tajuk

Revolusi dua musuh bebuyutan

Revolusi di Saudi dan Iran sama-sama menyenangkan Amerika dan Israel.

31 Desember 2017 20:31

Kejutan itu meletup Kamis lalu saat ratusan orang berunjuk rasa di Masyhad, kota dihuni kubur imam Syiah, Ali Rida, dan ulama tasawuf beraliran Sunni, Imam Al-Ghazali. Mereka turun ke jalan lantaran marah harga terus naik dan korupsi marak di Iran.

Demonstrasi besar-besaran ini meluas hingga ke berbagai kota, termasuk di Qom, pusat pengajaran teologi Syiah, dan Ibu Kota Teheran. Gejalanya mirip dengan Revolusi Arab menyapu Tunisia pada akhir 2010 dan Mesir di Februari 2011. Masalah ekonomi pemicunya.

Protes mulai berubah ke arah politik, di mana pengunjuk rasa di sejumlah kota meneriakkan slogan "Matilah kau diktator (pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei). Mereka juga nekat menunrunkan poster Khamenei dan gambar besar Mayor Jenderal Qasim Sulaimani, komandan Brigade Al-Quds, pasukan elite dalam Garda Revolusi Iran.

Selain Libya, Iran dan Suriah - sama-sama anti-Amerika dan Israel - merupakan tujuan utama Revolusi Arab. Namun gelombang musim semi tersebut telah menjauh dari negara Syam dan kini mulai bertiup ke negeri Persia.

Revolusi sebenarnya juga sudah terjadi di Arab Saudi, musuh bebuyutan Iran dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah. Dimulai dari keputusan Raja Salman bin Abdul Aziz pada April 2015 mengangkat anak bungsu kesayangannya dari istri ketiga, Pangeran Muhammad bin Salman, menjadi wakil putera mahkota, setelah memecat adiknya, Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz.

Dua tahun kemudian, Juni lalu, karier lelaki 32 tahun itu kian moncer, dan naik menjadi putera mahkota setelah menggeser abang sepupunya, Pangeran Muhammad bin Nayif.

Pangeran Muhammad bin Salman segera meluncurkan sebuah revolusi di sektor ekonomi dan sosial. Setelah mengizinkan perempuan menonton di stadion, kaum hawa di negara Kabah itu rencananya dibolehkan menyetir mobil dan truk, serta mengendarai sepeda motor mulai Juni tahun depan.

Di bidang ekonomi, calon raja Saudi ini melakukan liberalisasi dengan membuka keran investasi asing. Saudi Aramco direncanakan melakukan IPO (penjualan saham perdana) di paruh kedua 2018. Semua perusahaan berpelat merah bakal diswastanisasi. Subsidi bahan bakar, listrik, dan air dicabut. Pajak penjualan dan layanan diterapkan.   

Rakyat Saudi beberapa kali ingin turun ke jalan untuk memprotes kebijakan menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa itu, tapi mereka kelewat takut.

Agresifitas Pangeran Muhammad bin Salman berlanjut dengan menahan ratusan pangeran, konglomerat, pejabat, dan perwira militer atas nama korupsi. Kebijakan ini mengusik konsensus dalam keluarga Bani Saud, penguasa Saudi sejak negara ini dibentuk pada 1932.

Urusan luar negeri, Pangeran Muhammad bin Salman terang-terangan menantang Iran di Yaman, Suriah, Irak, Libanon, dan Bahrain.

Revolusi di dua negara bermusuhan ini memang berbeda awalnya. Kalau di Saudi bermula dari penguasa, sedangkan di Iran berawal dari rakyat.

Hanya saja revolusi terjadi di kedua negara tersebut sama-sama menyenangkan Amerika dan Israel. Sebab membikin Saudi kian lengket dengan Amerika dan Israel dan bisa membuat musuh bersama ketiga negara itu bersimpuh.

Tapi waktu pula bakal menjawab: revolusi di Saudi atau di Iran akan membuahkan hasil.     

Lokasi unjuk rasa antirezim di seantero Iran. (BBC)

Tiga demonstran Iran meninggal dalam penjara

Pemerintah mengklaim Sina meninggal karena bunuh diri.

Unjuk rasa antirezim di Ibu Kota Teheran, Iran, 30 Desember 2017. (Media Sosial)

Lebih dari seribu mahasiswa di Iran ditahan

Kebanyakan dari Universitas Teheran.

Mantan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. (commons.wikimedia.org)

Ahmadinejad ditangkap dengan tuduhan hasut demonstran

Pihak oposisi mengklaim sudah 50 demonstran tewas. Sedangkan versi pemerintah hanya 22 orang terbunuh.

Protes antipemerintah terjadi di Kota Masyhad, Iran, 28 Desember 2017. (BBC)

21 orang tewas, 450 ditahan dalam protes antirezim di Iran

"Dalam beberapa hari belakangan, musuh-musuh Iran menggunakan beragam cara, termasuk fulus, senjata, politik, dan aparat intelijen untuk menciptakan kekacauan di Republik Islam (Iran)," kata Khamenei.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR