tajuk

Konferensi Islam-Amerika dan dagelan politik Arab Saudi

Saudi memanipulasi konferensi itu untuk membentuk opini buat mendiskreditkan Iran.

22 Mei 2017 10:35

Arab Saudi kemarin menggelar Konferensi-Islam Amerika di Ibu Kota Riyadh. Ini merupakan pertemuan pertama antara negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dengan pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Tapi seperti sudah bisa diduga, konferensi hanyalah untuk memenuhi ambisi dan kepentingan Saudi belaka. Riyadh telah memanipulasi pertemuan tingkat tinggi itu untuk menggalang opini dunia mendiskreditkan Iran. 

Dalam pidatonya, Raja Salman bin Abdul Aziz menyebut Iran sebagai negara sponsor terorisme dan penyebab ketidakstabilan di Timur Tengah. Trump juga berpendapat serupa dan bahkan meminta dunia untuk mengisolasi Iran.

Padahal lewat kesepakatan soal program nuklir Iran dicapai pada Juli 2015 di Ibu Kota Wina, Austria, dan berujung pada pencabutan sanksi ekonomi atas negara Mullah itu Januari tahun lalu, pihak Barat dengan terbuka menyambut kembali kehadiran Iran di panggung internasional.

Melalui konferensi tersebut, Saudi berupaya menyampaikan pesan Iran adalah musuh bersama bagi perdamaian dunia. Dengan tidak mengundang Iran dan Suriah dalam acara itu, Saudi seolah bilang negara anti-Amerika tidak layak dijadikan rekanan dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian dunia.

Konferensi tersebut berfokus pada upaya memerangi terorisme dan radikalisme. Tapi anehnya Saudi tidak mengundang Iran, mereka tuduh sebagai penyokong terorisme, untuk dimintai klarifikasi. Saudi juga tidak mengundang Suriah walau sejumlah kelompok teroris, termasuk Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) - dua kelompok teroris paling berpengaruh dan berbahaya di dunia saat ini - beroperasi di sana. 

Saudi kerap menyalahkan Iran karena mencampuri urusan negara lain dengan mendukung pemberontak Al-Hutiyun di Yaman. Padahal negara Kabah itu juga berlaku sama, menyokong kaum pemberontak buat menggulingkan rezim Basyar al-Assad di Suriah. 

Apa yang digagas Raja Salman juga tidak masuk akal. Dia mengajak Trump untuk bergandengan dengan negara-negara muslim meski Trump bolak balik beretorika anti-Islam. Bahkan sepekan setelah dilantik, Trump mengeluarkan kebijakan melarang pendatang dari tujuh negara muslim, yakni Iran, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan, dan Libya. 

Bagaimana mungkin Raja Salman mengajak Trump, pemimpin dari sebuah negara yang mendukung terorisme atas nama negara. Amerika adalah negara terang-terangan melanggengkan penjajahan Israel atas Palestina. Amerika adalah negara pertama mendukung berdirinya negara Israel pada 1948. Sejak berakhirnya Perang Yom Kippur pada 1973, Amerika sudah lebih dari 40 kali memveto resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam Israel.

Perlu diingat, melalui kampanye demokratisasi Amerika sudah menciptakan kekacauan di Timur Tengah melalui Revolusi Arab dan berhasil menggulingkan tiga pemimpin dicap diktator - Ali Zainal Abidin di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, dan Muammar Qaddafi di Libya. Mereka juga menginvasi Irak dan membikin negara Dua Sungai itu kacau sampai sekarang. Namun Amerika tidak mendorong terjadinya reformasi politik di kawasan Arab Teluk meski enam negara di sana menganut sistem kerajaan.

Amerika juga berperan dalam kelahiran Al-Qaidah dan ISIS. Bahkan Amerika baru serius memerangi ISIS setelah wartawan mereka James Foley disembelih pada Agustus 2015. 

Kelihatan sekali Amerika dan Saudi gelagapan saat Rusia melakukan intervensi militer secara langsung buat menumpas semua pemberontak di Suriah. Sebab sebelum itu terjadi, Amerika dan Saudi terang-terangan mendukung pemberontakan di Suriah. 

Dalam sejumlah penelitian, paham Wahabi berpusat dan disebarluaskan oleh Saudi telah menginspirasi munculnya organisasi berpaham radikal dan ekstremis. Sebuah paham menolak perbedaan, tradisi, dan sejarah.

Alhasil, Konferensi Islam-Amerika itu sekadar buat memenuhi ambisi politik Saudi dalam persaingan dengan Iran buat merebut hegemoni di Timur Tengah. Karena berambisi buat mengalahkan Iran, Saudi telah menciptakan sebuah situasi perlombaan senjata di Timur Tengah.

Sangat disesalkan, Presiden Joko Widodo memenuhi undangan Saudi untuk hadir dalam konferensi itu. Indonesia telah terjebak oleh permainan Saudi. Mestinya Indonesia menggagas konferensi semacam itu. Sebab Indonesia merupakan negara muslim terbesar sejagat dan pantas disebut sebagai pemimpin Islam sejati.

Islam ala Indonesialah pantas disebarluaskan. Memang benar Islam dilahirkan di negara Arab tapi ia besar dan dewasa di Indonesia.

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Raja Salman berencana turun takhta pekan depan

Setelah dilantik menjadi raja, Pangeran Muhammad bin Salman akan memusatkan perhatian terhadap Iran.

Negara idaman Israel

Israel dan Saudi menganggap Iran musuh bersama.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Arabian Business)

Saudi bantah Raja Salman segera lengser

Spekulasi itu meluas setelah kemarin Raja Salman kembali ke Ibu Kota Riyadh sehabis lawatannya ke Kota Madinah.

Foto Mansur bin Hasan bin Ali al-Fahid al-Amiri, penyerang Istana As-Salam milik Raja Salman bin Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi. Insiden itu berlangsung pada 7 Oktober 2017 dan menewaskan dua pengawal istana. (SPA)

Arab Saudi rilis foto penyerang istana milik Raja Salman

Pelaku membawa sebuah Kalashnikov dan tiga bom molotov





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR