tajuk

Arogansi Erdogan dan karut marut Suriah

Serbuan Turki ini kian membuktikan karut marut di Suriah sejak pemberontakan meletup delapan tahun lalu memang akibat campur tangan asing.

14 Oktober 2019 12:21

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan benar-benar arogan. Demi kepentingan domestiknya, menumpas pemberontakan Kurdi, dia memerintahkan pasukannya menyerbu wilayah timur laut Suriah merupakan basis penduduk Kurdi.

Tindakan Erdogan ini tentu saja melanggar hukum internasional lantaran menyerang wilyah negara lain berdaulat. Apa yang dilakoni Erdogan mirip kelakuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dengan dalih memberantas terorisme mengancam kepentingan dan warga negaranya, Israel tiga kali menyerbu Jalur Gaza.

Serbuan Turki ini kian membuktikan karut marut di Suriah sejak pemberontakan meletup delapan tahun lalu memang akibat campur tangan asing. Ketika itu sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, dan Turki berkepentingan menyokong pemberontak, termasuk ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta Al-Qaidah, supaya rezim Presiden Basyar al-Assad sokongan Iran tumbang.

ISIS dan Al-Qaidah menjadi dua kelompok pemberontak paling kuat waktu itu. Bahkan ISIS dibiarkan menjadi sangat kuat hingga akhirnya pada pertengahan 2014 menguasai setengah wilayah Suriah dan sepertiga Irak. Bahkan pada Juni tahun itu, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan berdirinya negara Islam global (khilafah) dengan dia sebagai khalifah.

Negara-negara penyokong pemberontak itu baru berkomitmen menumpas ISIS setahun kemudian. Amerika mulai menyerang basis-basis ISIS sehabis wartawannya, James Foley, pada Agustus 2015 disembelih. Turki juga ikut lantaran ISIS mulai getol melancarkan serangan bunuh diri di Istanbul. Arab Saudi mundur teratur setelah Rusia melakukan intervensi langsung setelah pesawat sipilnya meledak di udara karena bom ISIS.

Sila baca: Komitmen setengah hati perangi ISIS

Turki sangat berkepentingan membela ISIS. Sebab mereka memanfaatkan milisi ini buat memerangi suku Kurdi di utara Suriah, berniat mendirikan negara sendiri. Ankara meyakini kalau Kurdi sudah memiliki negara, maka wilayah itu bakal menjadi basis buat membantu pemberontak Kurdi berada di Provinsi Diyarbakir, tenggara Turki.

Karena itulah, Turki membiarkan jihadis-jihadis ISIS bolak balik di daerah perbatasannya dengan Suriah. Bahkan sejumlah laporan mengungkapkan Erdogan membiarkan transaksi minyak dan benda-benda purbakala hasil jarahan ISIS dilakoni di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

Setelah tahun lalu ISIS terpojok, di Suriah dan Irak, situasi di negara Syam itu sudah kalem. Assad sejatinya sudah menang. Raqqah di Suriah dan Mosul di Irak - dua kota menjadi ibu kota ISIS - sudah direbut lagi oleh pasukan pemerintah masing-masing.

Namun Turki kembali berulah. Setelah Presiden Donald Trump menarik pasukannya dari utara Suriah - ketika pemberontakan terjadi membantu pasukan Kurdi menghadapi ISIS - Erdogan sejak Rabu pekan lalu memerintahkan bala tentaranya menyerbu wilayah Kurdi. Dia menegaskan akan masuk sejauh 30-35 kilometer ke dalam wilayah Suriah.

Erdogan beralasan penumpasan gerakan separatis Kurdi di utara Suriah untuk memberikan zona penyangga nantinya ditempat penduduk sipil sebelumnya mengungsi. Tapi kenyataannya jihadis-jihadis ISIS dan kerabat mereka mulai kabur dari kamp dan tahanan. Milisi ini siap bangkit lagi dan menebar ancaman ke seluruh dunia.

Turki sekali lagi membikin Suriah karut marut.

 

 

 

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.

Selamat tinggal Palestina

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Erdogan ubah lagi museum bekas gereja jadi masjid

Museum di Chora itu tadinya Gereja Yunani Ortodoks St. Saviour, peninggalan kerajaan Byzantium

Perlukah Indonesia berdamai dengan Israel?

Sapri Sale, penulis kamus Indonesia Ibrani dan Ibrani-Indonesia pertama, berkontribusi untuk menjembatani warga Indonesia dan Israel ingin mengetahui kehidupan masing-masing negara lewat bahasa.





comments powered by Disqus