tajuk

Dilema Trump hadapi Iran

Kalaupun Iran dapat dilumpuhkan dengan cepat, Amerika akan kesulitan mencari musuh bersama baru dan ditakuti oleh Arab Saudi dan Israel, dua sekutu utama Amerika di Timur Tengah.

22 Juni 2019 21:48

Arab Saudi dan Israel tentu dua negara paling girang ketika Kamis lalu waktu setempat Presiden Amerika Serikat memerintahkan penyerbuan terhadap Iran. Kedua negara itu tentu gigit jari lantaran Trump membatalkan serangan itu meski jet-jet tempur sudah terbang dan kapal perang sudah siaga.

Trump pasti menyadari Iran bukan lawan enteng meski dari kekuatan militer kedua negara tidak sepadan. Iran tidak memiliki bom nuklir pernah dipakai dua kali oleh Amerika untuk mengakhiri Perang Dunia Kedua.

Meski begitu, Iran amat tangguh. Ini sudah dibuktikan ketika negara Mullah itu berperang selama delapan tahun, 1980-1988, menghadapi Irak di bawah rezim Saddam Husain. Negeri Persia ini juga mampu bertahan dari tekanan sanksi ekonomi dan politik sudah dilan carkan Amerika sejak Revolusi Islam meggapai kemenangan pada 1979.

Ketangguhan Iran pula membikin Arab Saudi dan Israel jeri untuk berperang sendirian. Sampai kini, negara Zionis itu masih belum mampu menumpas milisi Hamas di Palestina dan Hizbullah di Libanon, keduanya disokong oleh Iran.

Negara Kabah juga kedodoran berperang menghadapi milisi Al-Hutiyun di Yaman berlangsung sejak Maret 2015, juga didukung oleh Iran. Bahkan, Al-Hutiyun berhasil menyerang balik ke sejumlah wilayah Arab Saudi.

Untuk berperang menghadapi Iran, Amerika harus dapat membentuk alianso solid, juga dukungan logistik dan dana sangat besar. Karena perang antara dua negara sekarang ini dipastikan meluas ke negara-negara lain di kawasan atau bahkan jauh hingga ke luar Timur Tengah.

Belum lagi dampak ekonomi, politik, dan ketegangan sektarian bakal menggoyang kestabilan global. Berperang dengan Iran, sama saj menabuh genderang perang dengan komunitas Syiah di Libanon, Irak, Yaman, dan Bahrain. Suriah pun akan ikut terlibat karena rezim Basyar al-Assad sangat dibantu oleh Iran ketika menumpas pemberontakan di negaranya sejak 2011.

Kalaupun Iran dapat dilumpuhkan dengan cepat, Amerika akan kesulitan mencari musuh bersama baru dan ditakuti oleh Arab Saudi dan Israel, dua sekutu utama Amerika di Timur Tengah.

Alhasil, Trump perlu mencari cara untuk menjaga wibawa Amerika terlanjur tercoreng lantaran Iran nekat menembak jatuh pesawat mata-mata nirawaknya Kamis lalu.        

Haji dan ironi Saudi

Haji mengajarkan penghambaan, tunduk merendah, dan bersujud di hadapan Allah dan Kabah, rumah Allah pertama di muka Bumi. Tapi Arab Saudi malah berlaku sombong: menegakkan bangunan-bangunan jangkung berdampingan dengan Masjid Al-Haram. Alhasil, Kabah kelihatan kerdil dikangkangi semisal Menara Zamzam.

Peta Selat Hormuz, Iran. (Al-Jazeera)

Raja Salman setujui penempatan pasukan Amerika di Arab Saudi

Pasukan Garda Revolusi Iran telah menahan kapal tanker Stena Impero, milik Swedia dan berbendera Inggris saat melintas di Selat Hormuz.

Mobil Peugeot berseliweran di sekitar Menara Azadi di jantung Ibu Kota Teheran, Iran, Juni 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Trump perintahkan serang Iran tapi dibatalkan tiba-tiba

Penyerbuan sudah berjalan di tahap awal. Jet-jet tempur telah terbang menuju target dan kapal-kapal perang sudah dalam keadaan siaga. Tapi belum ada peluru kendali ditembakkan.

Palestina negara ilusi

Israel adalah sebuah negara teokrasi versi kaum Yahudi Zionis. Karena itu, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah bagian dari keimanan.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR