tajuk

Yerusalem dan langkah mundur negara-negara muslim

Tidak ada satu pun negara muslim - terutama Mesir, Yordania, dan Turki - berani langsung memutus hubungan diplomatik dengan Israel, apalagi dengan Amerika.

15 Mei 2018 06:46

Benar kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu: dengan memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem, Presiden Donald Trump telah membikin sejarah.

Amerika menjadi negara paling berpengaruh sejagat pertama meresmikan kedutaannya di kota suci bagi tiga agama itu. Tentu saja Netanyahu pantas girang. Sebab langkah Washington ini diyakini bakal diikuti negara-negara lain. Setidaknya sudah dua negara siap membuka kedutaan besarnya di Yerusalem bulan ini, yakni Guatemala pada 16 Mei dan Paraguay di akhir Mei.

Bagi Netanyahu dan Trump ini sebuah kemajuan fantastis dalam konflik Palestina-Israel, namun buat negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia, perkembangan terbaru itu merupakan kemunduran tragis.

Diplomasi, tekanan, kutukan, dan demonstrasi besar-besaran mendukung Palestina sejak negara Israel berdiri 70 tahun lalu saja belum mampu membebaskan Yerusalem dari cengkeraman Israel, apalagi buat memerdekakan Palestina.

Untuk bangsa Palestina, Yerusalem adalah harga mati. Mestinya prinsip itu pula diyakini dan dipraktekkan negara-negara muslim.

Tapi kenyataannya berlawanan. Malah Tump berani mengambil risiko, termasuk mengubur proses perdamaian selama ini mandek demi memenuhi mimpi bangsaya Yahudi, yakni mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Reaksinya pun normatif saja. Tidak ada satu pun negara muslim - terutama Mesir, Yordania, dan Turki - berani langsung memutus hubungan diplomatik dengan Israel, apalagi dengan Amerika.  

Barangkali para pemimpin negara muslim bingung harus bagaimana lagi. Mereka sudah mengecam dan bahkan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa digelar Desember tahun lalutelah mengeluarkan resolusi menolak, tidak lama setelah Trump mengumumkan pengakuan Amerika terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan rencana memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.

Tapi hal itu tetap tidak menghentikan langkah Trump. Tentu saja sekali lagi ini sebuah kemunduran bagi negara-negara muslim. Mencegah Trump meresmikan Kedutaan Amerika di Yerusalem saja tidak mampu, apalagi memaksa kedutaan itu dipindahkan lagi ke Tel Aviv.

Alhasil, sekali lagi ini kemunduran sekaligus kekalahan tragis dialami negara-negara muslim dalam konflik Palestina-Israel.  

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

Suasana dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem di hari pertama Ramadan, 17 Mei 2018. (Albalad.co)

Senyum Ivanka air mata Gaza

Secara keseluruhan, sejak protes berlangsung delapan pekan lalu, sudah 109 orang terbunuh dan sembilan ribu lainnya cedera.

Laila al-Ghandur, bayi delapan bulan meninggal akibat tembakan gas air mata tentara Israel dalam demonstrasi di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel pada 14 Mei 2018. (Twitter)

Bayi delapan bulan di Gaza meninggal kena tembakan gas air mata Israel

Total korban tewas akibat protes kemarin adalah 60 orang.

Infografis soal demonstrasi di perbatasan Jalur Gaza-Israel pada 14 Mei 2018. (Kementerian Kesehatan Palestina)

58 warga Gaza tewas dalam protes menolak pembukaan Kedutaan Amerika di Yerusalem

Secara keseluruhan sejak demonstrasi digelar delapan pekan lalu, total korban tewas sedikitnya 104 orang dan hampir sembilan ribu lainnya cedera.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR