tajuk

Kala Kabah mulai berpaling dari Al-Aqsha

Kita mestinya mafhum Arab Saudi kian mesra dengan Israel.

04 April 2018 09:42

Pernyataan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat diwawancarai majalah the Atlantic benar-benar mengagetkan. Meski Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, anak Raja Salman bin Abdul Aziz ini mengakui keberadaan negara Zionis itu.

Dia bilang bangsa Yahudi, seperti bangsa Palestina dan lainnya, berhak memiliki negara dan tanah airnya sendiri.

Pertanyaannya, di mana wilayah berhak untuk bangsa Yahudi mendirikan sebuah negara? Tentu saja bukan Palestina. Sebab orang-orang Yahudi datang ke Palestina setelah Deklarasi Balfour pada 1917 dan yang sekarang menjadi warga negara Israel bukanlah warga Yahudi menjadi penduduk asli Palestina (Yahudi Sephardi) tapi kebanyakan imigran dari Rusia dan negara Eropa lainnya (Yahudi Ashkenazi).

Negara Israel didirikan lewat gerakan Zionisme merupakan sebuah sistem politik menganut ideologi ekspansionis. Ketika imigran Yahudi Ashkenazi pertama tiba pada 1917, mereka hanya boleh menghuni 17 persen dari total wilayah Palestina. Luas wilayah mereka bertambah setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Rencana Partisi pada 1947. Padahal waktu itu jumlah warga Arab dan Yahudi Sephardi 725 ribu (99 persen) ketimbang orang Yahudi Ashkenazi hanya sebanyak sepuluh ribu (1 persen).

Wilayah Israel kian luas setelah mereka menang dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967, setelah merebut seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza.

Kalau merujuk pada proposal damai diajukan Arab Saudi pada Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Beirut, Libanon, pada 2002, wilayah Israel adalah sebelum Perang Enam Hari 1967. Artinya negara Palestina bakal memiliki wilayah meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan beribu kota di Yerusalem Timur. Itu pun luasnya hanya 22 persen saja dari total wiulayah sebelum negara Bintang Daud itu dibentuk pada 1948.  

Tapi Israel berkali-kali bilang Yerusalem adalah ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Palestina pun menolak mempunyai negara kalau tidak beribu kota di Yerusalem Timur.

Tentu saja pernyataan calon penguasa negara Kabah itu keblinger. Israel adalah negara penjajah yang merebut tanah orang Palestina, jadi tidak berhak berdiri di atas wilayah Palestina.

Alhasil, kita mestinya mafhum Arab Saudi kian mesra dengan Israel. Pekan lalu, untuk pertama kalinya Riyadh mengizinkan maskapai Air India rute New Delhi-Tel Aviv melewati wilayah udara mereka. Dalam lawatannya ke Amerika baru-baru ini, Pangeran Muhammad bin Salman mengadakan pertemuan dengan pentolan dari organisai-organisai lobi Yahudi pro-Israel, seperti AIPAC (Komite Urusan Publik Amerika-Israel) dan ADL (Liga Antidefamasi)

Pada September tahun lalu, Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rombongan resmi melawat ke Israel. Juga masih di 2017, Arab Saudi menyatakan Hamas, merupakan organisasi pejuang Palestina, sebagai kelompok teroris, sama dengan kebijakan dibuat oleh Israel dan Amerika Serikat.

Kalau sudah begini, Arab Saudi tidak pantas dijadikan kiblat bagi negara-negara muslim untuk membela kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina. Sebab Kabah mulai berpaling dari Al-Aqsha. 

Daftar produk Turki diserukan untuk diboikot di Arab Saudi. (Twitter)

Aktivis Saudi serukan boikot semua produk Turki

Para aktivis Arab Saudi itu menegaskan kampanye boikot produk Turki ini untuk menghukum Erdogan lantaran terlalu mencampuri urusan dalam negeri Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Senat Amerika sepakat anak Raja Salman terlibat pembunuhan Khashoggi

Senat juga mengesahkan resolusi meminta Amerika menghentikan keterlibatannya dalam Perang Yaman dimotori Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu targetkan buka hubungan diplomatik dengan Arab Saudi tahun depan

Banyak negara Arab ingin bekerjasama dengan Israel dalam sektor keamanan dan pertahanan.

Uskup Ava Morkos memimpin misa Kristen Koptik pertama di Arab Saudi pada 2 Desember 2018. (Twitter/DrMahmoudRefaat)

Menanti salib tegak di negara Kabah

Raja Abdullah pernah bertemu Paus Benediktus XVI dalam kunjungan ke Vatikan pada 2007.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR