tajuk

Buka dialog dengan Israel, terobosan Indonesia bela Palestina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon bilang sungguh lucu Indonesia ingin berperan mencari solusi tapi hanya mau berhubungan dengan satu pihak.

05 April 2019 11:26

Pada 14 Mei tahun ini menandai setahun pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem. Kecaman keras disampaikan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tidak mengubah fakta di lapangan. 

Presiden Amerika Donald Trump menolak menarik pengakuan negara adikuasa itu atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, seperti diserukan oleh resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Terobosan Trump ini menggaet sejumlah negara untuk melakoni hal serupa, tapi baru Guatemala memindahkan kedutaannya ke kota suci bagi tiga agama - Islam, Yahudi, dan Nasrani - itu.

Sebaliknya, para pemimpin negara-negara muslim, termasuk Indonesia merupakan negara muslim terbesar sejagat, masih belum berani mengambil terobosan. Yang dilakukan masih itu-itu saja: berjuang di forum regional dan internasional, bersikap reaktif saban kali Israel dan sekutunya bertindak. 

Padahal, seperti dikatakan dua duta besar Israel untuk Singapura sebelumnya kepada saya, Ilan Ben Dov dan Amira Arnon, Indonesia juga harus melakukan kontak dengan Israel kalau ingin menjadi penengah dalam konflik Palestina-Israel.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon bilang sungguh lucu Indonesia ingin berperan mencari solusi tapi hanya mau berhubungan dengan satu pihak. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun mengharapkan hal serupa. Mestinya ini harus dipandang sebagai peluang bagi Indonesia buat menjadi mediator, menggantikan penengah tradisional, Mesir dan Yordania. 

Tawaran dari Israel ini menandakan Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat. Berdialog dengan Israel bukan berarti Jakarta mengakui negara Zionis itu. 

Malahan Indonesia bisa menekan Israel agar mengizinkan Indonesia menjadi negara pertama memiliki kedutaan di Yerusalem Timur sebagai perwakilan diplomatik di Palestina, bukan cuma diplomat kehormatan Indonesia berkedudukan di Ramallah. 

Melalui dialog, Indonesia dapat menuntut lembaga-lembaga kemanusiaan asal Indonesia berkantor di Yerusalem Timur dan Gaza, untuk mempermudah penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk membeli tanah dan rumah-rumah buat warga Palestina. 

Karena itulah dilakukan JNF (Dana Bangsa Yahudi), membeli rumah dan tanah-tanah kepunyaan orang Palestina untuk diberikan kepada para pemukim Yahudi. Sehingga hal ini bisa mengubah kondisi demografis di Yerusalem Timur, warga Yahudi lebih dominan dibanding orang Palestina. 

Tentu saja dua permintaan itu bakal sulit dipenuhi oleh Israel. Tapi apa salahnya dicoba. Kalau dialog dengan Israel itu gagal maka perlu dicari terobosan lainnya, jangan cara usang dan normatif tetap dipakai. 

Sebab mimpi Palestina merdeka akan hilang. Negara Palestina bakal sekadar khayalan. 

 

Gonjang ganjing suksesi di Arab Saudi

Dalam skala lebih luas, jika perseteruan dalam keluarga kerajaan tidak dapat dikendalikan, revolusi dapat meletup di Saudi. Sistem monarki bisa berganti menjadi demokrasi.

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina

Jika Mandela Orang Palestina

Jika Mandela itu orang Palestina dan berjuang menghadapi rezim Zionis rasis dan diskriminatif. Kenyataan tentu bakal berkata lain.

Toleh Israel lupa Palestina

Mesir dan Yordania menjadi contoh membina hubungan diplomatik dengan Israel menguntungkan terutama terkait relasi dengan Amerika.               





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

De-facto the Palestinian natives are annexed to Israel

The de-facto annexation created a de-facto Jewish apartheid. De-jure annexation provides Israel with legal tools to confiscate Palestinian land and expand settlements.

27 Juni 2020

TERSOHOR