelas nota kesepahaman diteken tidak soal investasi, kebanyakan di sektor pendidikan dan kebudayaan. Hanya satu nota kesepahaman senilai US$ 1 miliar untuk mendanai beragam proyek.

Harapan Pramono itu bagai mimpi. Pertama, Arab Saudi meurut prediksi IMF (Dana Moneter Internasional), mengalami defisit anggaran sejak 2015 hingga 2020, akibat melorotnya harga minyak mentah global sedari pertengahan 2014. Inilah memicu Arab Saudi mereformasi ekonominya lewat Visi 2030 diluncurkan Wakil Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, merupakan anak Raja Salman.  

Selain itu, karakter Arab Saudi dan pangeran supertajir, mereka lebih suka berinvestasi di Amerika dan Eropa ketimbang negara-negara muslim, terutama di sektor keuangan dan properti.

Kelompok-kelompok pro-Presiden Joko Widodo pun membuncah. Mereka menyebut kunjungan Raja Salman sebagai keberhasilan diplomasi rezim Joko Widodo. Padahal lawatan itu merupakan kunjungan balasan setelah Joko Widodo datang ke Saudi pada September 2015.

Kalau mau jujur, kita kalah ketimbang Malaysia. Kita meyakini lawatan Raja Salman menunjukkan Indonesia penting di mata Saudi, tapi dia ternyata memilih singgah dulu di Malaysia sebagai tujuan pertamanya.

Memang benar, Raja Salman menunjuk Muhammad bin Tahir al-Bantani, lelaki keturunan Banten, sebagai menteri haji dan umrah. Namun sampai sekarang kita belum bisa memperoleh lokasi pemondokan tetap bagi jamaah haji, padahal kita rombongan terbesar saban tahun. Ini menunjukkan kelemahan diplomasi kita.

Ketika Raja Salman tiba pun muncul kesalahan diplomasi lantaran Presiden Joko Widodo membiarkan tamu negaranya itu semobil dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dalam perjalanan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma menuju istana kepresidenan di Bogor, Jawa Barat.  

Mestinya Joko Widodo menemani Raja Salman, persisi dilakukan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, dengan bangga dan terkesan akrab semobil bareng tamunya itu. Alasan protokoler agar Joko Widodo bisa lebih dulu menyambut saat tiba di Istana Bogor sebuah kekeliruan.

Saat semobil itulah Joko Widodo bisa memanfaatkan peluang itu untuk melobi Raja Salman demi meningkatnya hubungan dagang dan investasi kedua negara. Atau apa saja menjadi prioritas kepentingan nasional terkait hubungan bilateral dengan negara Dua Kota Suci tersebut.

Saya bahkan kuatir kerja sama pendidikan dalam bentuk tukar menukar ulama dan pendirian institusi pendidikan Islam Saudi di Indonesia bisa menciptakan generasi muslim di Indonesia tidak toleran akan perbedaan. Rezim Wahabi berpusat di Arab Saudi dianggap sebagai sumber ekstremisme, radikalisme dan terorisme, menurut hasil penelitian sejumlah ahli Amerika Serikat dibiayai Departemen Luar Negeri Amerika.

Hasil riset selesai pada 2013 itu tidak pernah dilansir karena takut membikin Riyadh marah. Menurut penelitian itu, Saudi telah menyebarluaskan ideologi Wahabi ke seluruh negara muslim moderat dan berhasil mengubah pandangan sebagian orang tentang Islam menjadi kaku dan tidak toleran.   

Kelompok-kelompok mengklaim paling islami di media sosial lebih gila lagi. Mereka juga termakan omongan Pramono Anung. Bahkan mengklaim Raja Salman akan melunasi utang Indonesia dan mendepak hegemoni Cina dari Indonesia. Mereka menganggap Raja Salman adalah pemimpin Islam peduli terhadap negara-negara muslim, termasuk Indonesia.

Mestinya dicamkan, Raja Salman adalah penguasa politik bukan pemimpin kaum muslim. Kebetulan saja Kabah merupakan kiblat umat Islam sejagat berada di negaranya. Padahal kalau melihat sejarah, Makkah itu menjadi haknya Yordania. Sebab Syarif Husain bin Ali, leluhur Raja Abdullah dari Yordania, adalah penguasa Makkah.

Bahkan rezim Bani Saud berkuasa di Saudi telah mengoyak Makkah. Bangunan peninggalan zaman Nabi Muhammad dan sahabat dihancurkan dengan alasan bisa menimbulkan syirik. Makkah tidak lagi mirip kota ibadah tapi seperti daerah tujuan wisata. Rasanya sungguh tidak etis, hotel dan mal bersebelahan dengan tembok Masjid Al-Haram. Apalagi banyak bangunan mengangkangi Kabah.

Raja Salman pun tidak jujur dengan Tragedi Mina di musim haji 2015. Sampai kini hasil investigasi tidak diumumkan. Hasil investigasi Associated Press dan Reuters menyebutkan korban tewas lebih dari 2.400 orang Tim penyelidik dibentuk Saudi pun tidak melibatkan negara-negara yang warganya menjadi korban.

Mestinya Raja Salman tidak malu meminta maaf atas petaka itu karena semua berada di bawah tanggung jawabnya.

Konflik di Timur Tengah pun tidak lepas dari persaingan antara Arab Saudi dan Iran dalam berebut pengaruh dan hegemoni di kawasan tersebut. Jadi jangan melihat semua dilakoni Saudi demi kepentingan Islam, yang ada murni politik.

Saudi membantu pemberontak di Suriah untuk menggulingkan Presiden Basyar al-Assad, penganut Syiah. Tapi di Yaman, Saudi menggempur milisi Al-Hutiyun, bermazhab Syiah, ingin berkuasa di sana. Di Bahrain pun sama. Meski mayoritas rakyat Syiah tidak suka pada rezim, Saudi akan tetap membela penguasa.

Pemerintah perlu mengakomodasi Saudi dan Iran untuk meningkatkan hubungan dagang dan investasi dengan Indonesia, tapi jangan sampai Indonesia menjadi arena pertempuran Saudi melawan Iran, seperti berlaku di Timur Tengah saat ini.        

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Raja Salman dikabarkan sakit parah

Pangeran Ahmad mendapat sokongan dari para pangeran senior untuk menjadi raja Arab Saudi berikutnya.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Kelompok pembangkang serukan Pangeran Ahmad rebut takhta Raja Salman

Pangeran Ahmad termasuk tiga orang menolak penunjukan Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

Kudeta ancam Arab Saudi

"Dalam waktu dekat kita akan menyaksikan kudeta terhadap raja dan putera mahkota," kata Pangeran Khalid.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran pembangkang desak Raja Salman lengser

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz cocok menjadi pengganti.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR