tajuk

Bendera putih buat Palestina

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump.

24 Mei 2018 10:10

Ada rentang waktu lima bulan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan negaranya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel sekaligus rencana memindahkan kedutaan besar ke kota suci bagi tiga agama - Islam, Yahudi, dan Nasrani - itu. Tapi para pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim tidak mau dan mampu memanfaatkan kesempatan itu.

Seperti biasa dan sudah seperti rutinitas, pertemuan darurat digelar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Konferensi Islam, dan Liga Arab. Hasilnya pun sudah dapat ditebak dan itu lagi itu lagi: menolak sekaligus mengecam pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota negara Zionis dan rencana memindahkan kedutaan ke Yerusalem.

Para pemimpin negara muslim itu tidak ada mengambil langkah konkret untuk mencegah Trump melaksanakan rencananya itu. Hingga akhirnya pada Senin pekan lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-70 berdirinya negara Israel, Amerika akhirnya meresmikan kedutaannya di yerusalem sekaligus bentuk pengakuan sebagai ibu kota Israel.

Lagi-lagi reaksi para pemimpin negara muslim sama: menolak sekaligus mengecam. Harusnya mereka mengambil upaya untuk memaksa Trump mengembalikan Kedutaan besar Amerika ke tempat semula di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Namun kelihatannya mereka tidak mau dan mampu melakukan itu.

Maklum saja, negara-negara muslim memiliki keterbatasan dalam upaya mewujudkan negara Palestina dan berdaulat. Masing-masing terbelenggu oleh kepentingan nasional. Di Turki terdapat pangkalann NATO, aliansi militer dipimpin oleh Amerika. Negara-negara Arab Teluk pun sangat mengandalkan dukungan politik dan militer dari Amerika.

Selain sudah ada tiga negara muslim berkhianat kepada Palestina karena membangun hubungan diplomatik dengan Israel, yakni mesir, Yordania, dan Turki. Belum lagi yang melakoni hubungan ekonomi dan militer secara diam-diam.

Alhasil, para pemimpin negara muslim itu selama ini cuma bisa bereaksi atas segala tindakan dan provokasi dilakoni Israel dan Amerika. Tindak pernah ada langkah proaktif dan dramatis untuk mewujudkan negara Palestina beribu kota di Yerusalem Timur.

Mestinya para pemimpin negara muslim mengibarkan bendera putih dalam memperjuangkan Palestina kalau tidak berani mengambil langkah dramatis dan luar biasa seperti dilakukan Trump. Akui saja negara-negara muslim takluk dan membiarkan rakyat Palestina berjuang sendiri.

Karena kenyataannya, mereka hanya dapat menyalak namun tidak menggigit.  

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina

Jika Mandela Orang Palestina

Jika Mandela itu orang Palestina dan berjuang menghadapi rezim Zionis rasis dan diskriminatif. Kenyataan tentu bakal berkata lain.

Ratusan warga Palestina bersiap untuk berbuka puasa dengan makanan sumbangan dari masyarakat Indonesia disalurkan melalui KBRI Amman, 25 Mei 2018. (Albalad.co)

Israel berdaulat atas seluruh wilayah Yerusalem versi proposal damai Trump

Palestina akan diberi status negara dengan syarat tidak ada milisi di Jalur Gaza dan Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi dengan Ibu Kota Yerusalem.

Toleh Israel lupa Palestina

Mesir dan Yordania menjadi contoh membina hubungan diplomatik dengan Israel menguntungkan terutama terkait relasi dengan Amerika.               





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR