tajuk

Euforia Rohingya alpa Yaman

Situasi dihadapi rakyat Yaman, kebanyakan orang Islam, tidak kalah mengerikan dibanding Rohingya akibat kebiadaban Arab Saudi.

25 September 2017 13:45

Sebulan sudah kekerasan meletup di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, sejak kelompok militan di sana menyerang pos pasukan keamanan pemerintah.

Tentara Myanmar membalas dengan bengis. Membakar desa-desa komunitas Rohingya dan membunuhi orang-orang dari etnis minoritas muslim itu. Konflik berdarah terulang lagi ini memaksa hampir setengah juta warga Rohingya mengungsi ke negara tetangga Bangladesh.

Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim bereaksi. Mereka berunjuk rasa mengecam kekejaman pasukan Myanmar dan bungkamnya ikon demokrasi sekaligus penerima Nobel Perdamaian pada 1991, Aung San Suu Kyi, kini menjabat penasihat negara.

Di Jakarta demonstrasi besar berlangsung di depan Kedutaan Besar Myanmar. Umat Islam mengklaim sesama muslim wajib saling membantu.

Ironisnya, simpati kemanusiaan oleh kaum muslim sejagat tidak berlaku terhadap Yaman, luluh lantak dibombardir pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi sejak Maret 2015. 

Padahal situasi dihadapi rakyat Yaman, kebanyakan orang Islam, tidak kalah mengerikan dibanding Rohingya akibat kebiadaban Arab Saudi. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut situasi dihadapi penduduk Yaman akibat perang sebagai krisis kemanusiaan terbesar saat ini. Hampir 19 juta warga Yaman kelaparan, termasuk sepuluh juta orang memrlukan bantuan kemanusiaan darurat. 

Dalam tiga bulan saja, konflik berdarah di Yaman membuat lebih dari dua ribu orang tewas akibat kolera menjangkiti lebih dari setengah juta orang. Sebanyak lima juta anak di Yaman kekurangan gizi. 

Tapi herannya tidak ada negara muslim bergerak. Tidak ada umat Islam di Jakarta berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Nihil pemimpin demonstran mengutuk Raja Salman bin Abdul Aziz atas penderitaan rakyat Yaman. 

Tidak ada pula pengunjuk rasa menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi sekaligus mengusir duta besarnya dari Indonesia. Juga tidak ada seruan jangan ada lagi bendera Saudi berkibar di Indonesia. 

Nyaris tidak ada kampanye pengumpulan bantuan kemanusiaan bagi rakyat dan pengungsi Yaman. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga tidak bolak balik Jakarta-Riyadh meminta Arab Saudi menghentikan serangan. 

Negara-negara muslim kelihatan sungkan sekaligus takut buat mengecam Arab Saudi. Jangan pula berharap Organisasi Konferensi Islam (OKI) - biaya operasionalnya ditanggung oleh Saudi - mau menggelar sidang darurat membahas krisis kemanusiaan di Yaman.

Barangkali merrka cemas kalau bersuara keras terhadap Arab Saudi bisa dikurangi kuota hajinya. 

Alhasil, jangan salahkan kalau ada yang menganggap sikap kemanusiaan kaum muslim terhadap etnis Rohingya terkesan politis dan berstandar ganda. 

Umat Islam selalu mengklaim muslim ibarat satu tubuh. Kalau satu bagian tubuh merasa sakit, bagian badan lainnya merasakan hal serupa. Namun mereka tidak merasa sakit dengan penderitaan rakyat Yaman. Mereka tidak menganggap Yaman berpenduduk mayoritas muslim juga harus dibela.

Lebih penting dari itu, kemanusiaan diajarkan Islam tidak mengenal batas agama atau etnis. Tengok saja praktek Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia tidak membedakan matahari buat orang Islam dan kaum kafir. Allah juga tidak membedakan udara dan air bagi orang rajin beribadah dan yang menentang.

Sikap Arrahman dan Arrahim inilah yang mesti dipraktekkam kaum muslim. Karena itulah membuat Islam menjadi rahmat bagi sekalian alam.

 

 

 

Palestina negara ilusi

Israel adalah sebuah negara teokrasi versi kaum Yahudi Zionis. Karena itu, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah bagian dari keimanan.

Buka dialog dengan Israel, terobosan Indonesia bela Palestina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon bilang sungguh lucu Indonesia ingin berperan mencari solusi tapi hanya mau berhubungan dengan satu pihak.

Teladan Trump bagi pemimpin negara muslim

Kecaman dari mereka tak ubahnya letupan petasan akhirnya lenyap setelah sumbu habis.

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR