tajuk

Isolasi Qatar arogansi Saudi

Bagi Saudi, siapa saja berteman dengan Iran adalah pihak jahat dan pantas dimusuhi, serta yang berteman dengan Saudi adalah orang baik.

08 Juni 2017 06:33

Dunia tersentak Senin lalu saat Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Yaman memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Saudi, Bahrain, dan UEA menutup semua perbatasan dengan negara tetangganya itu.

Mereka mengusir warga dan diplomat Qatar. Negara-negara Arab ini juga melarang warganya bepergian ke Qatar. Semua maskapai mereka dilarang terbang menuju Qatar. Maskapai Qatar Airwyas juga dilarang mendarat, transit, atau bahkan sekadar melewati wilayah udara mereka. Pendek kata, Saudi sekawan ingin mengisolasi Qatar.

Mereka beralasan Qatar menyokong terorisme. Salah satu tuduhan dilemparkan adalah negara Arab mungil itu menyokong pemberontak Syiah Al-Hutiyun di Yaman, sudah diperangi pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi sejak Maret 2015. Lalu apa bedanya dengan Arab Saudi mendukung kaum pemberontak di Suriah ingin menggulingkan rezim Basyar al-Assad?

Padahal, paham Wahabi berpusat di Saudi dan mereka kembangkan ke seluruh dunia telah menginspirasi lahirnya organisasi-organisasi teroris, termasuk Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Sebuah laporan disusun para ahli Amerika dibiayai oleh Departemen Luar Negeri Amerika - selesai pada 2013 namun tidak dilansir karena takut merusak hubungan dengan Saudi - menyimpulkan Saudi  bertanggung jawab menyebarkan paham Islam tidak toleran dan antiperbedaan ke negara-negara muslim tadinya moderat.

Elite-elite di Inggris kini mendesak Perdana Menteri Theresa May mempublikasikan laporan investigasi, juga disembunyikan lantaran sensitif, karena menyebut Saudi mendanai masjid-masjid dan madrasah berpaham radikal.

Karena paranoia terhadap Iran, Arab Saudi telah bertindak arogan. Kelakuan rezim Bani Saud berkuasa di negara Kabah itu mirip sekutunya, Amerika Serikat. Saudi ingin mendikte negara-negara di Tmur Tengah khususnya dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim umumnya, tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Saudi merasa menjadi polisi bagi negara-negara muslim.

Bagi Saudi, siapa saja berteman dengan Iran adalah pihak jahat dan pantas dimusuhi, serta yang berteman dengan Saudi adalah orang baik. Mirip pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam Konferensi Islam-Amerika digelar di Ibu Kota Riyadh bulan lalu. Riyadh menilai Doha bersahabat dengan Teheran, karena itu dicap jahat dan pantas dimusuhi.

Beruntung Qatar negara makmur. Bank Dunia dua tahun lalu menetapkan Qatar - dengan pendapatan per kapita US$ 130 ribu setahun - sebagai negara terkaya sejagat.

Seperti Amerika telah menghancurkan Irak setelah invasi pada Maret 2003, Saudi pun sudah membikin Yaman runyam sejak menciptakan perang di negara Arab termiskin itu lebih dua tahun lalu. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar lima juta anak di Yaman kekurangan gizi dan 300 ribu lainnya kini terancam wabah kolera.

Arogansi Saudi kian terang benderang karena mereka tidak mendahulukan dialog dengan Qatar sebagai tetangga. Riyadh lebih memilih memutus hubungan saat bulan suci Ramadan, tindakan bertentangan dengan ajaran Islam. 

Umrah dan alarm penanganan Covid-19

Tentu pemerintah harus berpikir keras untuk tidak mengecewakan kaum muslim buat kedua kalinya. Kalau tidak mampu mengendalikan wabah Covid-19, jamaah asal Indonesia bisa saja dilarang berumrah ketika pintu dibuka mulai 1 November.

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.

Selamat tinggal Palestina

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim.

Perlukah Indonesia berdamai dengan Israel?

Sapri Sale, penulis kamus Indonesia Ibrani dan Ibrani-Indonesia pertama, berkontribusi untuk menjembatani warga Indonesia dan Israel ingin mengetahui kehidupan masing-masing negara lewat bahasa.





comments powered by Disqus